Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita adab penting dalam shalat: jangan sibuk membersihkan atau merapikan tempat sujud (seperti mengusap kerikil atau tanah) ketika sedang shalat. Jika keadaan benar-benar mengharuskan, misalnya ada kerikil yang mengganggu kenyamanan sujud, maka cukup lakukan satu kali usapan saja. Lebih dari itu termasuk perbuatan yang tidak perlu dan bisa mengurangi kekhusyukan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah riwayat dari Mu'aiqib radhiyallahu 'anhu. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dan Imam An-Nawawi membawakan hadits ini dalam Syarah Shahih Muslim (Kitab Al-Masajid, Bab Karahah Al-Mas-hi 'Ala Al-Hasha).
Dalil Al-Qur'an yang Terkait dengan Kekhusyukan Shalat:
Allah Ta'ala berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya." (QS. Al-Mu'minun [23]: 1-2)
Ayat ini menunjukkan bahwa kekhusyukan adalah ruh dan inti shalat. Hadits tentang larangan mengusap kerikil lebih dari sekali ini adalah salah satu bentuk penjagaan terhadap kekhusyukan tersebut.
Penjelasan Ulama:
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan makruhnya memperbanyak gerakan mengusap kerikil atau meratakan tanah saat shalat. Beliau menukil kesepakatan ulama bahwa gerakan yang banyak dan berulang-ulang dapat membatalkan shalat, sedangkan gerakan ringan yang jarang dimaafkan. Adapun mengusap sekali saja, itu adalah keringanan jika memang ada kebutuhan.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan salaf dan khalaf memahami hadits ini sebagai bimbingan Nabi ﷺ untuk menjaga kesempurnaan dan kekhusyukan shalat. Berikut poin-poin pentingnya:
- Larangan Gerakan Berlebihan: Hadits ini secara tegas menunjukkan bahwa memperbanyak gerakan di dalam shalat, meskipun tujuannya untuk membersihkan tempat sujud, adalah perbuatan yang tidak disukai (makruh). Ini karena shalat adalah momen menghadap Allah dengan sepenuh hati, sebagaimana dipahami oleh para ulama dari generasi tabi'in seperti Sa'id bin Al-Musayyib dan Al-Hasan Al-Bashri yang sangat menjaga kekhusyukan dalam shalat mereka.
- Keringanan Satu Kali Usapan: Sabda Nabi ﷺ, "Jika kamu harus melakukannya, lakukanlah hanya sekali," memberikan batasan yang jelas. Ini adalah bentuk rukhsah (keringanan) dari syariat untuk kondisi darurat yang sangat mendesak, seperti adanya kerikil panas atau mengganggu yang membuat tidak bisa sujud dengan sempurna. Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal memahami bahwa mengusap sekali saja diperbolehkan karena ada kebutuhan, namun lebih utama lagi adalah meninggalkannya sama sekali jika memungkinkan.
- Menjaga Kekhusyukan: Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya Madarijus Salikin sering menekankan bahwa kekhusyukan adalah nyawa dari ibadah. Gerakan yang berlebihan, termasuk sibuk membersihkan tempat sujud, adalah salah satu pintu masuknya was-was dan hilangnya konsentrasi. Beliau menjelaskan bahwa hati dan anggota badan harus sama-sama tenang dalam shalat.
- Perbedaan Gerakan Sedikit dan Banyak: Para ulama, termasuk Syaikh Muhammad bin Shalih Al-'Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin, menjelaskan kaidah: gerakan yang sedikit dan tidak berkesinambungan dimaafkan, sedangkan gerakan yang banyak dan berturut-turut (seperti mengusap kerikil berulang kali) dapat membatalkan shalat menurut sebagian ulama, atau setidaknya sangat mengurangi pahala dan kekhusyukan. Hadits ini adalah dalil bahwa gerakan yang dibutuhkan sekalipun harus diminimalkan.
- Persiapan Sebelum Shalat: Pelajaran terpenting dari hadits ini adalah anjuran untuk mempersiapkan tempat shalat dengan bersih dan rapi sebelum masuk ke dalam shalat. Ini adalah bentuk adab dan kecintaan kepada kebersihan yang diajarkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim dengan memuat hadits ini dalam bab-bab tentang adab shalat.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Mu'aiqib radhiyallahu 'anhu adalah salah seorang sahabat yang meriwayatkan hadits ini. Para ulama menyebutkan bahwa beliau adalah salah satu dari sahabat yang ikut serta dalam peristiwa Hijrah ke Habasyah dan juga ikut dalam Perang Badar.
Kisah tentang larangan ini mengingatkan kita pada ketenangan para salaf dalam shalat. Dikisahkan bahwa sebagian ulama salaf, seperti Sa'id bin Al-Musayyib, ketika shalat, beliau tidak menoleh ke kanan dan ke kiri, dan sangat menjaga anggota badannya dari gerakan yang tidak perlu. Mereka memahami bahwa shalat adalah waktu untuk "berdialog" dengan Allah, sehingga seluruh gerak dan diamnya hanya untuk Allah. Hikmahnya, jika urusan membersihkan tempat sujud saja diatur dengan sangat detail oleh syariat, maka sudah sepantasnya kita menjauhkan diri dari segala kesibukan duniawi yang bisa merusak shalat kita.
Kesimpulan Praktis
Berikut poin-poin yang bisa kita amalkan:
- Bersihkan dan rapikan tempat shalat sebelum takbiratul ihram. Ini adalah solusi terbaik agar tidak perlu mengusap atau membersihkan saat shalat.
- Jika ada gangguan saat shalat (misalnya kerikil atau tanah yang mengganggu), maka cukup rapikan dengan satu kali usapan tangan, tanpa diulang-ulang.
- Jaga kekhusyukan dengan menenangkan hati dan anggota badan dari gerakan yang tidak perlu. Hindari sibuk merapikan pakaian, jilbab, atau sarung secara berlebihan di dalam shalat.
- Pahami bahwa shalat adalah momen menghadap Allah. Semakin sedikit gangguan duniawi yang kita lakukan, semakin sempurna shalat kita.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.