Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 677 tentang Doa qunut kutukan bagi suku pengkhianat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menceritakan tentang doa qunut nazilah yang dilakukan Rasulullah ﷺ selama tiga puluh hari setelah peristiwa pembunuhan para sahabat di Bi'r Ma'unah. Beliau mendoakan kebinasaan bagi suku-suku yang berkhianat, yaitu Ri'l, Dzakwan, Lihyan, dan 'Ushayyah. Hadits ini juga menunjukkan bahwa ada ayat Al-Qur'an yang turun tentang para syuhada Bi'r Ma'unah, lalu ayat tersebut dihapus (mansukh) bacaannya, tetapi maknanya tetap benar, yaitu kabar gembira bahwa mereka telah bertemu Rabb mereka dalam keadaan Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Imam Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Masajid wa Mawadhi' Ash-Shalah, Bab Istihbab Al-Qunut fi Jami' Ash-Shalah. Lafaznya:

وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ إِسْحَاقَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ دَعَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى الَّذِينَ قَتَلُوا أَصْحَابَ بِئْرِ مَعُونَةَ ثَلاَثِينَ صَبَاحًا يَدْعُو عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَلِحْيَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَتِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ. قَالَ أَنَسٌ أَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ فِي الَّذِينَ قُتِلُوا بِبِئْرِ مَعُونَةَ قُرْآنًا قَرَأْنَاهُ حَتَّى نُسِخَ بَعْدُ أَنْ بَلِّغُوا قَوْمَنَا أَنْ قَدْ لَقِينَا رَبَّنَا فَرَضِيَ عَنَّا وَرَضِينَا عَنْهُ.

Ayat Al-Qur'an yang Terkait:

Peristiwa ini berkaitan dengan firman Allah tentang orang-orang yang berjihad di jalan-Nya:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا ۚ بَلْ أَحْيَاءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

"Dan janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapat rezeki." (QS. Ali 'Imran [3]: 169)

Penjelasan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa doa qunut nazilah ini dilakukan Rasulullah ﷺ selama tiga puluh hari, dan beliau mendoakan keburukan bagi suku-suku yang berkhianat tersebut. Ini menunjukkan bolehnya mendoakan keburukan bagi orang-orang kafir yang memerangi Islam secara terang-terangan.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa peristiwa Bi'r Ma'unah terjadi pada bulan Shafar tahun ke-4 Hijriah, dan qunut nazilah ini disyariatkan ketika terjadi musibah besar yang menimpa kaum muslimin.
  • Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim menyebutkan bahwa ayat yang turun tentang para syuhada Bi'r Ma'unah adalah firman Allah: "Sampaikan kepada kaum kami bahwa kami telah bertemu Rabb kami, maka Dia ridha kepada kami dan kami ridha kepada-Nya." Ayat ini kemudian dihapus bacaannya (mansukh at-tilawah) tetapi tetap tercatat dalam hati para sahabat sebagai kabar gembira.

Penjelasan Rinci

1. Konteks Peristiwa Bi'r Ma'unah:

Peristiwa ini terjadi ketika Rasulullah ﷺ mengirim tujuh puluh orang sahabat yang hafal Al-Qur'an untuk mengajarkan Islam kepada penduduk Najd. Mereka dipimpin oleh Al-Mundzir bin 'Amr. Ketika sampai di Bi'r Ma'unah, mereka dikhianati oleh 'Amir bin Thufail yang meminta Bani 'Amir untuk membunuh mereka. Namun Bani 'Amir menolak karena ada perjanjian damai. Maka 'Amir bin Thufail meminta bantuan suku-suku lain yaitu Ri'l, Dzakwan, Lihyan, dan 'Ushayyah yang ternyata mau membantunya. Mereka mengepung dan membunuh para sahabat tersebut dengan keji. Hanya Ka'ab bin Zaid yang selamat dan kembali melaporkan kejadian ini kepada Rasulullah ﷺ.

