Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 756 tentang Shalat paling utama adalah yang lama berdirinya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa shalat yang paling utama adalah yang lama dalam berdiri (thuwlul qunut). Bukan sekadar banyak rakaat, tetapi kekhusyukan dan kelamaan berdiri karena bacaan yang panjang serta tadabbur. Ini menekankan kualitas daripada kuantitas, terutama dalam shalat sunnah seperti tahajud.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «أَفْضَلُ الصَّلَاةِ طُولُ الْقُنُوتِ»

(رواه مسلم في صحيحه، كتاب صلاة المسافرين وقصرها، باب أفضل الصلاة طول القنوت، رقم ٧٥٦)

Ayat terkait:

Allah ﷻ berfirman:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ . قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا . نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلًا . أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

(QS. Al-Muzzammil [73]: 1-4)

Artinya: "Wahai orang yang berselimut! Bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sedikit darinya, yaitu seperduanya, atau kurangi sedikit darinya, atau lebihi sedikit darinya. Bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil."

Ayat ini memerintahkan untuk memperpanjang berdiri dan bacaan dalam shalat malam, sejalan dengan hadits di atas.

Penjelasan ulama:

  • Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim, jilid 6, hlm. 54) berkata: "Makna qunut di sini adalah berdiri. Maksudnya, shalat yang paling utama adalah yang paling lama berdirinya. Ini menunjukkan keutamaan memperpanjang bacaan Al-Qur'an dalam shalat."
  • Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fath al-Bari, jilid 2, hlm. 215) menambahkan: "Yang dimaksud dengan thuwlul qunut adalah lamanya berdiri, baik dalam shalat fardhu maupun sunnah. Dalam shalat fardhu, lama berdiri lebih utama daripada banyak rukuk dan sujud, selama tidak memberatkan makmum."
  • Ibnu Rajab al-Hanbali (dalam Fath al-Bari syarh Shahih al-Bukhari, jilid 4, hlm. 251) menjelaskan: "Nabi ﷺ biasa shalat malam dengan bacaan yang panjang. Beliau membaca surah Al-Baqarah, Ali Imran, dan An-Nisa dalam satu rakaat. Itulah contoh thuwlul qunut."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menegaskan bahwa keutamaan shalat bukan terletak pada banyaknya rukuk dan sujud (rakaat), melainkan pada lamanya berdiri (qunut). Dalam istilah para ulama salaf, qunut sering berarti berdiri dalam shalat, bukan hanya doa qunut khusus. Imam al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Ibnu Mas'ud bahwa Nabi ﷺ bersabda: "أفضل الصلاة طول القنوت" (Shahih al-Bukhari no. 759, Shahih Muslim no. 756).

Makna qunut:

Al-Imam Sufyan ats-Tsauri (w. 161 H) berkata: "Qunut adalah berdiri, baik dalam shalat fardhu maupun sunnah." (Diriwayatkan oleh Ibn Abi Syaibah dalam al-Mushannaf).

Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) menafsirkan bahwa lamanya berdiri dalam shalat sebanding dengan besarnya pahala, karena di dalamnya ada bacaan yang merupakan inti shalat.

Keutamaan berdiri panjang:

  1. Lebih mendekatkan diri kepada Allah – Dalam berdiri panjang, seorang hamba membaca Al-Qur'an, mentadabburinya, dan berdoa. Ini adalah momen paling intens dalam shalat.
  2. Mengikuti sunnah Nabi – Aisyah رضي الله عنها menceritakan bahwa Nabi ﷺ shalat malam hingga bengkak kakinya (Shahih al-Bukhari no. 1095). Beliau sering membaca surah-surah panjang dalam satu rakaat.
  3. Melatih kekhusyukan – Berdiri lama menuntut konsentrasi penuh, melawan rasa malas dan godaan setan. Ini membersihkan hati dan meningkatkan kesabaran.

Aplikasi dalam shalat fardhu dan sunnah:

  • Dalam shalat fardhu berjamaah, imam hendaknya tidak terlalu panjang sehingga memberatkan makmum. Namun dalam shalat sendiri atau sunnah, perpanjangan berdiri sangat dianjurkan.
  • Imam Malik (dalam al-Muwaththa') dan Imam asy-Syafi'i (dalam al-Umm) sepakat bahwa shalat tahajud lebih utama dengan bacaan panjang daripada rakaat banyak.
  • Imam Ahmad bin Hanbal (dalam al-Masail) ditanya: "Manakah lebih utama, shalat dengan bacaan panjang atau shalat dengan banyak rakaat?" Beliau menjawab: "Shalat dengan bacaan panjang lebih utama, karena itulah yang diamalkan Nabi."

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar رضي الله عنه pernah mencontohkan shalat malam yang panjang. Suatu malam, ia shalat dan membaca surat Al-Baqarah, Ali Imran, dan An-Nisa dalam satu rakaat. Ia berdiri hingga hampir fajar. Saat ditanya, ia berkata: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Shalat yang paling utama adalah yang panjang berdirinya.'" (Riwayat ini ada dalam al-Muwaththa' Imam Malik secara mursal, namun didukung jalur lain).

Kisah lain dari Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Beliau biasa shalat malam dan membaca Al-Qur'an dengan tartil, seringkali menyelesaikan satu rakaat dengan bacaan sepertiga juz. Muridnya, Abdullah bin al-Mubarak, berkata: "Aku tidak melihat orang yang lebih panjang shalatnya dari pada Ahmad. Ia beridiri seperti pohon kokoh, khusyuk, dan air matanya mengalir." (Lihat Siyar A'lamin Nubala' karya adz-Dzahabi).

Kesimpulan Praktis

  1. Perbanyak bacaan dalam shalat – Jangan terburu-buru. Bacalah Al-Qur'an dengan tartil, walaupun hanya sedikit ayat, asalkan dengan tadabbur.
  2. Utamakan kualitas daripada kuantitas – Satu rakaat panjang lebih baik daripada sepuluh rakaat pendek tanpa kekhusyukan.
  3. Shalat tahajud adalah ladang terbaik – Perpanjang berdiri di sepertiga malam, meskipun hanya dua rakaat.
  4. Jika menjadi imam, perhatikan makmum – Sesuaikan panjang dengan kondisi jamaah. Jangan memberatkan kecuali jika semua sepakat.
  5. Latih kesabaran – Berdiri lama adalah jihad melawan rasa malas. Semakin dilatih, semakin ringan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.