Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan betapa besarnya karunia Allah ﷻ kepada umat Islam. Di setiap malam, ada satu waktu yang sangat istimewa (sa'ah) di mana doa seorang Muslim akan dikabulkan. Ini adalah kabar gembira yang agung, sekaligus motivasi untuk memperbanyak ibadah dan doa di malam hari. Kita dianjurkan untuk bersungguh-sungguh mencari waktu mustajab ini dengan memperbanyak doa, terutama di sepertiga malam yang terakhir.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu. Beliau mendengar langsung dari Nabi ﷺ. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab "Di Malam Hari Ada Satu Jam yang Mustajab untuk Doa" (no. 757).
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah ﷻ berfirman:
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا
"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra' [17]: 79)
Ayat ini menunjukkan keutamaan ibadah di malam hari, yang menjadi salah satu cara untuk meraih waktu mustajab tersebut.
Kaitan dengan Ulama:
Para ulama dari kalangan salaf, seperti Al-Hasan al-Bashri dan Mujahid bin Jabr, sangat menekankan keutamaan ibadah dan doa di malam hari. Mereka memahami bahwa waktu mustajab ini adalah rahasia Allah ﷻ, namun yang jelas, waktu tersebut berada di malam hari. Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya Latha'if al-Ma'arif membahas panjang lebar tentang waktu-waktu mustajab, termasuk waktu di malam hari ini, dan menguatkan bahwa waktu yang paling diharapkan adalah sepertiga malam yang terakhir.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu hadits yang penuh dengan kabar gembira. Mari kita bedah maknanya:
- "Sesungguhnya di malam hari ada satu jam": Kata "jam" (ساعة) di sini bukan berarti 60 menit, melainkan sebuah "waktu" atau "saat" tertentu. Para ulama berbeda pendapat tentang kapan persisnya waktu ini. Namun, mayoritas ulama, sebagaimana dinukil oleh Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim, menyatakan bahwa pendapat yang paling kuat adalah bahwa waktu tersebut berada di sepertiga malam yang terakhir. Ini berdasarkan hadits-hadits lain yang menyebutkan bahwa Allah ﷻ turun ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan menyeru, "Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri."
- "Tidak ada seorang Muslim pun yang meminta kepada Allah kebaikan dari urusan dunia dan akhirat": Ini menunjukkan syaratnya adalah:
- Menjadi seorang Muslim: Iman adalah syarat utama diterimanya amal.
- Meminta kebaikan: Doa yang dipanjatkan haruslah untuk kebaikan, baik kebaikan dunia (seperti kesehatan, rezeki halal, keluarga sakinah) maupun kebaikan akhirat (seperti ampunan dosa, kemudahan hisab, dan masuk surga). Ini juga mengisyaratkan agar kita tidak berdoa untuk hal-hal yang buruk atau memutus silaturahmi.
- "Kecuali Allah memberikannya kepadanya": Ini adalah jaminan dari Allah ﷻ. Jika seorang Muslim bertepatan dengan waktu ini, maka doanya akan dikabulkan. Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa pengabulan doa bisa dalam bentuk:
- Dikabulkan persis seperti yang diminta.
- Diganti dengan yang lebih baik baginya.
- Atau dijauhkan darinya keburukan yang setara.
- Atau disimpan untuknya sebagai pahala di akhirat.
- "Dan itu berlaku setiap malam": Ini adalah penegasan bahwa kesempatan emas ini tidak hanya satu malam saja, tetapi berulang setiap malam. Ini adalah rahmat Allah ﷻ yang sangat luas. Setiap malam, kita punya kesempatan untuk meraih waktu mustajab ini.
Pendapat Ulama tentang Waktu Tersebut:
- Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan beberapa pendapat tentang waktu ini, di antaranya: malam Nishfu Sya'ban, malam Lailatul Qadar, dan pendapat yang paling kuat adalah sepertiga malam yang terakhir. Beliau menguatkan pendapat ini dengan hadits-hadits tentang turunnya Allah ﷻ ke langit dunia.
- Imam Ibn Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari juga membahas masalah ini saat menjelaskan hadits-hadits tentang keutamaan malam. Beliau cenderung menyimpulkan bahwa waktu yang paling diharapkan adalah di akhir malam, karena banyaknya dalil yang menunjukkan keutamaannya.
Kesimpulannya, meskipun kita tidak tahu persis kapan waktunya, kita diperintahkan untuk bersungguh-sungguh mencarinya. Ini seperti mencari Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah di sepanjang malam, terutama di sepertiga terakhir, agar kita tidak luput dari waktu yang mustajab ini.
Story Telling
Dahulu, Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan tabi'in, dikenal sebagai pribadi yang sangat tekun beribadah di malam hari. Beliau sering kali menghabiskan malamnya dengan shalat, bermunajat, dan menangis karena takut kepada Allah ﷻ.
Suatu malam, beliau melewati seorang pemuda yang sedang duduk termenung dengan wajah murung. Al-Hasan bertanya, "Wahai anak muda, mengapa engkau terlihat bersedih?"
Pemuda itu menjawab, "Wahai Imam, aku telah banyak berbuat dosa, dan aku takut Allah tidak akan mengabulkan doaku."
Al-Hasan tersenyum dan berkata, "Wahai anakku, ketahuilah bahwa Allah ﷻ telah membuka pintu taubat dan doa di setiap malam. Janganlah engkau berputus asa dari rahmat Allah. Bangunlah di sepertiga malam terakhir, berdirilah menghadap Allah, dan mintalah ampunan serta kebaikan untuk duniamu dan akhiratmu. Sesungguhnya di malam hari ada satu waktu yang mustajab. Barangsiapa yang bertepatan dengan waktu itu, maka Allah akan memberikan apa yang dia minta."
Pemuda itu pun tersentuh. Sejak malam itu, ia mulai membiasakan diri untuk bangun di sepertiga malam terakhir, berdoa dan memohon ampunan kepada Allah ﷻ. Perlahan, hatinya menjadi tenang, dan hidupnya berubah menjadi lebih baik.
Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Malam adalah waktu yang sangat istimewa untuk bertaubat dan memanjatkan doa. Jangan sia-siakan kesempatan emas yang diberikan Allah setiap malam.
Kesimpulan Praktis
Berikut adalah beberapa poin yang bisa kita amalkan:
- Yakinlah dengan janji Allah ﷻ: Hadits ini adalah kabar gembira yang pasti benar. Yakinlah bahwa doa kita akan dikabulkan jika bertepatan dengan waktu mustajab ini.
- Perbanyak doa di malam hari: Jangan hanya berdoa saat shalat wajib. Perbanyaklah doa di malam hari, terutama di sepertiga malam yang terakhir.
- Fokus pada kebaikan dunia dan akhirat: Saat berdoa, mintalah kebaikan yang menyeluruh, bukan hanya untuk urusan duniawi semata. Seimbangkan antara doa untuk dunia dan akhirat.
- Bersungguh-sungguhlah mencari waktu tersebut: Karena kita tidak tahu kapan persisnya, maka perbanyaklah ibadah di sepanjang malam. Bangunlah untuk shalat tahajud, berdzikir, dan berdoa.
- Jangan berputus asa: Jika doa belum terkabul, jangan berputus asa. Bisa jadi Allah ﷻ menundanya, menggantinya dengan yang lebih baik, atau menyimpannya untuk akhirat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.