Penjelasan Hadits Shahih Muslim No. 791
Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memerintahkan kita untuk senantiasa menjaga dan mengulang-ulang hafalan Al-Qur'an, karena hafalan Al-Qur'an itu sangat cepat hilang dari ingatan—seperti unta yang lepas dari tali ikatannya. Nabi ﷺ juga membenci ucapan "aku lupa ayat sekian" karena itu menyiratkan kelalaian, dan membolehkan ucapan "aku dilupakan" atau "aku lupa" tanpa menyalahkan diri secara berlebihan. Intinya: rutinkan muraja'ah (mengulang hafalan) agar Al-Qur'an tetap melekat di hati.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits utama — diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qashar-nya, Bab Perintah untuk Memelihara Al-Qur'an dan Kebencian Mengatakan "Aku Lupa Ayat Sekian":
تَعَاهَدُوا هَذَا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَلُّتًا مِنَ الإِبِلِ فِي عُقُلِهَا
"Peliharalah Al-Qur'an ini, demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya Al-Qur'an lebih mudah lepas dari ingatan daripada unta yang terikat."
Ayat Al-Qur'an yang relevan — QS. Al-Hijr [15]: 9:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ
"Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya."
Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung perintah muraja'ah dan larangan lalai dari Al-Qur'an. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menukil makna serupa ketika membahas keutamaan menghafal dan mengulang Al-Qur'an. Ibn Katsir dalam tafsirnya atas QS. Al-Hijr [15]: 9 menegaskan bahwa Allah menjaga Al-Qur'an, dan salah satu bentuk penjagaan itu adalah melalui hati para huffazh yang mengulang-ulangnya.
Penjelasan Rinci
Makna "تَعَاهَدُوا" (ta'ahadu): Para ulama menjelaskan bahwa kata ini berarti saling menjaga, mengulang-ulang, dan memperhatikan secara rutin. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa maknanya adalah "hendaklah kalian senantiasa mengulang dan memperhatikannya", bukan sekadar menyimpannya tanpa diulang.
Perumpamaan unta yang terikat: Nabi ﷺ menyerupakan Al-Qur'an dengan unta yang diikat. Unta yang terikat bisa lepas kapan saja jika talinya tidak diperiksa. Demikian pula hafalan Al-Qur'an—jika tidak diulang, ia akan cepat hilang. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menjelaskan bahwa ilmu itu seperti binatang buruan; jika tidak diikat, ia akan lepas.
Larangan mengatakan "aku lupa ayat sekian": Dalam riwayat lain di Shahih Muslim (masih dalam bab yang sama), Nabi ﷺ membenci ucapan seseorang "نَسِيتُ آيَةَ كَذَا وَكَذَا" (aku lupa ayat ini dan itu), dan beliau mengarahkan agar mengatakan "نُسِّيتُ" (aku dibuat lupa). Ibnu Hajar menjelaskan bahwa ucapan pertama menyiratkan kelalaian dan meremehkan, sedangkan yang kedua menisbatkan lupa kepada ketentuan Allah tanpa kesan menyepelekan.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar: Sebagian ulama seperti Imam an-Nawawi memandang larangan ini bersifat tanzih (makruh), bukan haram, karena tujuannya mendidik adab. Sementara Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'iful Ma'arif menekankan bahwa meninggalkan muraja'ah hingga lupa adalah bentuk kelalaian yang tercela. Pendapat yang paling kuat: larangan itu bersifat adab dan tarbiyah, dan yang wajib adalah berusaha menjaga dengan muraja'ah rutin.
Hikmah: Al-Qur'an adalah kalam Allah yang paling mulia. Allah sendiri menjamin penjagaannya (QS. Al-Hijr [15]: 9), namun hamba diperintahkan berusaha—salah satunya dengan mengulang hafalan. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan Al-Qur'an menuntut kesungguhan, bukan sekadar klaim cinta.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu—sahabat yang meriwayatkan hadits ini—adalah salah satu sahabat yang suaranya indah dalam membaca Al-Qur'an. Nabi ﷺ pernah memuji bacaan beliau. Beliau memahami betul bahwa hafalan Al-Qur'an butuh kesungguhan. Para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Sufyan ats-Tsauri dikenal mengulang-ulang hafalan mereka setiap malam. Abdullah bin al-Mubarak pernah berkata bahwa majelis ilmu yang paling utama adalah majelis yang mengulang Al-Qur'an. Hikmahnya: para salaf tidak pernah merasa cukup dengan hafalan yang sudah ada, tetapi terus mengulang hingga akhir hayat.
Kesimpulan Praktis
- Rutinkan muraja'ah harian — tetapkan waktu khusus setiap hari untuk mengulang hafalan Al-Qur'an, meski sedikit.
- Jangan tinggalkan Al-Qur'an dalam waktu lama — karena ia lebih cepat lepas daripada unta yang terikat.
- Perbaiki adab ucapan — hindari mengatakan "aku lupa ayat sekian" dengan nada menyepelekan; katakan "aku dibuat lupa" atau "aku lupa" dengan penuh tawadhu.
- Muliakan Al-Qur'an — dengan membacanya, menghafalnya, dan mengamalkannya, bukan hanya menyimpannya di rak atau ponsel.
- Bersabar dan istiqamah — menjaga hafalan adalah perjuangan seumur hidup, dan Allah menjamin penjagaan bagi yang bersungguh-sungguh.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.