Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita tentang adab seorang muslim ketika mendapatkan nikmat, khususnya hujan. Kita wajib meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan karunia Allah semata. Mengaitkan turunnya hujan dengan bintang atau sebab-sebab lain di luar ketetapan Allah, dengan keyakinan bahwa bintang itulah yang menurunkan hujan, adalah bentuk kesyirikan dan kekufuran. Hadits ini menegaskan bahwa iman kepada Allah menuntut kita untuk tidak meyakini adanya kekuatan lain yang mengatur alam semesta selain Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini adalah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Iman, Bab "Bayani Kufri Man Qala: Mutirna bi an-Nau'", no. 71. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih-nya, Kitab al-Adab, Bab "Man Qala: Mutirna bi an-Nau'", no. 8463.
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
Allah Ta'ala berfirman:
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ ۖ ثُمَّ إِذَا مَسَّكُمُ الضُّرُّ فَإِلَيْهِ تَجْأَرُونَ
"Dan segala nikmat yang ada padamu adalah dari Allah, kemudian apabila kamu ditimpa kesengsaraan, maka hanya kepada-Nyalah kamu meminta pertolongan." (QS. An-Nahl [16]: 53)
Ayat ini menegaskan bahwa seluruh nikmat, termasuk hujan, berasal dari Allah semata. Tidak ada satu pun makhluk yang memiliki andil dalam menurunkan nikmat tersebut.
Kaitan dengan ulama:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (kitab yang menjadi rujukan utama dalam memahami hadits-hadits Muslim) menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil tegas tentang larangan mengucapkan perkataan yang mengandung pengagungan terhadap selain Allah dalam urusan yang merupakan kekuasaan Allah. Beliau menukil kesepakatan ulama bahwa perkataan "kami hujan karena bintang ini" yang diyakini sebagai sebab langsung turunnya hujan adalah kekufuran. Namun, jika diucapkan sebagai informasi tanpa keyakinan bahwa bintang yang menurunkan hujan, maka hukumnya makruh dan terlarang karena menyerupai perkataan orang-orang jahiliyah.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting:
1. Makna Iman dan Kufur dalam Hadits
Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan menjelaskan bahwa iman dan kufur yang disebutkan dalam hadits ini adalah iman dan kufur dalam konteks tauhid rububiyyah. Orang yang mengatakan "kami hujan karena karunia dan rahmat Allah" berarti ia mengakui bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb yang mengatur alam semesta, termasuk menurunkan hujan. Sedangkan orang yang mengatakan "kami hujan karena bintang ini dan itu" berarti ia telah menisbatkan perbuatan menurunkan hujan kepada bintang, sehingga ia telah beriman kepada bintang sebagai pengatur alam, dan ini adalah kekufuran.
2. Perbedaan Antara Sebab dan Pelaku
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh al-Arba'in an-Nawawiyah menjelaskan bahwa hujan memang bisa terjadi karena sebab-sebab alamiah seperti awan dan angin. Namun, sebab-sebab ini hanyalah perantara yang Allah ciptakan. Yang menurunkan hujan dengan kekuasaan-Nya hanyalah Allah. Maka ketika seseorang mengatakan "kita hujan karena bintang ini", jika ia meyakini bahwa bintang tersebut memiliki kekuatan sendiri untuk menurunkan hujan, maka ini adalah syirik besar. Jika ia hanya menginformasikan kebiasaan yang terjadi tanpa keyakinan, maka ini adalah perkataan yang terlarang karena menyerupai perkataan orang-orang jahiliyah.
3. Adab Mensyukuri Nikmat
Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa mensyukuri nikmat adalah dengan mengakui bahwa nikmat itu berasal dari Allah, memuji-Nya atas nikmat tersebut, dan menggunakan nikmat itu untuk ketaatan kepada-Nya. Mengaitkan nikmat dengan selain Allah adalah bentuk pengingkaran terhadap nikmat dan kekufuran terhadap pemberi nikmat.
4. Hukum Mengucapkan Perkataan Tersebut
Para ulama membedakan beberapa kondisi:
- Jika seseorang meyakini bintang atau benda langit lainnya yang menurunkan hujan dengan kekuatannya sendiri, maka ini adalah kufur akbar (kekufuran besar) yang mengeluarkan pelakunya dari Islam.
- Jika seseorang mengucapkannya sebagai kebiasaan tanpa keyakinan bahwa bintang yang menurunkan hujan, maka ini adalah kufur ashghar (kekufuran kecil) atau perbuatan yang terlarang dan makruh, karena menyerupai perkataan orang-orang jahiliyah.
Imam Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa perkataan ini termasuk dalam bab "menisbatkan nikmat kepada selain Allah", dan ini bertentangan dengan kesempurnaan tauhid.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa seorang sahabat bernama Zaid bin Khalid al-Juhani radhiyallahu 'anhu, yang meriwayatkan hadits ini, adalah salah seorang sahabat yang ikut dalam perjanjian Hudaibiyah. Pada saat itu, Rasulullah ﷺ dan para sahabat sedang dalam perjalanan menuju Makkah untuk berumrah, namun dihalangi oleh kaum Quraisy. Di tengah perjalanan, mereka mengalami hujan di malam hari, dan setelah shalat subuh, Rasulullah ﷺ menyampaikan hadits ini.
Hikmah dari kisah ini adalah bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan para sahabatnya untuk selalu mengaitkan segala sesuatu dengan Allah, bahkan dalam kondisi yang sulit sekalipun. Beliau tidak melewatkan kesempatan untuk mengajarkan tauhid dan membersihkan akidah para sahabat dari sisa-sisa kebiasaan jahiliyah. Ini menunjukkan perhatian besar Nabi ﷺ terhadap kemurnian akidah umatnya.
Kesimpulan Praktis
- Jadikan Allah sebagai satu-satunya sumber segala nikmat. Ketika mendapatkan nikmat, ucapkanlah "Alhamdulillah" dan yakini bahwa semua itu dari Allah.
- Hindari perkataan yang menisbatkan nikmat kepada selain Allah, seperti "kami hujan karena bintang ini" atau perkataan sejenisnya, karena ini bertentangan dengan tauhid.
- Ajarkan hal ini kepada keluarga dan orang-orang di sekitar kita, karena banyak di antara kaum muslimin yang masih mengucapkan perkataan seperti ini tanpa menyadari maknanya.
- Perbanyak doa ketika turun hujan, karena hujan adalah waktu mustajabnya doa, sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits shahih.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.