Penjelasan Hadits Muslim No. 770 tentang Doa pembuka shalat malam Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan doa pembuka yang dibaca Nabi ﷺ ketika shalat malam (tahajjud), yaitu memohon kepada Allah agar diberi petunjuk kepada kebenaran ketika manusia berselisih pendapat. Doa ini mengajarkan kita untuk selalu meminta hidayah, terutama dalam masalah yang diperselisihkan, dan menyerahkan keputusan akhir kepada Allah Yang Maha Mengetahui.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Doa dalam Shalat Malam dan Qiyamnya (no. 770), dari jalur Abu Salamah bin Abdurrahman bin 'Auf dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha.

Teks doa Nabi ﷺ:

اللَّهُمَّ رَبَّ جِبْرَائِيلَ وَمِيكَائِيلَ وَإِسْرَافِيلَ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Terjemahan:

"Ya Allah, Tuhan Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata; Engkau memutuskan di antara hamba-hamba-Mu mengenai perbedaan yang mereka miliki. Tunjukilah aku dengan izin-Mu dalam pandangan yang berbeda tentang Kebenaran, karena Engkaulah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki ke Jalan yang Lurus."

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan:

QS. Al-Baqarah [2]: 213

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ ۚ وَمَا اخْتَلَفَ فِيهِ إِلَّا الَّذِينَ أُوتُوهُ مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۖ فَهَدَى اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا لِمَا اخْتَلَفُوا فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِهِ ۗ وَاللَّهُ يَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ

Terjemahan: "Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab dengan benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus."

Hadits terkait:

Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, Nabi ﷺ juga membaca doa lain dalam shalat malam, sebagaimana dalam Shahih Muslim dan Shahih Bukhari, di antaranya doa "Allahumma rabbana lakal hamd..." dan doa-doa lainnya. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membuka shalat malam dengan berbagai doa, dan doa dalam hadits ini adalah salah satunya.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa ini mengandung tauhid yang sangat agung, menyebut nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, serta memohon hidayah dalam perkara yang diperselisihkan.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa) menyebutkan bahwa doa ini menunjukkan keutamaan memohon hidayah dan pentingnya meminta pertolongan Allah dalam memahami kebenaran.
  • Ibn Katsir dalam tafsirnya terhadap QS. Al-Baqarah [2]: 213 menjelaskan bahwa Allah memberi petunjuk kepada orang beriman tentang kebenaran yang diperselisihkan dengan izin-Nya.

Penjelasan Rinci

Makna umum doa ini:

Doa ini dibaca Nabi ﷺ sebagai pembuka shalat malam (tahajjud). Di dalamnya terdapat beberapa poin penting:

  1. Tawassul dengan nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya:
  • "Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil" — Allah adalah Tuhan para malaikat mulia, yang mengurus wahyu, rezeki, dan peniupan sangkakala. Ini menunjukkan kekuasaan Allah atas segala urusan.
  • "Fathir as-samawati wal-ardh" — Pencipta langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya.
  • "Alim al-ghaib wa asy-syahadah" — Yang mengetahui segala yang tersembunyi dan yang tampak.
  1. Pengakuan bahwa Allah adalah Hakim yang adil:
  • "Anta tahkumu baina 'ibadika fima kanu fihi yakhtalifun" — Engkau memutuskan di antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang mereka perselisihkan. Ini mengajarkan bahwa perselisihan manusia adalah kenyataan, dan hanya Allah yang mampu memberi keputusan yang benar.
  1. Permohonan hidayah:
  • "Ihdini lima ikhtulifa fihi minal haqqi bi idhnika" — Tunjukilah aku kepada kebenaran dalam perkara yang diperselisihkan, dengan izin-Mu. Ini adalah permohonan agar Allah menunjukkan jalan yang benar ketika manusia berbeda pendapat.
  • "Innaka tahdi man tasya'u ila shiratin mustaqim" — Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus.

Bagaimana ulama memahami dan menerapkannya:

  • Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa doa ini mengandung pengagungan terhadap Allah dan pengakuan akan kelemahan manusia dalam mengetahui kebenaran. Oleh karena itu, seorang hamba harus selalu memohon hidayah, terutama dalam masalah yang diperselisihkan.
  • Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menekankan bahwa hidayah adalah karunia Allah, dan doa ini adalah sarana untuk memohonnya. Beliau juga mengingatkan bahwa perselisihan dalam masalah agama harus dikembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
  • Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin menyebutkan bahwa doa ini menunjukkan pentingnya meminta petunjuk dalam semua keadaan, karena manusia sering keliru dalam memahami kebenaran.
  • Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat QS. Al-Baqarah [2]: 213 dan doa ini mengajarkan bahwa Allah memberi hidayah kepada orang beriman untuk memahami kebenaran yang diperselisihkan, dan itu adalah karunia besar.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama yang tercantum dalam daftar mengenai keutamaan doa ini dan kapan dibacanya. Mereka sepakat bahwa doa ini dibaca sebagai pembuka shalat malam, dan hukumnya adalah sunnah (mustahab). Yang paling kuat menurut dalil adalah bahwa doa ini dibaca sebelum membaca Al-Fatihah, sebagaimana disebutkan dalam hadits.

Story Telling

Diceritakan bahwa Abu Salamah bin Abdurrahman bin 'Auf (salah satu tabi'in) bertanya kepada 'Aisyah radhiyallahu 'anha tentang doa pembuka shalat malam Nabi ﷺ. 'Aisyah, yang merupakan istri Nabi ﷺ dan paling mengetahui kebiasaan beliau di rumah, menjawab dengan doa yang sangat indah ini. Ini menunjukkan betapa pentingnya bertanya kepada orang yang berilmu, dan betapa 'Aisyah adalah sumber ilmu yang utama bagi umat Islam.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan 'Aisyah dalam meriwayatkan doa-doa Nabi ﷺ, dan bahwa para tabi'in seperti Abu Salamah selalu berusaha meneladani Nabi ﷺ dalam ibadahnya.

Hikmah: Kita diajarkan untuk selalu memohon hidayah kepada Allah, terutama ketika menghadapi perselisihan. Dan kita juga diajarkan untuk bertanya kepada ahlinya dalam masalah agama.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah doa ini ketika shalat malam (tahajjud) sebagai pembuka, sebelum membaca Al-Fatihah.
  2. Mohonlah hidayah kepada Allah dalam setiap keadaan, terutama ketika menghadapi perbedaan pendapat atau kebingungan dalam memahami kebenaran.
  3. Sadarilah bahwa perselisihan adalah kenyataan, dan hanya Allah yang mampu memberi keputusan yang benar. Maka kembalikanlah segala perselisihan kepada Al-Qur'an dan Sunnah dengan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.
  4. Teladanilah Nabi ﷺ dalam berdoa dengan menyebut nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya, serta mengakui kelemahan diri di hadapan-Nya.
  5. Bertanyalah kepada orang yang berilmu ketika kita tidak mengetahui suatu perkara, sebagaimana Abu Salamah bertanya kepada 'Aisyah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?