Penjelasan Hadits Muslim No. 644 tentang Waktu shalat Isya dan larangan menamainya Atama

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita untuk menjaga nama shalat yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan, yaitu shalat Isya, dan tidak meniru kebiasaan orang-orang badui yang menamakannya "Atamah" (karena mereka mengakhirkan shalat hingga larut malam untuk memerah unta). Ini adalah bentuk penjagaan syiar Islam dan adab dalam beribadah, agar kita tidak terbawa kebiasaan yang bisa menghilangkan identitas ibadah kita.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Masajid wa Mawadhi' Ash-Shalah, Bab Waktu Isya' wa Ta'khiriha, no. 644, dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma.

Teks Arab Hadits (dengan harakat lengkap):

وَحَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، وَابْنُ أَبِي عُمَرَ، قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ ابْنِ أَبِي لَبِيدٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: "لَا تَغْلِبَنَّكُمُ الْأَعْرَابُ عَلَى اسْمِ صَلَاتِكُمْ، أَلَا إِنَّهَا الْعِشَاءُ، وَهُمْ يُعْتِمُونَ بِالْإِبِلِ".

Terjemahan:

"Janganlah kalian dikalahkan oleh orang-orang badui dalam hal nama shalat kalian. Ketahuilah, sesungguhnya (shalat itu) adalah Isya, sedangkan mereka menamakannya 'Atamah karena mereka memerah unta di larut malam."

Dalil Al-Qur'an yang relevan:

Allah Ta'ala berfirman:

QS. Hud [11]: 114

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ

"Dan laksanakanlah shalat pada kedua ujung siang (pagi dan petang) dan pada bagian permulaan malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itulah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat (Allah)."

Para ulama menafsirkan "zulafan minal-lail" (bagian permulaan malam) sebagai shalat Isya. Ini menunjukkan bahwa Allah sendiri menamakannya dengan nama yang jelas, bukan dengan istilah lain yang bisa menghilangkan makna ibadah tersebut.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung pelajaran penting tentang menjaga nama-nama ibadah yang telah ditetapkan syariat. Rasulullah ﷺ melarang umatnya meniru orang-orang badui yang menamakan shalat Isya dengan sebutan "Atamah" (عتمة), yang artinya kegelapan atau larut malam.

Penjelasan para ulama:

  1. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah larangan untuk menamakan shalat Isya dengan "Atamah". Beliau menukil kesepakatan ulama bahwa nama yang benar adalah Isya, dan menyebutnya "Atamah" hanyalah sekadar informasi tentang waktu, bukan nama resmi shalat. Namun, sebagian ulama membolehkan menyebutnya "Atamah" jika disertai penjelasan bahwa itu adalah shalat Isya, karena tujuannya hanya memberi tahu waktu.
  2. Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa larangan ini bersifat makruh (tidak disukai) jika tujuannya sekadar mengganti nama, karena nama "Isya" telah ditetapkan oleh Al-Qur'an dan Sunnah. Beliau juga menukil perkataan Imam Malik yang membenci penyebutan "Atamah" sebagai nama shalat.
  3. Imam Ibnul Qayyim dalam Zad al-Ma'ad menjelaskan bahwa syariat Islam datang dengan nama-nama yang mulia dan jelas untuk ibadah-ibadahnya. Mengganti nama tersebut dengan istilah lain yang berasal dari kebiasaan masyarakat bisa menghilangkan keberkahan dan makna ibadah itu sendiri.
  4. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menegaskan bahwa pelajaran utama dari hadits ini adalah menjaga syiar-syiar Islam dan tidak meremehkan hal-hal yang berkaitan dengan identitas ibadah. Beliau juga menjelaskan bahwa orang-orang badui saat itu menyebut "Atamah" karena mereka biasa mengakhirkan shalat Isya hingga larut malam untuk memerah unta, sehingga nama itu melekat pada kebiasaan mereka.

Hikmah larangan ini:

  • Menjaga kemurnian ajaran Islam dari pengaruh budaya atau kebiasaan yang bisa menggeser istilah-istilah syar'i.
  • Mengajarkan umat untuk bangga dengan identitas keislaman mereka.
  • Menunjukkan bahwa Islam memiliki tuntunan yang lengkap, termasuk dalam hal penamaan ibadah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma sangat memperhatikan adab-adab dalam ibadah. Suatu ketika, beliau mendengar ada orang yang menyebut shalat Isya dengan "Atamah", maka beliau mengingatkannya dengan hadits ini. Beliau tidak ingin umat Islam terbiasa dengan istilah yang bisa menghilangkan nama yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Kisah ini menunjukkan betapa para sahabat sangat menjaga setiap detail ajaran Nabi ﷺ, termasuk dalam hal penamaan ibadah. Mereka paham bahwa hal sekecil ini pun memiliki makna besar dalam menjaga kemurnian syariat.

Kesimpulan Praktis

  1. Gunakan nama-nama ibadah sebagaimana yang diajarkan Al-Qur'an dan Sunnah, seperti "shalat Isya", bukan "shalat Atamah" atau istilah lain yang tidak syar'i.
  2. Jaga syiar-syiar Islam dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam cara kita menyebut ibadah-ibadah kita.
  3. Jangan mudah terpengaruh kebiasaan masyarakat yang bisa menggeser istilah-istilah syar'i, meskipun tujuannya hanya sekadar kebiasaan.
  4. Pelajari adab-adab ibadah dari para ulama agar kita bisa mengamalkan Islam dengan benar dan penuh kesadaran.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?