Penjelasan Hadits Muslim No. 736 tentang Jumlah rakaat shalat malam Nabi sebelas rakaat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan kebiasaan shalat malam Nabi ﷺ, yaitu sebelas raka'at dengan satu raka'at witr sebagai penutup. Setelah selesai, beliau berbaring miring ke kanan hingga waktu subuh mendekat, lalu shalat dua raka'at ringan sebelum adzan. Ini menunjukkan shalat malam beliau tidak selalu sama jumlahnya, dan yang paling sering adalah sebelas raka'at.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, dari Aisyah radhiyallahu 'anha, melalui jalur Imam Malik dari Ibn Syihab az-Zuhri, dari Urwah bin az-Zubair.

Hadits terkait yang memperkuat:

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يُصَلِّي بِاللَّيْلِ إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً، يُوتِرُ مِنْهَا بِوَاحِدَةٍ، فَإِذَا فَرَغَ مِنْهَا اضْطَجَعَ عَلَى شِقِّهِ الْأَيْمَنِ حَتَّى يَأْتِيَهُ الْمُؤَذِّنُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ خَفِيفَتَيْنِ»

Terjemahan: "Rasulullah ﷺ biasa shalat malam sebelas raka'at, beliau witr dengan satu raka'at. Setelah selesai, beliau berbaring miring ke kanan hingga muadzin datang, lalu beliau shalat dua raka'at ringan." (HR. Muslim no. 736)

Ayat yang menjadi landasan umum shalat malam:

﴿وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَىٰ أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا﴾

QS. Al-Isra' [17]: 79

Terjemahan: "Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji."

Penjelasan Rinci

Hadits ini menunjukkan beberapa hal penting:

Pertama: Jumlah raka'at shalat malam Nabi ﷺ.

Aisyah radhiyallahu 'anha menyebutkan sebelas raka'at. Ini adalah riwayat yang paling masyhur dan menjadi pegangan banyak ulama. Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan shalat malam Nabi ﷺ yang paling sering adalah sebelas raka'at, dengan satu raka'at witr. Beliau juga menyebutkan bahwa riwayat lain menyebutkan tiga belas raka'at, dan para ulama menggabungkan bahwa perbedaan itu karena menghitung dua raka'at ringan setelah adzan atau sebelum shalat malam.

Kedua: Witr sebagai penutup.

Nabi ﷺ menjadikan satu raka'at witr sebagai penutup shalat malam. Ini menunjukkan bahwa witr adalah penutup shalat malam, sebagaimana sabda beliau: "Jadikanlah witr sebagai akhir shalat kalian di malam hari" (HR. Bukhari dan Muslim). Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa witr boleh dilakukan dengan satu raka'at, tiga, lima, dan seterusnya, dan yang paling utama adalah mengakhirkan witr di akhir malam.

Ketiga: Berbaring miring ke kanan setelah witr.

Setelah selesai witr, Nabi ﷺ berbaring miring ke kanan. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari istirahat beliau sebelum subuh, bukan tidur yang panjang. Beliau juga menyebutkan bahwa berbaring ini bukan syarat sah shalat, tetapi sunnah yang dilakukan Nabi ﷺ.

Keempat: Dua raka'at ringan sebelum subuh.

Setelah muadzin datang, Nabi ﷺ shalat dua raka'at ringan. Ini adalah dua raka'at sunnah fajar (qabliyah subuh). Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa dua raka'at ini dilakukan dengan ringan, tidak panjang, karena waktunya mendekati subuh. Ibnu Hajar menyebutkan bahwa dua raka'at ini adalah sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan.

Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:

Imam Malik dan Imam asy-Syafi'i berpendapat bahwa shalat malam Nabi ﷺ yang paling sering adalah sebelas raka'at, dan witr satu raka'at. Imam Ahmad bin Hanbal juga meriwayatkan sebelas raka'at, tetapi beliau membolehkan lebih dari itu. Ibn Taymiyyah dalam Majmu' al-Fatawa menjelaskan bahwa shalat malam Nabi ﷺ tidak selalu sama, kadang sebelas, kadang tiga belas, dan semuanya sah. Yang paling kuat adalah pendapat yang menggabungkan riwayat-riwayat tersebut, bahwa jumlahnya fleksibel dan yang paling sering adalah sebelas raka'at.

Story Telling

Diceritakan bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha, istri Nabi ﷺ, adalah orang yang paling mengetahui kebiasaan shalat malam beliau. Suatu ketika, seorang tabi'in bernama Urwah bin az-Zubair bertanya kepada Aisyah tentang shalat malam Nabi ﷺ. Aisyah menjawab dengan rinci, termasuk jumlah raka'at, witr, dan kebiasaan berbaring setelahnya. Urwah kemudian meriwayatkan kepada Ibn Syihab az-Zuhri, dan az-Zuhri meriwayatkan kepada Imam Malik, hingga sampai kepada Imam Muslim.

Imam Malik bin Anas, imam Darul Hijrah, meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya Al-Muwaththa', dan Imam Muslim memasukkannya dalam Shahih-nya. Ini menunjukkan betapa para ulama awal sangat teliti dalam meriwayatkan hadits, hingga detail seperti berbaring miring ke kanan pun dicatat.

Hikmahnya: Aisyah radhiyallahu 'anha tidak hanya melihat, tetapi juga memahami dan meriwayatkan dengan tepat. Ini mengajarkan kita untuk memperhatikan sunnah Nabi ﷺ dalam detail sekecil apa pun, karena semua itu adalah petunjuk.

Kesimpulan Praktis

  1. Shalat malam Nabi ﷺ yang paling sering adalah sebelas raka'at, dengan satu raka'at witr sebagai penutup.
  2. Witr adalah penutup shalat malam, dan boleh dilakukan dengan satu raka'at.
  3. Setelah witr, disunnahkan berbaring miring ke kanan sebentar sebelum subuh.
  4. Dua raka'at ringan sebelum subuh adalah sunnah muakkadah yang dilakukan Nabi ﷺ.
  5. Jumlah raka'at shalat malam fleksibel, yang penting adalah konsisten dan khusyuk.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?