Penjelasan Hadits Muslim No. 600 tentang Doa antara takbir dan bacaan mendapat sambutan malaikat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa seorang muslim boleh mengucapkan pujian kepada Allah (dzikir) di antara takbiratul ihram dan bacaan Al-Fatihah, terutama ketika ia datang terlambat dan napasnya masih tersengal. Nabi ﷺ tidak menyalahkan perbuatan itu, bahkan membenarkannya dan mengabarkan bahwa dua belas malaikat berebut mengangkat kalimat pujian tersebut. Ini menunjukkan keutamaan kalimat "الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه" dan luasnya rahmat Allah bagi hamba yang memuji-Nya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab al-Masajid wa Mawadhi' ash-Shalah, Bab Ma Yuqalu Bainat Takbiratil Ihram wal Qira'ah, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits (potongan utama):

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

"Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak, baik, dan diberkahi di dalamnya."

Sabda Nabi ﷺ:

لَقَدْ رَأَيْتُ اثْنَىْ عَشَرَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَرْفَعُهَا

"Sungguh aku melihat dua belas malaikat saling berlomba untuk mengangkatnya (ke hadapan Allah)."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan dzikir dan pujian:

QS. Al-Ahzab [33]: 41

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

"Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kepada Allah dengan dzikir yang banyak."

QS. Al-Baqarah [2]: 152

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

"Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Bolehnya berdzikir di antara takbiratul ihram dan Al-Fatihah.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya mengucapkan pujian kepada Allah setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah. Ini termasuk doa istiftah (pembuka). Para ulama berbeda pendapat tentang lafazh istiftah yang paling utama, namun mereka sepakat bahwa berdzikir di waktu ini adalah sunnah. Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal sama-sama menetapkan adanya doa istiftah dalam shalat.

Kedua: Keutamaan kalimat pujian ini.

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa kalimat "حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه" mengandung tiga sifat pujian: banyak (كثيرًا), baik (طيبًا), dan penuh berkah (مباركًا فيه). Ini menunjukkan kesempurnaan pujian kepada Allah dari segi jumlah, kualitas, dan keberkahannya. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dzikir yang banyak adalah tanda keimanan yang kuat.

Ketiga: Sikap Nabi ﷺ yang lembut dan tidak menghakimi.

Perhatikan bagaimana Nabi ﷺ bertanya dengan lembut: "Siapa yang mengucapkan kalimat ini?" dan menegaskan "Dia tidak mengatakan sesuatu yang salah." Ini menunjukkan adab Nabi ﷺ dalam mengajar — beliau tidak langsung menegur, tetapi bertanya untuk memberi kesempatan kepada pelakunya menjelaskan. Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menjelaskan bahwa metode pengajaran Nabi ﷺ sering menggunakan pertanyaan untuk menarik perhatian dan menegaskan hukum.

Keempat: Dua belas malaikat berebut mengangkat kalimat tersebut.

Ibn Taymiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa para malaikat memiliki tugas mencatat amal hamba, dan mereka bersemangat untuk mencatat amal-amal saleh. Dalam hadits ini, dua belas malaikat menunjukkan betapa mulianya kalimat pujian tersebut di hadapan Allah. Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya menyebutkan bahwa amal yang ikhlas dan baik akan diangkat oleh para malaikat dengan penuh kemuliaan.

Kelima: Keadaan darurat (terengah-engah) tidak menghalangi dzikir.

Sahabat tersebut datang dengan napas tersengal karena bergegas menuju shalat, namun ia tetap mengucapkan pujian kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa dzikir dan pujian kepada Allah tidak perlu menunggu kondisi sempurna. Al-Hasan al-Bashri dan Qatadah bin Di'amah as-Sadusi — yang merupakan perawi dalam sanad hadits ini — dikenal sebagai ulama yang sangat memperhatikan dzikir dan hati yang hadir dalam ibadah.

Story Telling

Dikisahkan bahwa seorang sahabat Anshar datang ke masjid dengan tergesa-gesa. Ia berlari dari rumahnya karena khawatir tertinggal shalat berjamaah bersama Rasulullah ﷺ. Ketika ia sampai di shaf, napasnya masih tersengal-sengal, dada naik turun, dan keringat bercucuran. Namun sebelum ia sempat mengatur napas, ia langsung mengucapkan:

الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ

Ia tidak menyadari bahwa Rasulullah ﷺ mendengar ucapannya. Setelah shalat selesai, Nabi ﷺ bertanya kepada seluruh jamaah: "Siapa yang mengucapkan kalimat itu?" Semua terdiam, tidak ada yang berani mengaku karena merasa mungkin telah melakukan kesalahan dalam shalat. Nabi ﷺ bertanya lagi, dan menegaskan bahwa kalimat itu bukanlah sesuatu yang salah. Akhirnya sahabat itu mengaku: "Aku datang dengan napas tersengal, lalu aku mengucapkannya."

Maka Nabi ﷺ pun bersabda dengan penuh kekaguman: "Sungguh aku melihat dua belas malaikat saling berlomba untuk mengangkat kalimat itu." Bayangkan — sebuah kalimat sederhana yang diucapkan dalam keadaan lelah dan tergesa-gesa, namun para malaikat berebut untuk mengangkatnya ke hadapan Allah. Ini menunjukkan betapa Allah Maha Pemurah kepada hamba-Nya yang memuji-Nya dengan tulus.

Kesimpulan Praktis

  1. Boleh mengucapkan pujian kepada Allah setelah takbiratul ihram sebelum membaca Al-Fatihah, terutama kalimat "الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه".
  2. Jangan ragu berdzikir dalam keadaan apa pun — bahkan saat lelah, tergesa-gesa, atau napas tersengal, dzikir tetap bernilai di sisi Allah.
  3. Belajarlah adab Nabi ﷺ dalam menegur — bertanya dengan lembut, tidak menghakimi, dan memberi kesempatan kepada orang lain untuk menjelaskan.
  4. Yakinlah bahwa amal saleh tidak akan sia-sia — para malaikat mencatat dan mengangkatnya dengan penuh kemuliaan.
  5. Perbanyaklah pujian kepada Allah dengan kalimat yang diajarkan dalam hadits ini, karena ia memiliki keutamaan besar yang tidak kita ketahui sepenuhnya.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?