Penjelasan Hadits Muslim No. 599 tentang Bacaan doa iftitah antara takbir dan Al-Fatihah

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa ketika Nabi ﷺ berdiri untuk rakaat kedua, beliau langsung memulai dengan membaca Al-Fatihah tanpa jeda atau doa istiftah di antara keduanya. Ini menunjukkan bahwa doa istiftah (doa pembuka shalat) hanya disunnahkan pada rakaat pertama saja, bukan pada setiap rakaat. Para ulama sepakat bahwa membaca doa istiftah dilakukan sekali setelah takbiratul ihram di rakaat pertama, dan tidak diulangi pada rakaat-rakaat berikutnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Al-Masajid wa Mawadhi' Ash-Shalah, Bab "Ma Yuqalu baina Takbiratil Ihram wal Qira'ah", no. 599, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Teks hadits yang disebutkan dalam pertanyaan adalah bagian akhir dari hadits yang lebih panjang. Dalam riwayat lengkapnya, Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu menceritakan tata cara shalat Nabi ﷺ, dan di akhir riwayat tersebut beliau berkata:

"وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا نَهَضَ مِنَ الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ اسْتَفْتَحَ الْقِرَاءَةَ بِـ {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} وَلَمْ يَسْكُتْ"

Artinya: "Dan apabila Rasulullah ﷺ berdiri dari rakaat kedua, beliau memulai bacaannya dengan 'Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin' (Al-Fatihah) dan beliau tidak diam (tidak membaca doa istiftah)."

Kaitan dengan ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim (Al-Minhaj) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan doa istiftah hanya disunnahkan pada rakaat pertama. Beliau berkata: "Para ulama sepakat bahwa doa istiftah disunnahkan setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama, dan tidak disunnahkan pada rakaat lainnya." (Lihat: Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, 4/105)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah juga menjelaskan dalam Syarah Al-Arba'in dan kitab-kitab fiqihnya bahwa istiftah adalah sunnah yang dilakukan sekali di awal shalat, dan tidak diulang pada setiap rakaat. Ini berdasarkan hadits di atas dan hadits-hadits lain yang menggambarkan shalat Nabi ﷺ.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa doa istiftah (seperti "Subhanakallahumma wa bihamdika..." atau "Wajjahtu wajhiya...") adalah doa pembuka yang dibaca setelah takbiratul ihram dan sebelum membaca Al-Fatihah. Hukumnya sunnah, bukan wajib.

Adapun mengenai tempatnya, para ulama dari kalangan sahabat, tabi'in, dan imam-imam madzhab sepakat bahwa doa istiftah hanya dibaca pada rakaat pertama. Hal ini berdasarkan beberapa dalil:

  1. Hadits Abu Hurairah di atas yang dengan tegas menyatakan bahwa ketika Nabi ﷺ berdiri untuk rakaat kedua, beliau langsung membaca Al-Fatihah tanpa jeda diam (yang berarti tanpa doa istiftah).
  2. Hadits Aisyah radhiyallahu 'anha yang menggambarkan shalat Nabi ﷺ secara lengkap, bahwa beliau memulai shalat dengan takbir, kemudian membaca doa istiftah, kemudian membaca Al-Fatihah. Dalam riwayat tersebut tidak disebutkan bahwa beliau mengulangi doa istiftah pada rakaat kedua.

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (2/225) ketika mensyarah hadits-hadits tentang sifat shalat menyebutkan: "Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama bahwa doa istiftah tidak diulang pada setiap rakaat, karena ia hanyalah pembuka shalat, dan shalat hanya dibuka sekali."

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah juga menjelaskan dalam kitabnya bahwa di antara sunnah-sunnah shalat adalah membaca doa istiftah setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama saja. Adapun pada rakaat kedua dan seterusnya, langsung membaca Al-Fatihah.

Pelajaran penting dari hadits ini:

  1. Doa istiftah adalah sunnah yang dilakukan sekali di awal shalat, bukan di setiap rakaat.
  2. Jika seseorang lupa atau tidak membaca doa istiftah, shalatnya tetap sah karena ia hanya sunnah, bukan rukun.
  3. Yang wajib adalah membaca Al-Fatihah di setiap rakaat, sedangkan doa istiftah hanyalah pembuka sebelum Al-Fatihah di rakaat pertama.
  4. Hadits ini juga menunjukkan bahwa tidak ada doa atau dzikir khusus yang dibaca antara sujud dan berdiri untuk rakaat kedua selain takbir untuk bangkit dari sujud.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki masuk masjid dan shalat dengan tergesa-gesa. Setelah selesai, ia datang memberi salam kepada Nabi ﷺ. Beliau bersabda: "Ulangilah shalatmu, karena sesungguhnya engkau belum shalat." Orang itu mengulanginya, namun tetap dengan cara yang sama. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, ajarkanlah aku, karena aku tidak tahu cara shalat yang benar."

Maka Nabi ﷺ mengajarkannya: "Apabila engkau berdiri untuk shalat, maka sempurnakanlah wudhu, kemudian menghadaplah ke kiblat, lalu bertakbirlah. Kemudian bacalah apa yang mudah bagimu dari Al-Qur'an..." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ mengajarkan doa istiftah dan bacaan Al-Fatihah di awal shalat, namun tidak menyebutkan bahwa hal itu diulang di setiap rakaat. Ini menunjukkan bahwa ajaran Nabi ﷺ tentang istiftah hanyalah di awal shalat saja, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah yang sedang kita bahas.

Kisah ini mengajarkan kita bahwa dalam beribadah, kita harus mengikuti contoh Nabi ﷺ dengan teliti, tidak menambah atau mengurangi. Sebagaimana para sahabat sangat memperhatikan detail shalat Nabi ﷺ, kita pun hendaknya mempelajari tata cara shalat yang benar dari sumber-sumber yang shahih.

Kesimpulan Praktis

  1. Baca doa istiftah setelah takbiratul ihram pada rakaat pertama, sebelum membaca Al-Fatihah.
  2. Pada rakaat kedua, ketiga, dan keempat, langsung membaca Al-Fatihah tanpa doa istiftah.
  3. Jika tidak hafal doa istiftah, boleh membaca dzikir lain atau langsung membaca Al-Fatihah, karena istiftah hukumnya sunnah.
  4. Jangan menambah-nambah amalan yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ dalam shalat.
  5. Pelajari tata cara shalat dari hadits-hadits shahih dan penjelasan para ulama agar ibadah kita sesuai dengan tuntunan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?