2. Hikmah Doa Qunut Nazilah:

Rasulullah ﷺ melakukan qunut nazilah selama tiga puluh hari, mendoakan kebinasaan bagi suku-suku yang berkhianat. Ini menunjukkan:

  • Disyariatkannya qunut nazilah ketika terjadi musibah besar yang menimpa kaum muslimin, seperti yang dijelaskan oleh Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal.
  • Doa ini khusus untuk orang-orang kafir yang memerangi Islam, bukan untuk sesama muslim. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa qunut nazilah boleh dilakukan untuk mendoakan kebaikan bagi kaum muslimin dan keburukan bagi musuh-musuh Allah yang terang-terangan memerangi Islam.
  • Rasulullah ﷺ tidak berdoa untuk kebinasaan seluruh manusia, tetapi hanya untuk suku-suku tertentu yang berkhianat dan membunuh para utusan dakwah. Ini menunjukkan keadilan dan ketepatan dalam berdoa.

3. Ayat yang Dihapus Bacaannya:

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu mengabarkan bahwa Allah menurunkan ayat tentang para syuhada Bi'r Ma'unah yang berbunyi: "Sampaikan kepada kaum kami bahwa kami telah bertemu Rabb kami, maka Dia ridha kepada kami dan kami ridha kepada-Nya." Ayat ini kemudian dihapus bacaannya (mansukh at-tilawah) tetapi tetap menjadi kabar gembira yang diketahui para sahabat.

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini termasuk ayat yang dihapus bacaannya tetapi tetap kekal maknanya. Para ulama menyebut ini sebagai mansukh at-tilawah (dihapus bacaannya) namun baqiyyah al-hukm (tetap maknanya). Ini menunjukkan bahwa para syuhada tersebut telah mencapai derajat yang tinggi di sisi Allah.

4. Pelajaran tentang Kesabaran dan Keteguhan:

Peristiwa ini menunjukkan bahwa dakwah Islam tidak pernah lepas dari ujian dan cobaan. Para sahabat yang gugur di Bi'r Ma'unah adalah orang-orang pilihan yang hafal Al-Qur'an, namun mereka tetap diuji dengan kematian syahid. Ini mengajarkan kita bahwa kedudukan di sisi Allah tidak diukur dengan keselamatan duniawi, tetapi dengan keikhlasan dan kesabaran dalam menegakkan agama-Nya.

Story Telling

Dikisahkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, bahwa ketika berita pembunuhan para sahabat di Bi'r Ma'unah sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau sangat sedih dan marah. Beliau kemudian berdoa qunut selama tiga puluh hari, mendoakan kebinasaan bagi suku-suku yang berkhianat.

Di antara para syuhada tersebut adalah Al-Harits bin Shammah dan Haram bin Milhan radhiyallahu 'anhuma. Ketika Haram bin Milhan hendak menyampaikan risalah Rasulullah ﷺ kepada 'Amir bin Thufail, ia ditikam dari belakang. Namun sebelum meninggal, ia sempat mengucapkan: "Allahu Akbar, aku menang, demi Rabb Ka'bah!" Ia gugur dalam keadaan tersenyum karena mengetahui bahwa ia telah mencapai kemenangan yang hakiki, yaitu syahid di jalan Allah.

Kisah ini menunjukkan bahwa para sahabat memandang kematian syahid sebagai kemenangan terbesar, bukan sebagai kekalahan. Mereka ridha kepada Allah, maka Allah pun ridha kepada mereka.

Kesimpulan Praktis

  1. Qunut nazilah disyariatkan ketika terjadi musibah besar yang menimpa kaum muslimin, sebagaimana dilakukan Rasulullah ﷺ selama tiga puluh hari.
  2. Doa keburukan untuk orang kafir yang terang-terangan memerangi Islam diperbolehkan, tetapi tidak untuk sesama muslim.
  3. Para syuhada memiliki kedudukan mulia di sisi Allah, dan mereka hidup serta mendapat rezeki di sisi-Nya.
  4. Ayat Al-Qur'an bisa dihapus bacaannya tetapi tetap kekal maknanya, sebagaimana ayat tentang para syuhada Bi'r Ma'unah.
  5. Dakwah Islam membutuhkan pengorbanan, dan kita harus siap menghadapi ujian dalam menegakkan agama Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.