Penjelasan Hadits Muslim No. 556 tentang Larangan shalat dengan pakaian bergambar yang mengganggu

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita sebuah adab dan kekhusyukan dalam shalat. Nabi ﷺ pernah shalat mengenakan kain bergambar (bermotif) yang membuat beliau terganggu, lalu beliau menukarnya dengan kain polos. Pelajaran utamanya adalah kita dianjurkan untuk menjauhkan segala hal yang bisa mengganggu konsentrasi dalam shalat, termasuk pakaian yang ramai motif atau bergambar.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits (sesuai yang Anda sertakan):

حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ، وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، ح قَالَ وَحَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، - وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ - قَالُوا حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَلَّى فِي خَمِيصَةٍ لَهَا أَعْلاَمٌ وَقَالَ " شَغَلَتْنِي أَعْلاَمُ هَذِهِ فَاذْهَبُوا بِهَا إِلَى أَبِي جَهْمٍ وَائْتُونِي بِأَنْبِجَانِيِّهِ "

Terjemahan: Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwasanya Nabi ﷺ shalat mengenakan khamishah (kain wol yang bermotif) yang memiliki tanda/garis-garis. Beliau bersabda: "Tanda-tanda (motif) ini telah menggangguku. Bawalah kain ini kepada Abu Jahm, dan bawakanlah untukku anbijaniyyah-nya (kain polos milik Abu Jahm)." (HR. Muslim no. 556)

Kaitan dengan Ulama:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjadikan hadits ini sebagai dalil tentang pentingnya menjaga kekhusyukan shalat dan menjauhi hal-hal yang dapat melalaikan hati.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

  1. Kekhusyukan adalah Ruh Shalat: Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyyah dalam kitabnya Al-Wabilush Shayyib menjelaskan bahwa kekhusyukan adalah ruhnya shalat. Shalat tanpa kekhusyukan bagaikan jasad tanpa ruh. Hadits ini menunjukkan betapa Nabi ﷺ sangat menjaga kekhusyukan beliau, sampai-sampai motif pada pakaian pun bisa mengganggu beliau.
  2. Menghilangkan Gangguan dalam Shalat: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menghilangkan hal-hal yang mengganggu shalat, selama tidak membatalkan shalat. Beliau juga menyebutkan bahwa jika seseorang shalat di tempat yang ada gambarnya atau di atas sajadah yang ramai motif, dan itu mengganggu konsentrasinya, maka lebih utama untuk memilih tempat atau sajadah yang polos.
  3. Pakaian yang Disunnahkan dalam Shalat: Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya memakai pakaian yang polos dan sederhana saat shalat, karena lebih membantu kekhusyukan. Beliau juga menukil dari para ulama bahwa makruh hukumnya shalat dengan pakaian yang bergambar atau memiliki tulisan yang dapat melalaikan hati, jika gambar atau tulisan tersebut terlihat oleh orang yang shalat.
  4. Adab Nabi ﷺ yang Tinggi: Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa tindakan Nabi ﷺ menukar kainnya adalah bentuk pengajaran kepada umatnya. Beliau tidak marah, tidak merobek kain tersebut, tetapi dengan bijak menukarnya dengan kain yang lebih baik untuk kekhusyukan. Ini menunjukkan kelembutan dan kebijaksanaan Nabi ﷺ dalam mengajarkan umatnya.
  5. Perhatian pada Tempat dan Pakaian Shalat: Syaikh Abdul Aziz bin Baz dalam Majmu' Fatawa menegaskan bahwa seorang muslim hendaknya memperhatikan tempat shalatnya. Jika ada gambar atau hal-hal yang mengganggu, hendaknya dihilangkan atau pindah ke tempat yang lebih tenang. Ini semua demi mencapai tujuan utama shalat, yaitu khushu' dan menghadapkan hati sepenuhnya kepada Allah.

Story Telling

Ada kisah yang diriwayatkan dari sahabat yang menunjukkan betapa para salaf sangat menjaga kekhusyukan shalat. Diriwayatkan bahwa Imam Ahmad bin Hanbal (ulama besar yang masuk dalam daftar rujukan kita) pernah ditanya tentang seseorang yang shalat di atas sajadah yang ada gambarnya. Beliau menjawab bahwa hal itu makruh, karena dapat mengganggu kekhusyukan.

Bahkan, ada kisah tentang Sufyan ats-Tsauri (ulama tabi'ut tabi'in yang juga masuk daftar rujukan kita) yang sangat berhati-hati dalam shalat. Beliau tidak suka shalat di tempat yang ramai atau banyak lalu lalang orang, karena hal itu dapat memecah konsentrasinya. Beliau lebih memilih tempat yang tenang dan sunyi untuk bermunajat kepada Allah.

Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa menjaga kekhusyukan bukanlah hal yang sepele bagi para ulama salaf. Mereka sangat memperhatikan detail-detail kecil agar shalat mereka benar-benar menjadi penghubung yang khusyuk dengan Allah Ta'ala.

Kesimpulan Praktis

  1. Perhatikan Pakaian Shalat: Usahakan memakai pakaian yang bersih, sopan, dan tidak ramai motif atau bergambar yang dapat mengganggu konsentrasi.
  2. Perhatikan Tempat Shalat: Pilihlah tempat yang tenang dan bersih dari gambar-gambar atau hal-hal yang melalaikan.
  3. Utamakan Kekhusyukan: Jadikan kekhusyukan sebagai tujuan utama dalam shalat. Jika ada hal yang mengganggu, berusahalah untuk menghilangkannya dengan cara yang bijak, sebagaimana Nabi ﷺ mencontohkan.
  4. Belajar dari Nabi ﷺ: Jadikan hadits ini sebagai pelajaran bahwa bahkan Nabi ﷺ yang maksum pun sangat menjaga kualitas shalatnya. Tentu kita yang penuh kekurangan ini harus lebih bersungguh-sungguh lagi.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?