Penjelasan Hadits Muslim No. 772 tentang Anjuran memanjangkan bacaan shalat malam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ pernah shalat malam dengan bacaan yang sangat panjang, membaca surat Al-Baqarah, An-Nisa', dan Ali 'Imran dalam satu rakaat, serta membaca dengan tartil (perlahan). Ketika melewati ayat tasbih beliau bertasbih, melewati ayat doa beliau berdoa, dan melewati ayat perlindungan beliau memohon perlindungan. Hadits ini juga menunjukkan bahwa rukuk, berdiri setelah rukuk, dan sujud beliau hampir sama panjangnya dengan bacaan berdirinya. Ini menjadi dalil disunnahkannya memperpanjang bacaan dalam shalat malam.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Disunnahkan Memperpanjang Bacaan dalam Shalat Malam, dari sahabat Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan perintah shalat malam dan membaca dengan tartil:

QS. Al-Muzzammil [73]: 4

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

Terjemahan: "Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil (perlahan dan jelas)."

QS. Al-Isra' [17]: 79

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

Terjemahan: "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

Kaitan dengan ulama: Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan hadits ini sebagai dalil disunnahkannya memperpanjang bacaan dalam shalat malam dan disunnahkannya membaca dengan tartil serta berdoa/tasbih saat melewati ayat-ayat yang sesuai. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menyebutkan bahwa membaca dengan tartil dan memperhatikan makna ayat adalah sunnah. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa tartil berarti membaca dengan tenang, jelas, dan merenungi maknanya.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki banyak pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Disunnahkannya memperpanjang bacaan dalam shalat malam.

Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan kebolehan dan keutamaan memperpanjang bacaan dalam shalat malam, bahkan sampai membaca beberapa surat panjang dalam satu rakaat. Ini berlaku bagi yang mampu dan tidak memberatkan dirinya atau makmumnya.

Kedua: Membaca dengan tartil dan merenungi makna.

Nabi ﷺ membaca dengan "mutarassilan" (perlahan dan jelas). Ibn Katsir menjelaskan bahwa tartil adalah membaca dengan tenang, memperhatikan huruf-hurufnya, dan merenungi maknanya. Ini sesuai dengan perintah Allah dalam QS. Al-Muzzammil [73]: 4.

Ketiga: Berinteraksi dengan ayat yang dibaca.

Ketika Nabi ﷺ melewati ayat tasbih, beliau bertasbih; melewati ayat doa, beliau berdoa; melewati ayat perlindungan, beliau memohon perlindungan. Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah sunnah yang dianjurkan bagi orang yang shalat sendirian. Adapun dalam shalat berjamaah, hendaknya memperhatikan keadaan makmum.

Keempat: Panjangnya rukuk, i'tidal, dan sujud yang seimbang dengan bacaan.

Dalam hadits ini, rukuk Nabi ﷺ hampir sama panjang dengan berdirinya, demikian pula i'tidal dan sujud. Ini menunjukkan kesempurnaan dan kekhusyukan shalat beliau. Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa panjangnya rukuk dan sujud menunjukkan betapa beliau merenungi dan menghayati shalat.

Kelima: Bacaan dalam shalat malam tidak harus berurutan sesuai mushaf.

Nabi ﷺ membaca Al-Baqarah, kemudian An-Nisa', kemudian Ali 'Imran. Ini menunjukkan bahwa membaca surat tidak harus berurutan dari awal mushaf ke belakang. Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan bahwa ini adalah dalil kebolehan membaca surat tidak berurutan dalam satu rakaat.

Keenam: Perbedaan riwayat tentang bacaan "Sami'allahu liman hamidah".

Dalam riwayat Jarir ada tambahan "Rabbana lakal hamd". Ini menunjukkan bahwa keduanya bisa digabungkan: "Sami'allahu liman hamidah, Rabbana lakal hamd". Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah sunnah dalam i'tidal.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhu, seorang sahabat yang dipercaya Nabi ﷺ untuk menyimpan rahasia, suatu malam shalat di belakang Nabi ﷺ. Ia menyangka Nabi ﷺ akan rukuk setelah membaca seratus ayat, tetapi ternyata beliau terus membaca. Ia menyangka Nabi ﷺ akan rukuk setelah menyelesaikan satu surat, tetapi beliau melanjutkan ke surat berikutnya. Hudzaifah terus mengikuti dengan penuh kekaguman, menyaksikan bagaimana Nabi ﷺ membaca dengan tartil, bertasbih saat melewati ayat tasbih, berdoa saat melewati ayat doa, dan memohon perlindungan saat melewati ayat perlindungan. Rukuk, i'tidal, dan sujud beliau pun hampir sama panjangnya dengan bacaan beliau. Hudzaifah menyaksikan betapa sempurna dan khusyuknya shalat Nabi ﷺ.

Kisah ini menunjukkan kepada kita betapa Nabi ﷺ sangat menghayati setiap ayat yang beliau baca, dan betapa beliau memperpanjang shalat malamnya sebagai bentuk ibadah dan kedekatan kepada Allah. Para salafus shalih seperti Al-Hasan al-Bashri, Sufyan ats-Tsauri, dan Abdullah bin al-Mubarak juga dikenal memperpanjang shalat malam mereka, mengikuti jejak Nabi ﷺ.

Kesimpulan Praktis

  1. Perpanjanglah bacaan dalam shalat malam sesuai kemampuan, karena ini adalah sunnah Nabi ﷺ.
  2. Bacalah dengan tartil — perlahan, jelas, dan merenungi maknanya.
  3. Berinteraksilah dengan ayat — bertasbih saat ayat tasbih, berdoa saat ayat doa, dan memohon perlindungan saat ayat perlindungan, terutama saat shalat sendirian.
  4. Seimbangkan panjangnya rukuk, i'tidal, dan sujud dengan bacaan, sebagai bentuk kekhusyukan.
  5. Tidak harus berurutan dalam membaca surat dalam satu rakaat.
  6. Gabungkanlah antara "Sami'allahu liman hamidah" dan "Rabbana lakal hamd" dalam i'tidal.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?