Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memerintahkan kita untuk bersujud dengan seimbang dan thuma’ninah, serta melarang membentangkan kedua lengan di atas tanah seperti anjing. Caranya: letakkan telapak tangan di tanah, angkat siku dari lantai, dan jaga perut tidak menempel ke paha. Ini mengajarkan adab sujud yang sempurna agar shalat lebih khusyuk.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
> حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "اعْتَدِلُوا فِي السُّجُودِ وَلاَ يَبْسُطْ أَحَدُكُمْ ذِرَاعَيْهِ انْبِسَاطَ الْكَلْبِ"
(Shahih Muslim, Kitab Shalat, Bab Keseimbangan dalam Sujud…, no. 493)
Terjemahan: Anas bin Malik berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Berlakulah seimbang dalam sujud, dan janganlah salah seorang dari kalian membentangkan kedua lengannya (di tanah) seperti anjing.”
Ayat Al-Qur’an (sebagai landasan perintah sujud secara umum):
> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
(QS. Al-Hajj [22]: 77)
Terjemahan: “Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan lakukanlah kebaikan agar kamu beruntung.”
Penjelasan Ulama:
- Imam an-Nawawi (dalam Syarh Shahih Muslim) menjelaskan: “Yang dimaksud i’tidāl di sini adalah menegakkan tubuh dengan baik dan tidak merendahkan anggota badan secara berlebihan. Larangan membentangkan lengan seperti anjing berarti mencegah lengan menempel ke tanah, siku diangkat, dan perut dijauhkan dari paha.”
- Ibnu Hajar al-Asqalani (dalam Fathul Bari) menyebutkan bahwa hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari (no. 822). Beliau mengutip perkataan Imam Abu Hanifah dan Malik yang menganjurkan siku diangkat dan telapak tangan bertumpu penuh.
- Ibnu Qayyim al-Jawziyyah (dalam Zād al-Ma‘ād) menjelaskan bahwa cara sujud yang sempurna adalah dengan meletakkan dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut, dan ujung kaki. Kedua lengan diangkat tidak menempel ke tanah, karena membentangkannya menyerupai anjing yang menghinakan diri.
Penjelasan Rinci
Hadits ini berasal dari sahabat Anas bin Malik, diriwayatkan oleh Qatadah (salah seorang tabi’in besar) melalui jalur Syu‘bah dan Waki‘—dua tokoh hadits terpercaya. Dalam petunjuk sujud, Nabi ﷺ memerintahkan dua hal:
- I’tidāl (keseimbangan) – artinya semua anggota sujud ditempatkan pada posisi yang benar dan tidak berlebihan. Keseimbangan di sini mencakup:
- Dahi dan hidung menempel ke tanah.
- Kedua telapak tangan terbuka lebar, jari-jari rapat dan menghadap kiblat.
- Lutut diangkat sedikit (tidak terlalu merendah hingga perut menempel paha).
- Ujung-ujung kaki bertumpu pada tanah, jari-jari kaki ditekuk.
- Siku diangkat dari lantai, tidak menempel.
- Perut tidak ditempelkan ke paha.
- Larangan membentangkan lengan seperti anjing – maksudnya, saat sujud janganlah seseorang meratakan kedua lengannya di atas tanah hingga menyerupai anjing yang membentangkan kaki depannya. Ini adalah bentuk penghinaan (tawadhu‘) yang keliru karena tidak sesuai dengan tata cara sujud yang diajarkan.
Para ulama dari kalangan tabi’in seperti Al-Hasan al-Bashri dan Mujahid juga menekankan agar siku diangkat tidak menempel ke lantai. Imam asy-Syafi’i dalam al-Umm menjelaskan bahwa meletakkan kedua telapak tangan dengan posisi siku terangkat adalah bagian dari kesempurnaan sujud.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (Syarh Riyāḍus Ṣāliḥīn) menambahkan bahwa larangan ini mengisyaratkan agar kita tidak bermalas-malasan dalam sujud, karena membentangkan lengan bisa menyebabkan tidur atau kurang khusyuk.
Adapun perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai posisi jari-jari tangan (apakah dirapatkan atau direnggangkan), mayoritas seperti Imam Malik, asy-Syafi’i, dan Ahmad cenderung merapatkan jari-jari dan menghadapkannya ke kiblat. Sedangkan Abu Hanifah membolehkan sedikit merenggang. Namun intinya, telapak tangan harus menekan tanah, siku tidak menyentuh, dan perut tidak menempel paha.
Story Telling
Kisah Anas bin Malik meriwayatkan hadits ini
Anas bin Malik pernah berkata: “Aku melihat Nabi ﷺ sujud, dan aku perhatikan beliau meletakkan kedua tangannya, mengangkat siku-sikunya, serta menjauhkan perut dari paha. Beliau tidak pernah membentangkan lengan seperti orang yang malas.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahīh-nya).
Hikmahnya: bahwa meniru cara sujud Nabi ﷺ bukan sekadar gerakan fisik, tetapi juga penghambaan yang sempurna. Dengan menjaga posisi yang diajarkan, kita lebih mudah khusyuk dan terhindar dari sifat malas dalam ibadah.
Kesimpulan Praktis
- Saat sujud, pastikan dahi, hidung, kedua telapak tangan, lutut, dan ujung kaki menyentuh tanah.
- Angkat siku dari lantai dan jaga perut tidak ditempelkan ke paha.
- Jangan membentangkan lengan ke kanan dan kiri seperti anjing.
- Latihlah thuma’ninah dan keseimbangan dalam sujud agar shalat lebih sempurna.
- Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.