Penjelasan Hadits Muslim No. 752 tentang Witir satu rakaat di akhir shalat malam

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat Witir itu cukup satu raka'at dan dikerjakan di akhir shalat malam, yaitu setelah seluruh shalat malam (tahajjud) selesai. Jadi, seseorang shalat malam dua-dua raka'at, lalu menutupnya dengan satu raka'at Witir. Ini adalah sunnah yang diajarkan Nabi ﷺ dan diamalkan para ulama Ahlus Sunnah.

Rujukan Ulama & Dalil

Dalil utama (hadits):

Hadits riwayat Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma, dari Shahih Muslim (no. 752), kitab Shalat Musafir dan Qashar, bab Shalat Malam Dua Raka'at dan Witir Satu Raka'at di Akhir Malam:

> الْوِتْرُ رَكْعَةٌ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ

Terjemahan: "Witir adalah satu raka'at di akhir malam."

Ayat Al-Qur'an yang berkaitan — perintah shalat malam dan membaca Al-Qur'an pada waktu malam:

QS. Al-Muzzammil [73]: 20

> فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Terjemahan ringkas: "Maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur'an... dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik..."

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan Witir boleh hanya satu raka'at, dan waktunya di akhir shalat malam.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa Witir satu raka'at adalah sah dan tidak makruh, karena ada dalil tegas dari Nabi ﷺ.
  • Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ biasa menutup shalat malamnya dengan Witir, kadang satu raka'at, kadang lebih, dan yang paling sering beliau lakukan adalah satu raka'at di akhir malam.

Penjelasan Rinci

Makna hadits:

Nabi ﷺ bersabda bahwa Witir itu satu raka'at dan dikerjakan di akhir malam. Artinya, shalat malam itu dikerjakan dua-dua raka'at (sebagaimana hadits lain yang shahih), lalu ditutup dengan satu raka'at Witir. Jadi Witir bukan shalat tersendiri yang panjang, melainkan penutup dari rangkaian shalat malam.

Pemahaman para ulama:

  1. Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan:
  • Witir satu raka'at itu sah dan cukup.
  • Boleh juga Witir tiga, lima, tujuh, atau sembilan raka'at, tetapi yang paling ringan dan sesuai hadits ini adalah satu raka'at.
  • Waktu terbaiknya adalah akhir malam, yaitu setelah shalat tahajjud selesai.
  1. Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menyebutkan:
  • Hadits ini menjadi dalil bahwa tidak ada larangan Witir satu raka'at.
  • Sebagian orang mengira Witir harus tiga raka'at seperti shalat Maghrib, tetapi hadits ini membantah anggapan itu.
  • Yang penting adalah istiqamah dan konsisten, bukan banyaknya raka'at.
  1. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (dalam Zadul Ma'ad) menerangkan:
  • Nabi ﷺ mengerjakan shalat malam dua-dua raka'at, lalu menutup dengan Witir satu raka'at.
  • Kadang beliau mengerjakan Witir di awal malam, kadang di tengah, kadang di akhir, tetapi yang paling utama adalah di akhir malam jika seseorang mampu.
  1. Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (dalam Syarh Riyadhus Shalihin) menambahkan:
  • Witir satu raka'at adalah sunnah yang ringan dan mudah diamalkan.
  • Bagi yang khawatir tidak bangun di akhir malam, boleh mengerjakan Witir sebelum tidur, sebagaimana hadits lain yang menganjurkan hal itu.

Perbedaan pendapat:

  • Sebagian ulama berpendapat Witir minimal tiga raka'at, tetapi pendapat yang paling kuat adalah boleh satu raka'at, berdasarkan hadits ini dan hadits-hadits lain yang shahih. Ini adalah pendapat Imam asy-Syafi'i, Imam Ahmad, dan Imam an-Nawawi.

Story Telling

Kisah Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma:

Ibnu 'Umar adalah sahabat yang sangat semangat mengikuti sunnah Nabi ﷺ. Beliau meriwayatkan hadits ini dan mengamalkannya sendiri. Diceritakan bahwa Ibnu 'Umar biasa shalat malam dua-dua raka'at, lalu menutupnya dengan satu raka'at Witir. Ketika ada orang bertanya mengapa beliau hanya Witir satu raka'at, beliau menjawab: "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Witir adalah satu raka'at di akhir malam.'" (disebutkan dalam Shahih Muslim dan Syarh an-Nawawi).

Hikmah: Kesungguhan Ibnu 'Umar dalam mengikuti sunnah Nabi ﷺ, sekalipun itu ringan, menunjukkan bahwa kualitas amal lebih penting daripada kuantitas. Witir satu raka'at yang dikerjakan dengan ikhlas dan istiqamah lebih baik daripada banyak raka'at tetapi tidak rutin.

Kesimpulan Praktis

  1. Witir itu satu raka'at dan dikerjakan di akhir shalat malam.
  2. Shalat malam dikerjakan dua-dua raka'at, lalu ditutup dengan satu raka'at Witir.
  3. Jika tidak mampu bangun di akhir malam, boleh Witir sebelum tidur.
  4. Istiqamah lebih penting daripada banyaknya raka'at.
  5. Jangan menganggap Witir satu raka'at itu kurang atau tidak sah, karena Nabi ﷺ sendiri yang mengajarkannya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?