Penjelasan Hadits Muslim No. 487 tentang Bacaan ruku dan sujud Nabi

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa Nabi ﷺ dalam ruku dan sujud membaca pujian: "Subbūhun Quddūsun Rabbu al-Malā'ikati war-Rūḥ" — Maha Suci, Maha Kudus, Tuhan para Malaikat dan Ruh (Jibril). Ini menunjukkan bahwa ruku dan sujud adalah tempat memperbanyak tasbih dan pujian kepada Allah, bukan sekadar gerakan badan. Umat Islam dianjurkan meneladani bacaan ini, terutama karena sujud adalah saat paling dekat dengan Allah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab ash-Shalah, dari Ummul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha, melalui jalur Qatadah bin Di'amah as-Sadusi (seorang Tabi'in yang termasuk dalam daftar rujukan) dari Mutharrif bin 'Abdillah bin asy-Syikhkhir.

Teks hadits:

<p>سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ</p>

Terjemahan: "Maha Suci, Maha Kudus, Tuhan para Malaikat dan Ruh."

Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan perintah tasbih dalam shalat:

QS. Al-A'la [87]: 1

<p>سَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الْأَعْلَى</p>

Terjemahan: "Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi."

QS. Al-Hajj [22]: 77

<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ</p>

Terjemahan: "Hai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan lakukanlah kebaikan agar kamu beruntung."

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya membaca "Subbūhun Quddūsun..." dalam ruku dan sujud, dan bahwa lafaz ini mengandung pujian yang agung: menyucikan Allah dari segala kekurangan (Subbūh), mengagungkan kesucian-Nya (Quddūs), serta mengakui rububiyah-Nya atas para malaikat dan Jibril (ar-Rūḥ).

Penjelasan Rinci

Hadits ini memiliki beberapa pelajaran penting yang dijelaskan oleh para ulama dalam daftar rujukan:

Pertama: Makna "Subbūhun Quddūsun".

Subbūh adalah bentuk mubalaghah (penekanan) dari subhān, artinya Allah Maha Suci dari segala kekurangan, cela, dan sifat yang tidak layak bagi-Nya. Quddūs berarti Maha Kudus, yaitu suci secara mutlak, tidak tersentuh oleh segala bentuk kekurangan. Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa nama al-Quddūs menunjukkan kesucian Allah yang sempurna dan mutlak.

Kedua: Makna "Rabbu al-Malā'ikati war-Rūḥ".

Allah adalah Tuhan para malaikat dan ar-Rūḥ. Para ulama seperti Qatadah bin Di'amah (perawi hadits ini sendiri) dan Mujahid bin Jabr menjelaskan bahwa ar-Rūḥ di sini adalah Jibril 'alaihissalam, karena ia adalah ruh yang agung dan pemimpin para malaikat. Penyebutan Jibril secara khusus setelah "para malaikat" menunjukkan keutamaan dan kedudukannya yang tinggi.

Ketiga: Anjuran membaca tasbih dalam ruku dan sujud.

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya bacaan ini, dan sebagian ulama menggabungkannya dengan bacaan "Subhāna Rabbiyal 'Azhīm" (saat ruku) dan "Subhāna Rabbiyal A'lā" (saat sujud). Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zād al-Ma'ād menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memiliki beberapa variasi bacaan dalam ruku dan sujud, dan semua itu boleh diamalkan secara bergantian agar hati tidak bosan dan lebih khusyuk.

Keempat: Sujud adalah tempat terdekat dengan Allah.

Imam Muslim juga meriwayatkan hadits lain dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda bahwa saat sujud adalah keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya, maka perbanyaklah doa. Karena itu, bacaan tasbih dan pujian seperti dalam hadits 'Aisyah ini sangat sesuai dengan keadaan sujud.

Kelima: Perbedaan pendapat ulama.

Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat bahwa bacaan "Subbūhun Quddūsun..." boleh dibaca dalam ruku dan sujud, baik sendiri maupun digabung dengan tasbih biasa. Imam asy-Syafi'i dalam al-Umm menyebutkan bahwa yang paling utama adalah "Subhāna Rabbiyal 'Azhīm" saat ruku dan "Subhāna Rabbiyal A'lā" saat sujud, namun bacaan tambahan seperti dalam hadits ini tetap disyariatkan. Pendapat yang paling kuat — sebagaimana dikuatkan oleh Ibn Qayyim dan an-Nawawi — adalah bahwa keduanya boleh diamalkan, dan menggabungkannya adalah bentuk kesempurnaan dalam mengikuti sunnah.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa 'Aisyah radhiyallahu 'anha — istri Nabi ﷺ yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang shalat malam dan ibadah beliau — memperhatikan dengan cermat bacaan Nabi ﷺ dalam shalat. Beliau menyampaikan kepada para sahabat apa yang beliau dengar langsung dari lisan Nabi ﷺ. Ini menunjukkan betapa pentingnya periwayatan dari orang-orang terdekat Nabi, terutama para istri beliau, dalam menjaga sunnah. Qatadah bin Di'amah, seorang Tabi'in yang terkenal kuat hafalannya dan ahli tafsir, menerima hadits ini dari Mutharrif bin 'Abdillah, lalu menyampaikannya kepada generasi berikutnya. Para ulama seperti Imam Muslim kemudian menyeleksi dan menuliskannya dalam kitab shahihnya, sehingga sampai kepada kita dengan sanad yang bersih. Hikmahnya: sunnah Nabi ﷺ terjaga melalui rantai periwayatan yang amanah, dan kita pun dituntut untuk menjaga serta mengamalkannya.

Kesimpulan Praktis

  1. Bacalah "Subbūhun Quddūsun Rabbu al-Malā'ikati war-Rūḥ" dalam ruku dan sujud sebagai variasi dari tasbih biasa, agar shalat lebih khusyuk dan mengikuti sunnah.
  2. Renungkan makna pujian ini: Allah Maha Suci, Maha Kudus, dan Tuhan para malaikat serta Jibril — ini menumbuhkan rasa tawadhu dan pengagungan kepada Allah.
  3. Perbanyak doa dan pujian saat sujud, karena itu adalah saat paling dekat dengan Allah.
  4. Jangan merasa cukup dengan satu bacaan saja; variasikan bacaan sesuai sunnah yang shahih agar hati tetap hidup dalam shalat.
  5. Ikutilah pemahaman para ulama Ahlus Sunnah seperti an-Nawawi, Ibn Qayyim, dan Ibn Katsir dalam mengamalkan hadits ini, tanpa berlebihan (ghuluw) dan tanpa meremehkan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?