Penjelasan Hadits Muslim No. 72 tentang Larangan mengaitkan nikmat dengan selain Allah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang bahaya besar mengingkari nikmat Allah dengan menyandarkan nikmat tersebut kepada selain Allah, seperti perkataan sebagian orang ketika turun hujan: "Kita diberi hujan karena bintang ini atau itu." Ini adalah bentuk kekufuran terhadap nikmat Allah, karena menjadikan makhluk (bintang) sebagai sebab yang berdiri sendiri, padahal segala sesuatu terjadi atas kehendak dan karunia Allah semata.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits yang Anda sebutkan adalah bagian dari hadits yang lebih panjang. Dalam Shahih Muslim, hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"Tidakkah kalian tahu apa yang dikatakan Tuhan kalian? Dia berkata: 'Tidak ada satu pun nikmat yang Aku berikan kepada hamba-hamba-Ku, melainkan ada sekelompok dari mereka yang mengingkarinya dan berkata: Bintang-bintang, itu karena bintang-bintang.'" (HR. Muslim, Kitab al-Iman, Bab Bayan Kufr Man Qala Muthirna bi an-Nau', no. 72)

Dalil Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ

"Maka tidakkah dia (manusia) menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?" (QS. Al-Balad [90]: 11)

Ayat ini tidak secara langsung berkaitan dengan hadits di atas. Namun, ada ayat lain yang sangat relevan tentang nikmat Allah dan pengingkarannya:

وَإِذَا مَسَّ الْإِنْسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا إِلَيْهِ ثُمَّ إِذَا خَوَّلَهُ نِعْمَةً مِنْهُ نَسِيَ مَا كَانَ يَدْعُو إِلَيْهِ مِنْ قَبْلُ وَجَعَلَ لِلَّهِ أَنْدَادًا لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۚ قُلْ تَمَتَّعْ بِكُفْرِكَ قَلِيلًا ۖ إِنَّكَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ

"Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Rabb-nya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Rabb-nya memberikan nikmat kepadanya, dia lupa akan bahaya yang dahulu pernah dia berdoa kepada-Nya untuk (menghilangkannya) dan dia mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: 'Bersukarialah kamu dengan kekafiranmu itu untuk sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.'" (QS. Az-Zumar [39]: 8)

Ayat ini menggambarkan kondisi manusia yang ketika mendapat nikmat, ia melupakan Allah dan bahkan menyandarkan nikmat itu kepada selain Allah.

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan larangan keras menyandarkan turunnya hujan kepada bintang-bintang (nau'), karena hal itu termasuk perbuatan jahiliyah. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa perkataan "kita diberi hujan karena bintang ini" bisa menjadi kekufuran jika yang dimaksud adalah bintang tersebut yang menurunkan hujan secara langsung tanpa kehendak Allah. Namun jika hanya sekedar mengabarkan kebiasaan (bahwa biasanya hujan turun di waktu tertentu), maka itu tidak mengapa selama tidak meyakini bintang sebagai pelaku.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dalam konteks peristiwa hujan. Di zaman jahiliyah, orang-orang Arab memiliki kebiasaan menyandarkan turunnya hujan kepada bintang-bintang tertentu yang mereka sebut nau' (jamak: anwa'). Mereka berkata, "Kita diberi hujan karena bintang ini atau itu." Ini adalah warisan keyakinan jahiliyah yang bertentangan dengan tauhid.

Pandangan Ulama:

  1. Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa mengucapkan "Kita diberi hujan karena bintang ini" adalah perbuatan yang tercela dan bisa mengeluarkan pelakunya dari keimanan jika ia meyakini bintang tersebut sebagai pemberi hujan secara mandiri. Namun jika ia hanya mengabarkan kebiasaan alam tanpa meyakini bintang sebagai pelaku, maka itu tidak sampai pada kekufuran, tetapi tetap makruh dan menyelisihi adab.
  2. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari menjelaskan perbedaan antara dua keadaan:
  • Jika seseorang meyakini bahwa bintanglah yang menurunkan hujan dengan sendirinya, maka ini adalah kekufuran karena menetapkan pencipta dan pemberi rizki selain Allah.
  • Jika seseorang hanya mengabarkan kebiasaan (bahwa biasanya hujan turun saat bintang tertentu terbit), maka ini tidak kufur, tetapi tetap dilarang karena menyerupai perkataan orang-orang jahiliyah.
  1. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa mengingkari nikmat Allah dengan menyandarkannya kepada selain Allah adalah bentuk kekufuran kecil (kufrun ni'mah) yang tidak mengeluarkan dari Islam, selama tidak meyakini bahwa selain Allah yang menciptakan nikmat tersebut. Namun jika meyakininya, maka itu kekufuran besar.
  2. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di (w. 1376 H) dalam tafsirnya menjelaskan bahwa nikmat Allah sangat banyak, namun sebagian manusia mengingkarinya dengan tidak mensyukurinya dan bahkan menyandarkannya kepada selain Allah. Ini adalah bentuk kezaliman manusia terhadap dirinya sendiri.

Pelajaran Penting:

Hadits ini mengajarkan kita tentang adab mensyukuri nikmat. Ketika turun hujan, seorang mukmin hendaknya mengucapkan: "Muthirna bi fadhllillahi wa rahmatih" (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), sebagaimana disebutkan dalam hadits lain. Ini adalah bentuk pengakuan bahwa segala nikmat berasal dari Allah semata.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa pada masa Nabi ﷺ, terjadi hujan setelah kemarau panjang. Kemudian ada sebagian orang yang berkata, "Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu." Maka Allah menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya tentang perkataan mereka. Dalam riwayat lain (HR. Bukhari dan Muslim dari Zaid bin Khalid al-Juhani), Nabi ﷺ bersabda setelah hujan turun:

"Allah berfirman: 'Di pagi hari ada di antara hamba-Ku yang beriman kepada-Ku dan ada yang kafir. Adapun yang berkata: "Kita diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya," maka dia beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang-bintang. Adapun yang berkata: "Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu," maka dia kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang.'"

Kisah ini menunjukkan betapa Allah sangat memperhatikan perkataan hamba-Nya. Perkataan yang tampak sepele ternyata memiliki dampak besar dalam keimanan seseorang. Ini menjadi pelajaran bagi kita untuk selalu menjaga lisan dan mengaitkan segala nikmat kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Jaga lisan dari perkataan yang menyandarkan nikmat kepada selain Allah, seperti "kita sukses karena usaha kerasku sendiri" tanpa mengaitkan dengan kehendak Allah.
  2. Biasakan mengucapkan "Alhamdulillah" dan "Muthirna bi fadhllillahi wa rahmatih" ketika turun hujan atau mendapat nikmat.
  3. Pahami perbedaan antara sebab (usaha) dan pelaku sejati (Allah). Kita boleh berusaha, tetapi yakinlah bahwa hasilnya dari Allah.
  4. Jauhi perkataan orang-orang jahiliyah yang menyandarkan kejadian alam kepada bintang, ramalan, atau hal-hal lain di luar ketentuan Allah.
  5. Perbanyak syukur atas nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya, karena syukur akan menambah nikmat, sedangkan kufur nikmat akan mendatangkan azab.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?