Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa rasa cinta kepada kaum Ansar (para sahabat Nabi ﷺ dari penduduk Madinah yang menolong kaum Muhajirin) adalah tanda keimanan, sedangkan membenci mereka adalah tanda kemunafikan. Ini bukan sekadar soal perasaan biasa, tetapi menjadi ukuran batin yang menunjukkan apakah iman seseorang itu jujur atau munafik. Para ulama menjelaskan bahwa hal ini karena kaum Ansar telah berkorban harta, rumah, dan jiwa untuk menolong agama Allah dan Rasul-Nya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, no. 74, dari sahabat Anas bin Malik رضي الله عنه.
Teks hadits:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "آيَةُ الْمُنَافِقِ بُغْضُ الْأَنْصَارِ، وَآيَةُ الْمُؤْمِنِ حُبُّ الْأَنْصَارِ"
Terjemahan: "Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tanda kemunafikan adalah kebencian terhadap Ansar, dan tanda keimanan adalah cinta kepada Ansar.'"
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan keutamaan kaum Ansar:
QS. At-Taubah [9]: 100
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Terjemahan: "Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar."
QS. Al-Hasyr [59]: 9
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Terjemahan: "Dan orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah ke tempat mereka. Dan mereka tidak menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, meskipun mereka juga memerlukan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung."
Penjelasan Rinci
Hadits ini menunjukkan bahwa kecintaan dan kebencian terhadap kelompok tertentu bisa menjadi tanda keadaan hati seseorang. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan "Ansar" adalah kaum dari suku Aus dan Khazraj di Madinah yang menerima Islam dan menolong Nabi ﷺ beserta para Muhajirin. Mereka disebut "Ansar" (penolong) karena pertolongan dan pengorbanan mereka yang luar biasa.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mencintai kaum Ansar termasuk bagian dari iman karena mereka adalah orang-orang yang telah Allah puji dalam Al-Qur'an, dan Rasulullah ﷺ sendiri memuji mereka. Sebaliknya, membenci mereka menunjukkan kemunafikan karena kebencian itu lahir dari penolakan terhadap kebenaran yang mereka perjuangkan.
Imam an-Nawawi juga menyebutkan bahwa hadits ini bukan berarti setiap orang yang membenci sebagian Ansar secara otomatis menjadi munafik besar (kafir), tetapi ini adalah tanda kemunafikan yang harus diwaspadai. Kemunafikan di sini bisa berarti kemunafikan dalam amal (nifaq 'amali), bukan nifaq i'tiqadi yang mengeluarkan seseorang dari Islam. Namun jika kebencian itu karena agama dan karena mereka membela Islam, maka ini adalah tanda kemunafikan yang serius.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa cinta dan benci karena Allah adalah bagian dari iman. Barangsiapa mencintai seseorang karena Allah mencintainya, dan membenci seseorang karena Allah membencinya, maka itu tanda iman yang jujur. Kaum Ansar dicintai Allah dan Rasul-Nya, maka mencintai mereka adalah cinta karena Allah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa iman bukan hanya keyakinan di hati, tetapi juga menghasilkan buah berupa cinta kepada orang-orang yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Kebencian kepada Ansar menunjukkan hati yang tidak sehat, karena mereka adalah orang-orang yang telah berjasa besar dalam menyebarkan Islam.
Perlu dicatat bahwa hadits ini juga berkaitan dengan bab yang disebutkan Imam Muslim, yaitu tentang Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه. Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa mencintai Ali adalah tanda iman dan membencinya adalah tanda munafik. Ini karena Ali adalah menantu Nabi ﷺ, sepupu beliau, dan salah satu sahabat utama yang berjihad di jalan Allah. Kebencian kepadanya biasanya lahir dari kebencian kepada Islam itu sendiri.
Story Telling
Diceritakan bahwa ketika Nabi ﷺ hijrah ke Madinah, kaum Ansar menyambut beliau dan para Muhajirin dengan penuh kegembiraan. Mereka membagi rumah, harta, dan bahkan kebun mereka kepada saudara-saudara baru mereka dari Mekah. Padahal saat itu kaum Ansar sendiri tidak dalam keadaan kaya. Allah memuji mereka dalam QS. Al-Hasyr [59]: 9, bahwa mereka mengutamakan Muhajirin atas diri mereka sendiri meskipun mereka juga membutuhkan.
Suatu ketika, ada seorang munafik yang mencela kaum Ansar. Maka Nabi ﷺ bersabda bahwa tanda kemunafikan adalah membenci Ansar, dan tanda iman adalah mencintai mereka. Anas bin Malik رضي الله عنه, yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah satu pelayan Nabi ﷺ yang setia dan mencintai kaum Ansar. Beliau menyampaikan hadits ini agar umat Islam mengetahui bahwa cinta kepada Ansar adalah bagian dari agama.
Kesimpulan Praktis
- Cintailah kaum Ansar dan para sahabat Nabi ﷺ secara umum, karena mereka adalah generasi terbaik yang telah berkorban untuk Islam.
- Jauhilah kebencian kepada mereka, karena kebencian kepada mereka adalah tanda kemunafikan.
- Pelajarilah sejarah kaum Ansar dan para sahabat agar tumbuh rasa cinta dan hormat kepada mereka.
- Jadikan cinta dan benci kita karena Allah, bukan karena hawa nafsu atau kepentingan pribadi.
- Berhati-hatilah dari sikap mencela atau merendahkan para sahabat, karena itu bisa menjadi pintu menuju kemunafikan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.