Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ terkadang membaca surat pendek seperti At-Tin dalam shalat Isya, terutama saat dalam perjalanan (safar). Ini adalah dalil bahwa membaca surat pendek dalam shalat Isya itu boleh, dan tidak wajib membaca surat-surat panjang. Syariat memberi kelonggaran, dan seorang imam hendaknya meringankan shalat jika makmumnya beragam keadaannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُعَاذٍ الْعَنْبَرِيُّ، حَدَّثَنَا أَبِي، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَدِيٍّ، قَالَ سَمِعْتُ الْبَرَاءَ، يُحَدِّثُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ كَانَ فِي سَفَرٍ فَصَلَّى الْعِشَاءَ الآخِرَةَ فَقَرَأَ فِي إِحْدَى الرَّكْعَتَيْنِ {وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ}
Makna ringkas: Dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ dalam suatu perjalanan shalat Isya, lalu beliau membaca pada salah satu rakaatnya surat At-Tin (ayat pertama: "Demi buah Tin dan Zaitun").
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya, dan Imam An-Nasa'i, dari jalur yang berbeda. Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menyebutkan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya membaca surat pendek dalam shalat Isya.
Dalil Al-Qur'an tentang kelonggaran dalam membaca Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ
QS. Al-Muzzammil [73]: 20
Artinya: "Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur'an."
Ayat ini menunjukkan prinsip umum bahwa seorang muslim diperintahkan membaca Al-Qur'an dalam shalat sesuai yang mudah baginya, tanpa harus dipatok pada surat-surat tertentu.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Tentang Konteks Hadits
Imam An-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini diriwayatkan dari Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu. Konteksnya adalah ketika Nabi ﷺ dalam perjalanan safar. Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi safar, beliau meringankan bacaan shalatnya. Imam An-Nawawi juga menegaskan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa membaca surat pendek dalam shalat Isya itu dibolehkan, dan tidak ada kewajiban untuk selalu membaca surat panjang dalam shalat Isya.
2. Tentang Bacaan dalam Shalat Isya
Para ulama berbeda pendapat tentang surat yang biasa dibaca Nabi ﷺ dalam shalat Isya:
- Sebagian ulama berpendapat bahwa sunnahnya membaca surat-surat sedang, seperti surat Asy-Syams, Al-Lail, atau At-Tin. Ini berdasarkan hadits Al-Bara' di atas dan hadits-hadits lain yang serupa.
- Sebagian ulama lain berpendapat bahwa yang lebih utama adalah membaca surat-surat panjang seperti Al-A'raf, Al-An'am, atau semisalnya. Ini berdasarkan hadits Jabir bin Samurah bahwa Nabi ﷺ membaca surat-surat panjang dalam shalat Isya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (wafat 728 H) dalam Majmu' Al-Fatawa menjelaskan bahwa kedua riwayat ini tidak bertentangan. Beliau berkata bahwa Nabi ﷺ terkadang membaca panjang dan terkadang membaca pendek, tergantung keadaan makmum dan kondisi safar atau hadar. Jika makmumnya kuat, beliau membaca panjang; jika ada yang lemah, tua, atau punya keperluan, beliau meringankan.
3. Tentang Meringankan Shalat karena Makmum
Hadits ini juga mengajarkan bahwa seorang imam hendaknya memperhatikan kondisi makmumnya. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (wafat 1421 H) dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa meringankan bacaan dalam safar adalah bentuk kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya. Beliau tidak memaksakan bacaan panjang dalam kondisi safar yang melelahkan.
4. Tentang Bolehnya Membaca Surat Apa Saja dalam Shalat
Imam Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah (wafat 751 H) dalam Zaad Al-Ma'ad menjelaskan bahwa Nabi ﷺ tidak membatasi bacaan shalat pada surat-surat tertentu. Beliau membaca berbagai surat dalam shalat-shalatnya. Yang penting adalah kekhusyukan dan tartil, bukan panjang atau pendeknya surat.
5. Pelajaran tentang Urutan Surat dalam Mushaf
Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (wafat 852 H) dalam Fath Al-Bari menyebutkan bahwa membaca surat At-Tin dalam shalat Isya menunjukkan bahwa tidak mengapa membaca surat yang berada di akhir mushaf dalam shalat, meskipun urutannya setelah surat-surat panjang. Ini membantah anggapan sebagian orang bahwa harus selalu berurutan dari awal mushaf.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Al-Bara' bin 'Azib radhiyallahu 'anhu adalah salah seorang sahabat muda yang banyak meriwayatkan hadits tentang sifat shalat Nabi ﷺ. Suatu ketika, beliau menceritakan bahwa beliau pernah shalat di belakang Nabi ﷺ dalam perjalanan. Beliau memperhatikan dengan teliti bagaimana Nabi ﷺ shalat, dan beliau mendengar Nabi ﷺ membaca surat At-Tin pada salah satu rakaatnya.
Kisah ini menunjukkan perhatian para sahabat terhadap detail ibadah Nabi ﷺ. Mereka tidak hanya shalat di belakang beliau, tetapi juga memperhatikan bacaan, gerakan, dan tata cara shalat beliau untuk kemudian diajarkan kepada generasi setelah mereka. Ini adalah bentuk keilmuan dan kehati-hatian para sahabat dalam menjaga sunnah.
Kesimpulan Praktis
- Boleh membaca surat pendek dalam shalat Isya, terutama dalam kondisi safar atau ketika makmum membutuhkan keringanan.
- Seorang imam hendaknya memperhatikan kondisi makmumnya — jika ada yang lemah, tua, atau punya keperluan, maka hendaknya meringankan shalat.
- Tidak ada surat khusus yang wajib dibaca dalam shalat — yang penting adalah tartil, khusyuk, dan memahami makna yang dibaca.
- Dalam safar, disunnahkan meringankan ibadah sebagai bentuk keringanan dari Allah dan mengikuti sunnah Nabi ﷺ.
- Jangan mempersulit diri dalam beribadah — agama ini mudah, dan Nabi ﷺ selalu memilih yang paling ringan selama tidak melanggar ketentuan syariat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.