Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 475 tentang Membaca surat panjang saat shalat subuh berjamaah

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan kita tentang dua hal penting: pertama, bolehnya imam membaca surat selain Al-Fatihah pada rakaat pertama shalat Subuh, dan kedua, gambaran indah tentang kekhusyukan dan kesigapan para sahabat dalam mengikuti gerakan imam. Mereka tidak mendahului atau bahkan terlambat dalam gerakan sujud, melainkan menunggu dengan tertib hingga imam benar-benar sempurna sujudnya. Ini adalah pelajaran tentang adab mengikuti imam yang merupakan inti dari shalat berjamaah.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat, Bab "Mengikuti Imam dan Perbuatan Setelahnya", nomor 475, dari sahabat 'Amr bin Huraith radhiyallahu 'anhu.

Ayat Al-Qur'an yang dibaca Nabi ﷺ adalah firman Allah dalam QS. At-Takwir [81]: 15-16:

فَلَا أُقْسِمُ بِالْخُنَّسِ ۝ الْجَوَارِ الْكُنَّسِ

"Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar dan yang menetap (tersembunyi)."

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya membaca surat selain Al-Fatihah pada rakaat pertama shalat Subuh, dan bahwa Nabi ﷺ terkadang membaca surat yang panjang dan terkadang yang pendek. Adapun tentang sikap sahabat yang tidak membungkukkan punggung hingga imam sempurna sujud, Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kesempurnaan dalam mengikuti imam, dan bahwa makmum tidak boleh mendahului imam dalam gerakan shalat.

Penjelasan Rinci

Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:

1. Tentang Bacaan Imam dalam Shalat Subuh

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ membaca surat At-Takwir pada rakaat pertama shalat Subuh. Ini adalah salah satu contoh bahwa bacaan Nabi ﷺ dalam shalat Subuh bervariasi. Terkadang beliau membaca surat yang panjang seperti surat Qaf, terkadang membaca surat yang sedang, dan terkadang membaca surat yang pendek seperti At-Takwir ini. Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa imam hendaknya memperhatikan kondisi makmum, dan tidak memanjangkan bacaan hingga memberatkan mereka, sebagaimana Nabi ﷺ sendiri terkadang memendekkan bacaan ketika mendengar tangisan anak kecil.

2. Tentang Adab Mengikuti Imam

Bagian terpenting dari hadits ini adalah perkataan 'Amr bin Huraith: "Dan tidak ada seorang pun di antara kami yang membungkukkan punggungnya hingga ia menyelesaikan sujud."

Para ulama menjelaskan bahwa ini adalah gambaran tentang ketertiban para sahabat dalam mengikuti imam. Mereka tidak mendahului imam dalam gerakan sujud, dan juga tidak terlambat. Mereka menunggu hingga imam benar-benar sempurna dalam sujudnya, baru kemudian mereka mengikuti.

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna hadits ini adalah para sahabat tidak membungkukkan punggung mereka untuk turun sujud hingga mereka melihat Nabi ﷺ telah sempurna dalam keadaan sujud. Ini menunjukkan bahwa mereka sangat berhati-hati dalam mengikuti imam, tidak mendahului dan tidak pula terlambat.

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa makmum tidak boleh bergerak sebelum imam bergerak. Jika imam turun sujud, maka makmum turun setelahnya, dan jika imam bangkit, maka makmum bangkit setelahnya. Ini adalah adab yang diajarkan Nabi ﷺ dalam sabdanya: "Sesungguhnya imam itu diangkat untuk diikuti, maka janganlah kalian menyelisihinya."

3. Tentang Kekhusyukan dalam Shalat

Hadits ini juga menunjukkan kekhusyukan para sahabat dalam shalat. Mereka begitu fokus dan tertib sehingga gerakan mereka sangat teratur mengikuti imam. Ini adalah pelajaran bagi kita bahwa shalat berjamaah bukan sekadar berkumpul, tetapi harus dilakukan dengan penuh perhatian dan kekhusyukan.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ shalat mengimami para sahabat. Dalam shalat tersebut, beliau membaca dengan suara yang jelas. Para sahabat mendengarkan dengan penuh perhatian. Ketika Nabi ﷺ turun sujud, mereka pun turun dengan tertib. Tidak ada seorang pun yang mendahului atau terlambat.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, seorang ulama besar dari kalangan tabi'in, pernah berkata: "Barangsiapa yang tidak khusyuk dalam shalatnya, maka shalatnya hanya menjadi gerakan badan tanpa ruh." Beliau juga sering menangis ketika membayangkan bagaimana para sahabat shalat di belakang Nabi ﷺ dengan penuh kekhusyukan dan ketertiban.

Kesimpulan Praktis

  1. Imam hendaknya memperhatikan kondisi makmum dalam memilih bacaan surat, tidak terlalu panjang hingga memberatkan.
  2. Makmum tidak boleh mendahului imam dalam gerakan shalat, baik ruku', sujud, maupun bangkit darinya.
  3. Khusyuk dan tertib adalah ruh dari shalat berjamaah — kita harus hadir dengan hati dan pikiran, bukan sekadar gerakan badan.
  4. Hadits ini mengajarkan kita untuk selalu meneladani Nabi ﷺ dalam setiap gerakan dan bacaan shalat, serta meneladani para sahabat dalam ketertiban mengikuti imam.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.