Penjelasan Hadits Muslim No. 743 tentang Shalat sunnah subuh lalu berbicara atau berbaring

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menggambarkan salah satu bentuk kasih sayang dan perhatian Nabi ﷺ kepada keluarganya, khususnya kepada Aisyah radhiyallahu 'anha. Setelah beliau ﷺ melaksanakan shalat sunnah qabliyah Subuh (dua raka'at fajar) di rumahnya, beliau tidak langsung bergegas atau menyibukkan diri, melainkan berinteraksi dengan istrinya. Jika Aisyah dalam keadaan terjaga, beliau akan mengajaknya berbicara; dan jika Aisyah masih tidur, beliau akan berbaring dengan tenang. Ini menunjukkan adab dan kelembutan Nabi ﷺ dalam kehidupan rumah tangga, serta memberikan pelajaran tentang pentingnya menjaga keharmonisan dan tidak mengganggu orang yang sedang beristirahat.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab tentang shalat malam dan jumlah raka'at Nabi ﷺ, no. 743. Berikut adalah teks haditsnya:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَنَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ، وَابْنُ أَبِي عُمَرَ، قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَبِي النَّضْرِ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا صَلَّى رَكْعَتَىِ الْفَجْرِ فَإِنْ كُنْتُ مُسْتَيْقِظَةً حَدَّثَنِي وَإِلاَّ اضْطَجَعَ.

Makna ringkas: Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: "Apabila Nabi ﷺ selesai shalat dua raka'at (sunnah) fajar, jika aku dalam keadaan terjaga, beliau akan berbicara denganku, dan jika aku tidak terjaga (masih tidur), beliau akan berbaring."

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, dan para ulama menjelaskan bahwa perbuatan Nabi ﷺ ini adalah bagian dari sunnah fi'liyyah (perbuatan) yang menunjukkan adab dan kasih sayang beliau kepada keluarganya.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

  1. Keutamaan Shalat Sunnah Qabliyah Subuh: Hadits ini secara tidak langsung menegaskan bahwa Nabi ﷺ senantiasa menjaga shalat sunnah dua raka'at sebelum Subuh. Ini adalah sunnah rawatib yang paling ditekankan. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa dua raka'at fajar ini memiliki keutamaan yang besar, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits lain bahwa keduanya lebih baik daripada dunia dan seisinya.
  2. Adab Bergaul dengan Istri dan Keluarga: Ini adalah inti dari hadits ini. Setelah beribadah, Nabi ﷺ tidak langsung memisahkan diri, tetapi berinteraksi dengan istrinya. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa ini adalah bimbingan dari Nabi ﷺ agar seorang suami tidak kaku dalam beribadah, tetapi tetap menunjukkan kelembutan dan perhatian kepada keluarganya. Ini adalah bagian dari akhlak Islam yang sempurna.
  3. Menghormati Hak Istirahat Orang Lain: Jika Aisyah radhiyallahu 'anha masih tidur, Nabi ﷺ memilih untuk berbaring dan tidak membangunkannya. Ini menunjukkan perhatian beliau terhadap kondisi orang lain dan tidak memaksakan kehendak. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa perbuatan ini adalah bentuk kasih sayang dan tidak memberatkan orang lain.
  4. Bolehnya Berbaring Setelah Shalat Sunnah Fajar: Para ulama, di antaranya Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal, berpendapat bahwa berbaring setelah shalat sunnah fajar sebelum shalat Subuh adalah perkara yang disunnahkan berdasarkan perbuatan Nabi ﷺ ini. Namun, perlu dicatat bahwa ini adalah perbuatan yang bersifat fi'liyyah (perbuatan Nabi ﷺ), dan para ulama berbeda pendapat mengenai apakah hukumnya sunnah atau sekadar mubah (boleh). Pendapat yang lebih kuat adalah bahwa hal itu boleh dan tidak mengapa dilakukan, karena Nabi ﷺ melakukannya. Namun, jika seseorang khawatir akan terlewat shalat Subuh berjamaah, maka meninggalkannya adalah lebih utama.
  5. Pentingnya Komunikasi dalam Rumah Tangga: Percakapan Nabi ﷺ dengan Aisyah setelah shalat bukanlah percakapan yang sia-sia. Ini menunjukkan pentingnya komunikasi yang hangat antara suami dan istri. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam berbagai tafsir dan syarahnya sering menekankan bahwa kehidupan rumah tangga yang baik dibangun di atas kasih sayang dan komunikasi yang baik.

Story Telling

Dari hadits ini, kita bisa membayangkan suasana rumah Nabi ﷺ yang penuh ketenangan dan kasih sayang. Aisyah radhiyallahu 'anha adalah istri yang paling dicintai oleh Nabi ﷺ. Beliau sering bercanda dan berbincang dengannya. Dalam riwayat lain, Aisyah menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah berlomba lari dengannya, dan pada awalnya Aisyah yang menang, namun di lain waktu Nabi ﷺ yang menang dan bersabda, "Ini sebagai balasan atas kemenanganmu yang lalu." (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah).

Kisah-kisah seperti ini menunjukkan bahwa rumah tangga Nabi ﷺ bukanlah rumah yang kaku dan penuh formalitas, melainkan rumah yang dipenuhi dengan kehangatan, canda tawa yang dibatasi syariat, dan saling menghargai. Ini adalah pelajaran berharga bagi kita semua, bahwa ibadah yang tinggi tidak menghalangi seorang suami untuk menjadi teman bicara yang baik bagi istrinya.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga shalat sunnah qabliyah Subuh karena keutamaannya sangat besar, sebagaimana yang selalu dijaga oleh Nabi ﷺ.
  2. Jadilah pribadi yang hangat dalam keluarga. Setelah beribadah, jangan langsung menyendiri, tetapi sempatkan untuk berinteraksi dan bercengkrama dengan keluarga.
  3. Hormati hak istirahat orang lain. Jika pasangan atau anggota keluarga sedang tidur atau beristirahat, jangan mengganggunya. Berikanlah ruang dan ketenangan untuk mereka.
  4. Teladani akhlak Nabi ﷺ dalam segala hal, baik dalam ibadah maupun dalam muamalah sehari-hari, karena beliau adalah suri tauladan yang terbaik.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?