Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 738 tentang Shalat malam Nabi maksimal sebelas rakaat termasuk witir

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa shalat malam Nabi ﷺ, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, tidak lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat yang sangat panjang dan indah, kemudian empat rakaat lagi, lalu ditutup dengan tiga rakaat witir. Hadits ini juga mengajarkan bahwa mata Nabi ﷺ bisa tidur, tetapi hatinya tetap terjaga dan senantiasa mengingat Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Muslim:

Teks hadits yang Anda sertakan adalah riwayat dari Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat Musafir dan Qashar, Bab Shalat Malam dan Jumlah Raka'at Nabi ﷺ.

Dalil Al-Qur'an yang Terkait:

Allah Ta'ala berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

"Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

(QS. Al-Isra' [17]: 79)

Ayat ini menunjukkan perintah shalat malam dan keutamaannya, yang menjadi dasar bagi amalan yang dicontohkan Nabi ﷺ dalam hadits di atas.

Kaitan dengan Ulama:

Para ulama dari kalangan salaf, seperti Imam Malik bin Anas (yang meriwayatkan hadits ini dalam Al-Muwaththa'), Imam Asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal menjadikan hadits ini sebagai dalil utama tentang tata cara shalat malam Nabi ﷺ. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan sunnahnya shalat malam sebelas rakaat, dan ini adalah yang paling utama.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Jumlah Rakaat Shalat Malam Nabi ﷺ

Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha dengan tegas menyatakan bahwa Nabi ﷺ tidak pernah menambah lebih dari sebelas rakaat, baik di Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Ini menunjukkan bahwa amalan Nabi ﷺ itu konsisten dan tidak berubah-ubah.

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' menjelaskan bahwa jumlah rakaat shalat malam yang paling utama adalah sebelas rakaat, sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ. Namun, beliau juga menyebutkan bahwa boleh shalat lebih dari itu, karena ada riwayat lain yang menunjukkan Nabi ﷺ pernah shalat tiga belas rakaat.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa yang dimaksud "empat rakaat" dalam hadits ini adalah empat rakaat dengan dua salam (setiap dua rakaat satu salam), karena ada riwayat lain yang menjelaskan hal tersebut. Ini adalah pemahaman yang dikuatkan oleh para ulama.

2. Kualitas Shalat Nabi ﷺ

Ungkapan "Jangan tanyakan tentang keindahan dan panjangnya" menunjukkan bahwa shalat Nabi ﷺ sangat sempurna, khusyuk, dan panjang bacaannya. Ini mengajarkan kita bahwa yang terpenting dalam shalat malam bukan hanya jumlah rakaat, tetapi juga kualitas dan kekhusyukan.

Imam Ibnul Qayyim dalam Zaad al-Ma'ad menggambarkan shalat malam Nabi ﷺ dengan sangat panjang, hingga kaki beliau bengkak karena lamanya berdiri. Ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam beribadah.

3. Makna "Mataku Tidur tetapi Hatiku Tidak"

Jawaban Nabi ﷺ ini menjelaskan bahwa tidurnya mata tidak menghalangi kesadaran hati. Ini adalah kekhususan yang Allah berikan kepada para nabi. Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah mukjizat khusus bagi Nabi ﷺ, dan tidak berarti kita bisa meniru hal ini secara harfiah.

Namun, ada pelajaran penting: hati seorang mukmin seharusnya senantiasa mengingat Allah, meskipun tubuhnya beristirahat. Ini menunjukkan tingginya derajat kesadaran spiritual Nabi ﷺ.

4. Bolehnya Tidur Sebelum Witir

Dalam hadits ini, Sayyidah 'Aisyah bertanya apakah Nabi ﷺ tidur sebelum witir. Jawaban Nabi ﷺ menunjukkan bahwa beliau memang tidur sebelum witir, tetapi hatinya tetap terjaga. Ini menunjukkan bahwa tidur sebelum witir tidak menghilangkan keutamaan witir jika seseorang berniat untuk bangun dan mengerjakannya.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz menjelaskan bahwa jika seseorang khawatir tidak bisa bangun di akhir malam, maka lebih baik witir di awal malam sebelum tidur. Namun, jika yakin bisa bangun, maka witir di akhir malam lebih utama.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal sangat menjaga shalat malamnya. Beliau biasa shalat malam hingga pagi, dan ketika ditanya tentang lamanya shalat beliau, beliau menjawab bahwa beliau mencontoh Nabi ﷺ yang shalat malam dengan sangat panjang.

Suatu ketika, putra beliau, Abdullah, bertanya mengapa beliau tidak beristirahat sejenak. Imam Ahmad menjawab, "Bagaimana aku bisa tidur, sementara aku tahu bahwa Allah melihatku dan aku akan berdiri di hadapan-Nya?" Ini menunjukkan semangat para salaf dalam menjaga shalat malam, sebagaimana yang dicontohkan Nabi ﷺ.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa shalat malam adalah amalan yang sangat dicintai Allah dan menjadi kebiasaan orang-orang shalih sepanjang zaman.

Kesimpulan Praktis

  1. Jadikan shalat malam sebagai kebiasaan, minimal sebelas rakaat (4+4+3) atau sesuai kemampuan, dengan kualitas yang baik.
  2. Utamakan kekhusyukan dan panjangnya bacaan daripada sekadar mengejar jumlah rakaat.
  3. Jika khawatir tidak bisa bangun, boleh witir sebelum tidur; jika yakin bisa bangun, witir di akhir malam lebih utama.
  4. Jaga hati agar selalu mengingat Allah, meskipun tubuh sedang beristirahat.
  5. Jangan berlebihan dalam beribadah hingga memberatkan diri, tetapi juga jangan meremehkan amalan sunnah ini.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.