Penjelasan Hadits Muslim No. 742 tentang Kebiasaan tidur Nabi sebelum shalat Subuh

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan kebiasaan tidur Nabi ﷺ di waktu sahur (sebelum fajar) setelah beliau menunaikan shalat malam. Aisyah radhiyallahu 'anha menyatakan bahwa waktu sahur tidak pernah mendapati Nabi ﷺ kecuali dalam keadaan tidur di rumah beliau. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidur di akhir malam setelah qiyamul lail, dan hal ini menjadi dalil bahwa tidur setelah shalat malam adalah sunnah yang beliau lakukan secara rutin.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (no. 742), dari Aisyah radhiyallahu 'anha:

Teks Arab hadits:

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ، أَخْبَرَنَا ابْنُ بِشْرٍ، عَنْ مِسْعَرٍ، عَنْ سَعْدٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ مَا أَلْفَى رَسُولَ اللَّهِ ﷺ السَّحَرُ الْأَعْلَى فِي بَيْتِي - أَوْ عِنْدِي - إِلَّا نَائِمًا

Terjemahan: Aisyah berkata: "Tidak pernah waktu sahur yang tinggi (akhir malam menjelang fajar) mendapati Rasulullah ﷺ di rumahku — atau di sisiku — kecuali dalam keadaan tidur."

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Muzzammil [73]: 20

إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ ۚ وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ۚ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۖ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ ۚ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَىٰ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۚ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا ۚ وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا ۚ وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Terjemahan ringkas: "Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya, dan segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah dari Al-Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah, dan yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah dari Al-Qur'an, dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu, niscaya kamu akan memperolehnya di sisi Allah sebagai balasan yang lebih baik dan yang lebih besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Hadits pendukung dari Aisyah radhiyallahu 'anha:

Dalam Shahih Muslim juga, Aisyah berkata:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ عَشْرَ رَكَعَاتٍ، وَيُوتِرُ بِسَجْدَةٍ، وَيَرْكَعُ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ

Terjemahan: "Rasulullah ﷺ shalat malam sepuluh rakaat, lalu witir dengan satu rakaat, lalu shalat dua rakaat sebelum fajar." (HR. Muslim)

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidur setelah shalat malam dan witir, dan bahwa tidur di waktu sahur adalah kebiasaan beliau.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil bahwa Nabi ﷺ tidak terus-menerus shalat hingga fajar, tetapi beliau tidur terlebih dahulu.
  • Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa tidur di waktu sahur setelah qiyamul lail adalah sunnah yang dilakukan Nabi ﷺ untuk menguatkan badan sebelum shalat Subuh.

Penjelasan Rinci

Hadits ini menggambarkan kebiasaan Nabi ﷺ di akhir malam. Setelah beliau menunaikan shalat malam (qiyamul lail) dan witir, beliau tidur. Waktu sahur — yaitu waktu sebelum fajar — tidak pernah mendapati beliau kecuali dalam keadaan tidur. Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidak menghabiskan seluruh malam untuk shalat, tetapi beliau tidur di akhir malam untuk beristirahat.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa faedah:

  1. Sunnahnya tidur setelah shalat malam. Nabi ﷺ tidur di waktu sahur, dan ini adalah kebiasaan beliau yang rutin.
  2. Tidak terus-menerus shalat hingga fajar. Ini menunjukkan bahwa berlebihan dalam shalat malam hingga tidak tidur sama sekali bukanlah sunnah Nabi ﷺ.
  3. Kasih sayang Nabi ﷺ terhadap tubuhnya. Beliau tidur untuk menguatkan badan sebelum shalat Subuh dan aktivitas siang.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menambahkan bahwa hadits ini juga menunjukkan bahwa Nabi ﷺ tidur di rumah Aisyah radhiyallahu 'anha, dan ini menunjukkan kedekatan beliau dengan istrinya serta kasih sayang beliau.

Ibn Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa tidur di waktu sahur adalah kebiasaan orang-orang shalih, karena waktu sahur adalah waktu yang diberkahi, dan tidur di waktu itu membantu seseorang untuk bangun dengan segar untuk shalat Subuh.

Perbedaan pendapat di antara ulama:

Sebagian ulama berpendapat bahwa tidur setelah shalat malam boleh saja, dan sebagian lagi berpendapat bahwa lebih baik tidak tidur jika mampu. Namun, yang paling kuat adalah pendapat yang mengikuti sunnah Nabi ﷺ, yaitu tidur di waktu sahur setelah qiyamul lail, karena ini adalah kebiasaan beliau yang tetap.

Imam Muslim dalam Shahih-nya menempatkan hadits ini dalam bab "Shalat Malam dan Jumlah Raka'at Nabi ﷺ di Malam Hari dan Bahwa Witir adalah Satu Raka'at dan Bahwa Raka'at adalah Shalat yang Sah." Ini menunjukkan bahwa hadits ini berkaitan dengan jumlah rakaat shalat malam dan witir.

Story Telling

Aisyah radhiyallahu 'anha adalah istri Nabi ﷺ yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang kehidupan beliau di rumah. Beliau memperhatikan dengan detail kebiasaan Nabi ﷺ, termasuk waktu tidur dan shalat beliau.

Suatu ketika, Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan bahwa Nabi ﷺ selalu tidur di waktu sahur. Beliau tidak pernah mendapati Nabi ﷺ dalam keadaan terjaga di waktu itu, kecuali setelah beliau menunaikan shalat malam dan witir. Ini menunjukkan betapa teratur dan seimbangnya kehidupan Nabi ﷺ. Beliau menunaikan hak tubuhnya untuk beristirahat, sebagaimana beliau menunaikan hak Rabb-nya untuk beribadah.

Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha adalah orang yang paling mengetahui kebiasaan Nabi ﷺ di rumah, karena beliau adalah istri yang paling dekat dengan Nabi ﷺ. Oleh karena itu, hadits ini menjadi rujukan penting dalam memahami sunnah tidur setelah shalat malam.

Kesimpulan Praktis

  1. Tidur di waktu sahur setelah shalat malam adalah sunnah Nabi ﷺ. Ini adalah kebiasaan beliau yang rutin dan sebaiknya diikuti.
  2. Tidak berlebihan dalam shalat malam hingga tidak tidur. Nabi ﷺ mencontohkan keseimbangan antara ibadah dan istirahat.
  3. Menjaga kualitas shalat Subuh. Tidur di waktu sahur membantu seseorang bangun dengan segar untuk shalat Subuh.
  4. Mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam tidur dan ibadah. Ini adalah bentuk ketaatan dan kecintaan kepada beliau.
  5. Tidak memaksakan diri dalam ibadah. Islam adalah agama yang mudah, dan Nabi ﷺ mencontohkan kemudahan dalam beribadah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?