Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan keutamaan membaca Al-Qur'an dengan suara yang indah dan merdu. Hal ini bukan berarti membaca dengan nada-nada lagu yang melalaikan, tetapi membaca dengan tartil, khusyuk, dan memperindah suara sesuai kaidah tajwid. Allah sangat menyukai suara indah yang digunakan untuk melantunkan firman-Nya, sebagaimana Dia mendengarkan bacaan Nabi-Nya dengan penuh perhatian.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab hadits (sesuai riwayat Shahih Muslim no. 792):
حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، قَالاَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: "مَا أَذِنَ اللَّهُ لِشَىْءٍ مَا أَذِنَ لِنَبِيٍّ يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ"
Makna hadits: Allah tidak mendengarkan sesuatu (dengan penuh perhatian dan keridhaan) seperti Dia mendengarkan (bacaan) Nabi yang memperindah suaranya dengan Al-Qur'an.
Hadits pendukung dari Shahih Al-Bukhari:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالْقُرْآنِ"
Artinya: "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak memperindah suaranya dengan (membaca) Al-Qur'an." (HR. Al-Bukhari no. 7527)
Kaitan dengan ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "يَتَغَنَّى" di sini adalah membaca dengan suara yang indah dan merdu, serta merenungkan maknanya. Beliau menukil dari para ulama bahwa yang dimaksud bukanlah membaca dengan lagu-lagu yang berlebihan (seperti nyanyian) yang keluar dari adab membaca Al-Qur'an.
- Imam Ibn Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa "التَّغَنِّي" yang terpuji adalah membaca dengan suara yang bagus dan tartil, bukan sekedar melagukan tanpa memperhatikan hukum tajwid dan makna.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Makna "أَذِنَ" (mendengarkan)
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa "al-idzn" di sini bermakna mendengarkan dengan penuh perhatian dan keridhaan, bukan sekedar mendengar secara fisik. Ini menunjukkan betapa Allah mencintai suara merdu yang digunakan untuk membaca Al-Qur'an. Sebagaimana disebutkan dalam hadits lain bahwa Allah mendengarkan bacaan Nabi ﷺ dengan penuh perhatian, bahkan disebutkan bahwa Nabi ﷺ pernah membaca Al-Qur'an di hadapan para jin dan mereka mendengarkannya dengan khusyuk.
2. Makna "يَتَغَنَّى بِالْقُرْآنِ"
Para ulama berbeda pendapat tentang makna "يَتَغَنَّى" dalam hadits ini:
- Pendapat pertama (dipilih oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan para ulama hadits): maknanya adalah membaca dengan suara yang indah dan merdu, menghiasi bacaan dengan suara yang bagus. Ini berdasarkan hadits lain: "زَيِّنُوا الْقُرْآنَ بِأَصْوَاتِكُمْ" (Hiasilah Al-Qur'an dengan suara-suara kalian).
- Pendapat kedua: maknanya adalah merasa cukup dengan Al-Qur'an dan tidak membutuhkan selainnya. Ini adalah pendapat yang diriwayatkan dari sebagian ulama seperti Al-Khattabi, namun pendapat pertama lebih kuat karena banyak dalil yang mendukungnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa memperindah suara dalam membaca Al-Qur'an adalah perkara yang disunnahkan, selama tidak keluar dari kaidah tajwid dan tidak menyerupai nyanyian yang melalaikan. Beliau menegaskan bahwa membaca dengan suara yang bagus akan lebih meresap ke dalam hati dan lebih membantu kekhusyukan.
3. Adab membaca Al-Qur'an dengan suara indah
Para ulama menegaskan bahwa memperindah suara dalam membaca Al-Qur'an harus tetap dalam koridor:
- Memperhatikan hukum tajwid (makhraj, sifat huruf, mad, ghunnah, dll.)
- Tidak berlebihan dalam melagukan sehingga keluar dari kaidah bacaan
- Tidak meniru gaya nyanyian yang melalaikan
- Tetap khusyuk dan merenungkan makna ayat yang dibaca
Imam Asy-Syafi'i pernah ditanya tentang hukum membaca Al-Qur'an dengan suara yang dilagukan, beliau menjawab bahwa hal itu boleh selama tidak keluar dari adab-adab membaca Al-Qur'an dan tidak berlebihan.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu memiliki suara yang sangat merdu dalam membaca Al-Qur'an. Suatu ketika, Nabi ﷺ melewati rumahnya dan mendengar beliau membaca Al-Qur'an di malam hari. Nabi ﷺ berhenti dan mendengarkan bacaannya dengan penuh perhatian. Keesokan harinya, Nabi ﷺ bersabda kepadanya:
"يَا أَبَا مُوسَى، لَقَدْ أُعْطِيتَ مِزْمَارًا مِنْ مَزَامِيرِ آلِ دَاوُدَ"
Artinya: "Wahai Abu Musa, sungguh engkau telah diberikan salah satu seruling (suara merdu) dari seruling-seruling keluarga Daud." (HR. Al-Bukhari no. 5048 dan Muslim no. 793)
Abu Musa berkata: "Seandainya aku tahu bahwa engkau mendengarkan bacaanku, niscaya aku akan memperindahnya lebih lagi untukmu."
Kisah ini menunjukkan bahwa memperindah suara dalam membaca Al-Qur'an adalah perkara yang dicintai oleh Nabi ﷺ dan para sahabat. Suara yang merdu akan membuat orang yang mendengarnya semakin khusyuk dan tersentuh hatinya.
Kesimpulan Praktis
- Bersungguh-sungguhlah memperindah suara saat membaca Al-Qur'an, karena Allah mendengarkan bacaan hamba-Nya dengan penuh perhatian ketika ia membaca dengan suara yang indah.
- Jaga adab dan tajwid dalam membaca Al-Qur'an. Memperindah suara tidak boleh mengorbankan kebenaran bacaan.
- Jangan berlebihan dalam melagukan bacaan hingga keluar dari kaidah atau menyerupai nyanyian yang melalaikan.
- Latih dan perbaiki suara untuk membaca Al-Qur'an, karena ini termasuk ibadah yang dicintai Allah.
- Dengarkan bacaan Al-Qur'an dari qari' yang baik untuk belajar dan menikmati keindahan bacaan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.