Penjelasan Hadits Muslim No. 458 tentang Bacaan surat Qaf dan memendekkan shalat subuh

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ terkadang membaca surat yang panjang dalam shalat Subuh, seperti surat Qaf (surat ke-50), namun secara umum shalat beliau ringan dan tidak bertele-tele. Ini mengajarkan kita bahwa dalam shalat berjamaah, terutama Subuh, kita dianjurkan untuk tidak memanjangkan bacaan secara berlebihan sehingga memberatkan makmum, tetapi juga tidak tergesa-gesa sehingga menghilangkan kekhusyukan. Intinya adalah keseimbangan antara bacaan yang baik dan memperhatikan kondisi makmum.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits (sebagaimana yang Anda cantumkan) adalah:

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ زَائِدَةَ، حَدَّثَنَا سِمَاكُ بْنُ حَرْبٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ، قَالَ إِنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقْرَأُ فِي الْفَجْرِ بِـ { ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ } وَكَانَ صَلاَتُهُ بَعْدُ تَخْفِيفًا

Makna ringkas: Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa Nabi ﷺ pernah membaca surat Qaf pada shalat Subuh, dan shalat beliau setelah itu (secara umum) adalah ringan/pendek.

Ayat Al-Qur'an yang terkait dengan surat Qaf:

Allah Ta'ala berfirman:

ق وَالْقُرْآنِ الْمَجِيدِ

"Qaf. Demi Al-Qur'an yang mulia." (QS. Qaf [50]: 1)

Ayat ini adalah sumpah Allah dengan Al-Qur'an yang mulia, sebagai bukti kebenaran risalah Nabi ﷺ dan hari kebangkitan.

Kaitan dengan ulama:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya. Para ulama dari kalangan sahabat dan tabi'in, seperti Al-Hasan al-Bashri dan Muhammad bin Sirin, sangat memperhatikan bacaan shalat dan menganjurkan untuk tidak berlebihan. Adapun dalam masalah memanjangkan atau meringankan bacaan shalat, para ulama menjelaskan bahwa hal ini disesuaikan dengan kondisi makmum dan keadaan.

Penjelasan Rinci

Hadits ini memberikan pelajaran penting tentang tuntunan shalat Nabi ﷺ, khususnya dalam bacaan shalat Subuh.

  1. Nabi ﷺ Membaca Surat yang Panjang Kadang-Kadang:

Dalam hadits ini, Jabir bin Samurah menyaksikan bahwa Nabi ﷺ membaca surat Qaf (yang terdiri dari 45 ayat) dalam shalat Subuh. Ini menunjukkan bahwa membaca surat-surat panjang dalam shalat Subuh adalah sesuatu yang pernah dilakukan oleh Nabi ﷺ. Para ulama menjelaskan bahwa shalat Subuh adalah shalat yang bacaannya paling panjang dibandingkan shalat-shalat wajib lainnya. Imam Ibnul Qayyim al-Jawziyyah dalam kitabnya Zaad al-Ma'aad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ biasa membaca sekitar 60 hingga 100 ayat dalam shalat Subuh, terkadang membaca surat Qaf, terkadang surat Ar-Rum, dan terkadang surat At-Takwir.

  1. Prinsip Meringankan (Takhfif) Shalat:

Namun, bagian penting dari hadits ini adalah kalimat, "وَكَانَ صَلاَتُهُ بَعْدُ تَخْفِيفًا" (dan shalatnya setelah itu adalah ringan). Ini menunjukkan bahwa kebiasaan umum Nabi ﷺ dalam shalat berjamaah adalah meringankan bacaan, tidak memanjangkannya secara berlebihan. Ini sejalan dengan hadits lain dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ، فَإِنَّ فِيهِمُ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالْكَبِيرَ، وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ"

"Apabila salah seorang di antara kalian shalat (menjadi imam) untuk orang banyak, maka hendaklah ia meringankan. Karena di antara mereka ada yang lemah, sakit, dan lanjut usia. Dan apabila salah seorang di antara kalian shalat sendirian, maka silakan memanjangkan sesukanya." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa yang dimaksud "meringankan" di sini adalah tidak berlebihan dalam memanjangkan bacaan, namun tetap memenuhi rukun dan kesempurnaan shalat. Ini adalah bentuk kasih sayang Nabi ﷺ kepada umatnya, terutama mereka yang memiliki uzur.

  1. Keseimbangan antara Keduanya:

Para ulama, seperti Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin, menjelaskan bahwa sunnah Nabi ﷺ dalam bacaan shalat adalah bervariasi. Terkadang beliau memanjangkan bacaan, dan terkadang meringankannya. Namun, ketika menjadi imam bagi orang banyak, beliau lebih cenderung untuk meringankan agar tidak memberatkan makmum. Adapun ketika shalat sendirian, beliau bisa memanjangkan bacaan sesukanya. Ini menunjukkan bahwa seorang imam hendaknya memperhatikan kondisi makmumnya.

  1. Pelajaran tentang Kekhusyukan:

Membaca surat Qaf yang mengandung penjelasan tentang kebesaran Allah, hari kebangkitan, dan kisah umat-umat terdahulu adalah bentuk tadabbur (perenungan) terhadap Al-Qur'an. Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa surat Qaf adalah surat yang agung, berisi tentang kekuasaan Allah, dan peringatan bagi orang-orang yang ingkar. Membaca surat ini dalam shalat adalah cara untuk menghidupkan hati dan mengingatkan jamaah akan kebenaran hari akhir.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat Jabir bin Samurah radhiyallahu 'anhu, beliau adalah seorang sahabat yang banyak meriwayatkan sifat shalat Nabi ﷺ. Dalam riwayat lain yang juga dishahihkan oleh Imam Muslim, Jabir bin Samurah berkata:

"كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا صَلَّى الْفَجْرَ جَلَسَ فِي مُصَلَّاهُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ"

"Apabila Rasulullah ﷺ selesai shalat Subuh, beliau duduk di tempat shalatnya hingga matahari terbit."

Kisah ini menunjukkan bahwa meskipun bacaan shalat beliau ringan, beliau tetap memiliki majelis dzikir dan doa setelahnya. Ini adalah hikmah bahwa yang terpenting bukan hanya panjangnya bacaan, tetapi kualitas ibadah dan keberkahan waktu setelahnya. Para ulama salaf, seperti Al-Hasan al-Bashri, sangat menjaga waktu setelah Subuh dengan berdzikir dan membaca Al-Qur'an hingga matahari terbit.

Kesimpulan Praktis

  1. Bagi Imam: Hendaknya meringankan bacaan shalat dengan tidak berlebihan, karena di antara makmum ada yang lemah, sakit, atau lanjut usia. Namun, tetap menjaga bacaan agar tidak terlalu cepat sehingga menghilangkan ketenangan.
  2. Bagi Makmum: Hendaknya bersabar dan tidak tergesa-gesa dalam shalat, karena imam memiliki tanggung jawab untuk memperhatikan semua makmum.
  3. Bagi yang Shalat Sendirian: Boleh memanjangkan bacaan sesuai keinginan, karena tidak memberatkan orang lain.
  4. Meneladani Nabi ﷺ: Bacaan shalat Nabi ﷺ bervariasi. Terkadang panjang seperti surat Qaf, dan terkadang pendek. Ini mengajarkan kita untuk tidak kaku dalam beribadah, tetapi tetap berpegang pada tuntunan.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?