Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah dalil utama tentang keutamaan shalat malam di bulan Ramadhan, yang kita kenal sebagai shalat Tarawih. Rasulullah ﷺ menjanjikan ampunan dosa-dosa yang telah lalu bagi siapa saja yang menegakkan shalat malam di bulan Ramadhan dengan dua syarat utama: iman (meyakini kebenarannya) dan ihtisab (hanya mengharap pahala dari Allah, bukan riya atau tujuan duniawi). Ini adalah kabar gembira yang sangat besar dari Nabi ﷺ, menunjukkan betapa mulianya ibadah ini di sisi Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Imam Muslim:
Teks hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Anjuran untuk Melakukan Shalat Malam di Bulan Ramadan (Tarawih), no. 759. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya dari jalur lain.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman tentang keutamaan orang-orang yang shalat malam:
وَكَانُوا۟ يَقُولُونَ رَبَّنَا ٱصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
"Dan mereka berkata: 'Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, sesungguhnya azab itu adalah kebinasaan yang kekal.'" (QS. Al-Furqan [25]: 65)
Ayat ini menggambarkan sifat hamba-hamba Allah yang shalih, yang di antaranya adalah mereka yang menghabiskan malam untuk beribadah kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa shalat malam adalah ciri khas orang-orang yang bertakwa.
Kaitan dengan Ulama:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Malik bin Anas dalam Al-Muwaththa' dari jalur Ibnu Syihab az-Zuhri. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan makna "imanan" dan "ihtisaban" secara rinci, sebagaimana akan kita bahas.
Penjelasan Rinci
1. Makna "Qama Ramadhan" (قَامَ رَمَضَانَ)
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "qama Ramadhan" adalah menghidupkan malam-malam bulan Ramadhan dengan shalat. Ini mencakup shalat Tarawih yang dilakukan berjamaah di masjid maupun sendirian. Beliau menegaskan bahwa yang dimaksud adalah shalat malam secara khusus, bukan sekadar terjaga dari tidur tanpa shalat.
2. Makna "Imanan" (إِيمَانًا)
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa "imanan" artinya meyakini kebenaran apa yang dijanjikan Allah berupa pahala yang besar, dan membenarkan bahwa shalat ini adalah ibadah yang disyariatkan. Ini bukan sekadar ikut-ikutan atau karena tradisi, tetapi karena keyakinan yang kokoh terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya.
3. Makna "Ihtisaban" (اِحْتِسَابًا)
Imam an-Nawawi melanjutkan bahwa "ihtisaban" artinya mengharap pahala dari Allah semata, bukan karena ingin dilihat orang lain (riya), bukan karena mengharap pujian, dan bukan karena tujuan duniawi. Seseorang yang beribadah dengan ihtisab berarti ia mengarahkan hatinya hanya kepada Allah, mengharap balasan yang ada di sisi-Nya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa perbedaan antara "iman" dan "ihtisab" adalah: iman adalah keyakinan hati, sedangkan ihtisab adalah keikhlasan niat dan harapan akan pahala. Keduanya harus ada secara bersamaan.
4. Makna "Ghufira lahu ma taqaddama min dzanbih" (غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ)
Ini adalah janji agung dari Rasulullah ﷺ bahwa dosa-dosa yang telah lalu akan diampuni. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ampunan ini adalah untuk dosa-dosa kecil, sedangkan dosa besar membutuhkan taubat yang khusus. Ini adalah pendapat yang dipegang oleh jumhur ulama.
5. Hukum Shalat Tarawih
Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in bersepakat bahwa shalat malam di bulan Ramadhan adalah sunnah yang sangat dianjurkan. Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menghidupkan kembali shalat Tarawih berjamaah di masjid dengan bersabda: "Sebaik-baik bid'ah adalah ini" — yang beliau maksudkan adalah bid'ah secara bahasa, bukan bid'ah syar'iyyah yang tercela, karena Rasulullah ﷺ sendiri pernah melakukannya berjamaah lalu meninggalkannya karena khawatir diwajibkan.
Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan bahwa shalat Tarawih disyariatkan berjamaah, dan ini adalah ijma' (kesepakatan) para sahabat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa pada suatu malam di bulan Ramadhan, Rasulullah ﷺ keluar ke masjid dan mendapati para sahabat sedang shalat. Beliau ikut shalat bersama mereka. Pada malam kedua, orang-orang semakin banyak berkumpul, dan beliau pun ikut shalat bersama mereka. Pada malam ketiga atau keempat, masjid penuh dengan jamaah, namun Rasulullah ﷺ tidak keluar. Ketika masuk waktu Subuh, beliau bersabda:
"Aku melihat apa yang kalian lakukan. Tidak ada yang menghalangiku untuk keluar kepada kalian kecuali aku khawatir shalat itu diwajibkan atas kalian." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kisah ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ sangat mencintai shalat malam di bulan Ramadhan, namun beliau meninggalkannya karena kasih sayang kepada umatnya, agar tidak menjadi kewajiban yang memberatkan. Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menghidupkan kembali shalat Tarawih berjamaah, dan kaum muslimin terus mengamalkannya hingga hari ini.
Hikmah: Kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya sangat besar. Beliau tidak ingin memberatkan kita, tetapi beliau tetap mengajarkan kita untuk tidak meninggalkan ibadah yang mulia ini.
Kesimpulan Praktis
- Niatkan shalat Tarawih karena iman — yakini bahwa ini adalah ibadah yang disyariatkan dan memiliki keutamaan besar di sisi Allah.
- Niatkan shalat Tarawih karena ihtisab — hanya mengharap pahala dari Allah, jauhkan hati dari riya dan pujian manusia.
- Jaga konsistensi — usahakan untuk tidak meninggalkan shalat Tarawih sepanjang bulan Ramadhan, baik berjamaah di masjid maupun sendirian di rumah.
- Perbaiki kualitas shalat — tidak hanya mengejar jumlah rakaat, tetapi juga khusyuk dan tuma'ninah.
- Perbanyak doa dan dzikir di sela-sela shalat Tarawih, terutama di sepertiga malam terakhir.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.