Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 593 tentang Dzikir setelah shalat: keesaan Allah dan kekuasaan-Nya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita dzikir yang dibaca oleh Nabi ﷺ setiap selesai shalat wajib sebelum berpaling. Dzikir ini mengandung pujian kepada Allah, pengakuan keesaan-Nya, dan pengakuan bahwa segala sesuatu berada di tangan Allah semata. Ini adalah amalan yang ringan namun sangat agung pahalanya, dan dianjurkan untuk kita baca setelah salam.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Masajid wa Mawaadi' ash-Shalah, Bab "Disunnahkannya Dzikir Setelah Shalat", nomor 593, dari sahabat Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu.

Teks Arab Hadits (dengan harakat):

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنِ الْمُسَيَّبِ بْنِ رَافِعٍ، عَنْ وَرَّادٍ، مَوْلَى الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ: كَتَبَ الْمُغِيرَةُ بْنُ شُعْبَةَ إِلَى مُعَاوِيَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنَ الصَّلَاةِ وَسَلَّمَ قَالَ: "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ"

Terjemahan: "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan milik-Nya segala pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menghalangi apa yang Engkau berikan, dan tidak ada yang dapat memberi apa yang Engkau halangi, dan tidaklah bermanfaat kekayaan dan kedudukan dari-Mu, karena hanya dari-Mu lah segala kekayaan dan kedudukan itu."

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

"Katakanlah (Muhammad), 'Wahai Allah, Pemilik segala kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu lah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.'" (QS. Ali 'Imran [3]: 26)

Ayat ini sangat erat kaitannya dengan doa dalam hadits di atas, karena sama-sama menegaskan bahwa kerajaan dan kekuasaan sepenuhnya di tangan Allah, dan tidak ada yang dapat menghalangi ketetapan-Nya.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa faedah penting dari hadits ini:

1. Keutamaan Dzikir Ini:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa dzikir ini disunnahkan dibaca setelah shalat, dan beliau menyebutkan bahwa dzikir ini adalah salah satu dzikir yang diajarkan Nabi ﷺ untuk dibaca setelah salam. Beliau juga menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya dzikir setelah shalat secara umum.

2. Kandungan Tauhid dan Pujian:

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa kalimat "لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ" adalah kalimat tauhid yang menafikan segala bentuk kesyirikan dan menetapkan keesaan Allah dalam ibadah. Kemudian "لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ" menegaskan bahwa seluruh kerajaan alam semesta milik Allah, dan segala pujian hanya layak bagi-Nya. Ini mengajarkan kita untuk menggabungkan antara tauhid rububiyah (ketuhanan) dan tauhid uluhiyah (ibadah).

3. Makna "لَا يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ":

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa kata "الْجَدُّ" di sini bermakna kekayaan, kedudukan, dan keagungan. Makna kalimat ini adalah: "Wahai Allah, seseorang yang memiliki kekayaan dan kedudukan, kekayaan dan kedudukannya itu tidak akan menyelamatkannya dari siksa-Mu. Hanya amal ketaatan yang Engkau terima yang bermanfaat baginya." Ini adalah pengakuan bahwa semua kelebihan duniawi tidak ada artinya di hadapan Allah kecuali dengan rahmat dan karunia-Nya.

4. Pelajaran tentang Qadha dan Qadar:

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa doa "اللَّهُمَّ لَا مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ وَلَا مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ" mengandung penetapan iman kepada qadha dan qadar. Tidak ada seorang pun yang bisa menghalangi takdir Allah, dan tidak ada yang bisa memberikan sesuatu yang telah Allah halangi. Ini mengajarkan kita untuk ridha dengan ketetapan Allah dan tidak bergantung kepada makhluk.

5. Penerapan Praktis:

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa para sahabat dahulu membiasakan dzikir setelah shalat. Dalam hadits ini, Al-Mughirah bin Syu'bah menulis surat kepada Mu'awiyah untuk mengajarkan dzikir ini, menunjukkan bahwa para sahabat sangat perhatian dalam menyebarkan sunnah Nabi ﷺ kepada sesama muslim, bahkan melalui surat.

Story Telling

Dari kisah yang melatarbelakangi hadits ini, kita melihat teladan indah dari sahabat Al-Mughirah bin Syu'bah radhiyallahu 'anhu. Beliau menulis surat kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu yang saat itu menjabat sebagai gubernur Syam. Dalam suratnya, beliau tidak berbicara tentang urusan dunia atau politik, tetapi justru mengajarkan dzikir yang diajarkan Rasulullah ﷺ.

Ini menunjukkan bahwa para sahabat sangat antusias menyebarkan ilmu dan sunnah Nabi ﷺ, walaupun kepada orang yang lebih tinggi kedudukannya. Mereka tidak malu-malu dalam menyampaikan kebaikan, dan mereka memahami bahwa ilmu agama adalah warisan terbaik yang bisa dibagikan.

Hikmahnya: kita pun hendaknya saling mengingatkan dalam kebaikan, terutama dalam hal-hal yang diajarkan Nabi ﷺ, walaupun kepada orang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya, selama disampaikan dengan adab yang baik.

Kesimpulan Praktis

  1. Biasakan membaca dzikir ini setelah shalat wajib sebelum berpaling dari tempat shalat, sebagaimana yang dilakukan Nabi ﷺ.
  2. Renungkan maknanya: bahwa hanya Allah yang berhak disembah, segala pujian dan kerajaan milik-Nya, dan semua ketetapan-Nya tidak bisa dihalangi oleh siapa pun.
  3. Amalkan dengan penuh keyakinan bahwa dzikir ini adalah wasiat Nabi ﷺ yang agung, dan pahalanya sangat besar di sisi Allah.
  4. Ajarkan kepada keluarga dan orang-orang di sekitar kita, sebagaimana Al-Mughirah mengajarkannya kepada Mu'awiyah melalui surat.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.