Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bacaan yang diucapkan Rasulullah ﷺ saat mengangkat punggung dari ruku', yaitu sami'allāhu liman ḥamidah lalu dilanjutkan dengan pujian Allāhumma Rabbanā laka al-ḥamdu mil'as-samāwāti wa mil'al-arḍi wa mil'a mā syi'ta min syai'in ba'du. Bacaan ini menunjukkan betapa luas dan agungnya pujian kepada Allah, melampaui luasnya langit dan bumi. Kaum muslimin dianjurkan mengikuti bacaan ini ketika bangkit dari ruku' dalam shalat.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat, dari sahabat Abdullah bin Abi Aufa رضي الله عنه.
Teks hadits:
<p>كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ إِذَا رَفَعَ ظَهْرَهُ مِنَ الرُّكُوعِ قَالَ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ مِلْءَ السَّمَوَاتِ وَمِلْءَ الأَرْضِ وَمِلْءَ مَا شِئْتَ مِنْ شَىْءٍ بَعْدُ</p>
Terjemahan: "Ketika Rasulullah ﷺ mengangkat punggungnya dari ruku', beliau mengucapkan: 'Allah mendengar orang yang memuji-Nya. Ya Allah, Tuhan kami, hanya untuk-Mu pujian yang memenuhi langit dan bumi dan memenuhi apa yang Engkau kehendaki setelah itu.'"
Ayat yang berkaitan dengan perintah mengingat Allah dalam shalat:
<p>فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ</p>
(QS. Al-Baqarah [2]: 152)
Terjemahan: "Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku."
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disyariatkannya mengucapkan sami'allāhu liman ḥamidah dan Rabbanā laka al-ḥamdu ketika bangkit dari ruku', serta menganjurkan menambahkan pujian yang luas sebagaimana dalam hadits ini.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (ketika membahas hadits serupa dalam Shahih Bukhari) menyebutkan bahwa bacaan ini mengandung pengagungan kepada Allah dengan menyebut luasnya pujian yang memenuhi langit, bumi, dan apa yang Allah kehendaki.
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengajarkan kepada kita salah satu bacaan penting dalam shalat, yaitu ketika seorang hamba bangkit dari ruku' menuju berdiri (i'tidal). Ada dua bagian bacaan:
Pertama, ucapan sami'allāhu liman ḥamidah (سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ), yang artinya "Allah mendengar orang yang memuji-Nya." Ini adalah pemberitahuan bahwa Allah mendengar dan menerima pujian hamba-Nya. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa maknanya adalah Allah mengabulkan dan memperhatikan pujian tersebut.
Kedua, ucapan Allāhumma Rabbanā laka al-ḥamdu mil'as-samāwāti wa mil'al-arḍi wa mil'a mā syi'ta min syai'in ba'du. Ini adalah doa pujian yang sangat agung. Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika menjelaskan ayat-ayat tentang tasbih dan pujian menyebutkan bahwa pujian kepada Allah tidak terbatas, karena nikmat-Nya meliputi seluruh langit, bumi, dan segala sesuatu yang Allah kehendaki.
Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ memiliki beberapa variasi bacaan dalam i'tidal, dan semuanya menunjukkan kekhusyukan serta pengagungan yang mendalam kepada Allah. Beliau juga menyebutkan bahwa bacaan ini mengandung pengakuan bahwa pujian yang layak bagi Allah jauh lebih besar dari apa yang mampu diucapkan hamba.
Syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Shalihin dan penjelasan beliau tentang shalat menyebutkan bahwa bacaan i'tidal ini hukumnya sunnah, dan seorang muslim sebaiknya mengamalkannya karena mengandung pujian yang sangat luas dan dalam.
Syeikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menjelaskan ayat-ayat tentang pujian kepada Allah menegaskan bahwa pujian yang sempurna hanya milik Allah, karena Dia adalah Rabb yang mengatur seluruh alam.
Adapun perbedaan pendapat di antara ulama tentang bacaan i'tidal: sebagian ulama seperti dalam madzhab Hanafi menyatakan bahwa bacaan sami'allāhu liman ḥamidah diucapkan oleh imam dan Rabbanā laka al-ḥamdu oleh makmum, namun pendapat yang paling kuat — sebagaimana dijelaskan Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal — adalah bahwa keduanya diucapkan oleh imam, makmum, dan orang yang shalat sendirian, berdasarkan keumuman hadits ini.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Abi Aufa رضي الله عنه, seorang sahabat yang mulia, memperhatikan dengan seksama gerakan dan bacaan Rasulullah ﷺ dalam shalat. Beliau meriwayatkan hadits ini kepada para tabi'in agar umat Islam setelahnya dapat mengikuti sunnah Nabi ﷺ dengan tepat. Al-A'masy (Sulaiman bin Mihran), salah satu perawi hadits ini, dikenal sebagai ulama yang sangat teliti dalam meriwayatkan hadits, dan beliau meriwayatkan hadits ini dari 'Ubaid bin al-Hasan, dari Ibnu Abi Aufa.
Imam Muslim dalam Shahih-nya menempatkan hadits ini dalam kitab shalat, menunjukkan betapa pentingnya memperhatikan bacaan-bacaan dalam shalat, karena shalat adalah ibadah yang paling utama dan akan dihisab pertama kali pada hari kiamat.
Kesimpulan Praktis
- Ketika bangkit dari ruku' (i'tidal), ucapkanlah sami'allāhu liman ḥamidah lalu Allāhumma Rabbanā laka al-ḥamdu mil'as-samāwāti wa mil'al-arḍi wa mil'a mā syi'ta min syai'in ba'du.
- Bacaan ini mengandung pujian yang sangat agung, menunjukkan bahwa pujian kepada Allah melampaui luasnya langit dan bumi.
- Hendaknya kita menghadirkan hati ketika mengucapkan bacaan ini, karena ia adalah doa dan pujian, bukan sekadar ucapan lisan.
- Mengikuti sunnah Nabi ﷺ dalam shalat adalah tanda kecintaan kita kepada beliau dan kepada Allah سبحانه وتعالى.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.