Penjelasan Hadits Muslim No. 760 tentang Keutamaan ibadah Ramadan dan Lailatul Qadr menghapus dosa

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah kabar gembira yang sangat besar dari Nabi ﷺ. Beliau menjanjikan ampunan dosa-dosa yang telah lalu bagi siapa saja yang berpuasa Ramadhan dan menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan dua syarat utama: iman (meyakini dengan penuh keyakinan) dan ihtisab (hanya mengharap pahala dari Allah, bukan karena riya atau tujuan duniawi). Ini menunjukkan betapa agungnya keutamaan ibadah di bulan Ramadhan, terutama puasa dan shalat di malam harinya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Anjuran untuk Melaksanakan Shalat di Bulan Ramadan (no. 760), dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya.

Selain itu, terdapat ayat yang senada tentang keutamaan Lailatul Qadar, yaitu firman Allah Ta'ala:

QS. Al-Qadr [97]: 1-3

إِنَّا أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan."

Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar adalah malam yang penuh keberkahan, di mana amal ibadah pada malam itu lebih baik daripada ibadah selama seribu bulan yang tidak mengandung malam tersebut.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa kunci utama dalam hadits ini ada pada dua kata kunci: iman dan ihtisab.

Pertama: Iman. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "imanan" di sini adalah membenarkan dengan keyakinan penuh akan kewajiban puasa Ramadhan dan keutamaan shalat malam (tarawih) serta Lailatul Qadar. Ini bukan sekadar ikut-ikutan atau karena tradisi, tetapi karena keyakinan bahwa Allah mewajibkan puasa dan mensyariatkan shalat malam.

Kedua: Ihtisab. Maknanya adalah mengharap pahala semata-mata dari Allah, tidak mengharap pujian manusia, tidak riya, dan tidak mencari keuntungan duniawi. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menekankan bahwa seseorang yang berpuasa atau shalat malam tetapi tujuannya agar dipuji orang lain, maka ia tidak termasuk dalam golongan yang disebut dalam hadits ini.

Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa puasa yang digabungkan dengan iman dan ihtisab akan menghapus dosa-dosa kecil yang telah lalu. Adapun dosa besar, maka ia membutuhkan taubat yang khusus. Ini adalah pemahaman yang dipegang oleh para ulama, sebagaimana diriwayatkan dari para salaf seperti Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah bahwa ampunan yang disebut dalam hadits-hadits keutamaan amal adalah untuk dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar harus diiringi taubat nasuha.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Bahjatu Qulub al-Abrar menambahkan bahwa syarat iman dan ihtisab ini juga mengandung makna bahwa ibadah tersebut harus dilaksanakan sesuai tuntunan Nabi ﷺ, bukan dengan cara yang dibuat-buat atau bid'ah. Karena ibadah yang tidak sesuai sunnah tidak akan diterima meskipun pelakunya ikhlas.

Story Telling

Ada kisah indah tentang semangat para sahabat dalam menghidupkan malam Ramadhan. Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, ia menceritakan bahwa pada suatu malam Rasulullah ﷺ shalat di masjid, lalu diikuti oleh sebagian sahabat. Pada malam berikutnya, semakin banyak yang mengikuti. Pada malam ketiga atau keempat, orang-orang sudah berkumpul tetapi Rasulullah ﷺ tidak keluar. Ketika pagi tiba, beliau bersabda: "Sungguh aku melihat apa yang kalian lakukan, dan tidak ada yang menghalangiku untuk keluar kepada kalian kecuali aku khawatir shalat itu diwajibkan atas kalian." (HR. Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat bersemangat menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat berjamaah, dan Nabi ﷺ sangat memperhatikan kemaslahatan umatnya. Beliau tidak ingin ibadah sunnah menjadi terkesan wajib sehingga memberatkan umatnya. Ini juga menjadi dalil bahwa shalat tarawih berjamaah di masjid adalah sunnah yang dianjurkan, sebagaimana dipraktikkan oleh para sahabat dan tabi'in setelahnya, seperti yang dijelaskan oleh Imam an-Nawawi.

Kesimpulan Praktis

  1. Perbaiki niat dalam berpuasa dan shalat malam. Jadikan iman kepada Allah dan harapan pahala dari-Nya sebagai pendorong utama, bukan karena kebiasaan atau gengsi sosial.
  2. Jaga kualitas ibadah dengan mempelajari tuntunan Nabi ﷺ dalam berpuasa dan shalat malam, agar ibadah kita sesuai sunnah.
  3. Bersemangat mencari Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan, karena keutamaannya sangat agung.
  4. Jangan lupa taubat dari dosa besar, karena ampunan dalam hadits ini untuk dosa-dosa kecil. Dosa besar membutuhkan taubat yang tulus.
  5. Perbanyak doa di malam-malam Ramadhan, terutama di sepertiga malam terakhir.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?