Penjelasan Hadits Muslim No. 452 tentang Perkiraan lama berdiri saat shalat Zhuhur dan Ashar

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menjelaskan bahwa Nabi ﷺ membaca Al-Qur'an dalam shalat Zhuhur dan Ashar dengan panjang bacaan tertentu: dua rakaat pertama lebih panjang (sekitar 30 ayat, setara surat As-Sajdah), dua rakaat terakhir sekitar setengahnya. Ini menunjukkan sunnah memanjangkan bacaan pada dua rakaat pertama dan meringankan pada dua rakaat terakhir, serta bahwa bacaan shalat sirriyah (Zhuhur dan Ashar) tetap dilakukan dengan tartil dan tenang.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim (no. 452), dari sahabat Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه, melalui jalur Manshur — Walid bin Muslim — Abu ash-Shiddiq.

Hadits ini berkaitan erat dengan firman Allah:

وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلًا

QS. Al-Muzzammil [73]: 4

"Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan tartil (perlahan dan jelas)."

Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disunnahkannya memanjangkan bacaan pada dua rakaat pertama shalat Zhuhur dan Ashar, dan meringankan pada dua rakaat terakhir. Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa perbedaan panjang bacaan antar rakaat adalah sunnah yang tetap.

Penjelasan Rinci

Makna hadits secara umum:

Para sahabat memperhatikan dan "menaksir" (نَحْزِرُ) lama berdirinya Nabi ﷺ dalam shalat Zhuhur dan Ashar. Mereka memperkirakan:

  • Dua rakaat pertama Zhuhur: sekitar bacaan surat As-Sajdah (sekitar 30 ayat).
  • Dua rakaat terakhir Zhuhur: sekitar setengahnya (sekitar 15 ayat).
  • Dua rakaat pertama Ashar: seperti dua rakaat terakhir Zhuhur.
  • Dua rakaat terakhir Ashar: sekitar setengahnya lagi.

Pemahaman ulama:

Imam an-Nawawi (wafat 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim menyimpulkan beberapa faedah:

  1. Disunnahkan memanjangkan bacaan pada dua rakaat pertama dan meringankan pada dua rakaat terakhir.
  2. Bacaan shalat Zhuhur dan Ashar dilakukan dengan suara pelan (sirriyah), namun tetap tartil.
  3. Perkiraan sahabat menunjukkan bahwa mereka memperhatikan gerakan dan bacaan Nabi ﷺ dengan seksama, sebagai bentuk ittiba' (mengikuti sunnah).

Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menambahkan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya memperkirakan lama bacaan berdasarkan surat yang diketahui, dan bahwa bacaan Nabi ﷺ tidak terlalu panjang sehingga memberatkan makmum, tetapi juga tidak terlalu pendek.

Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menyebutkan bahwa panjangnya bacaan Nabi ﷺ dalam shalat wajib menunjukkan pentingnya tadabbur (merenungi) Al-Qur'an dalam shalat, bukan sekadar membaca cepat.

Perbedaan pendapat:

Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal dan Ishaq bin Rahuyah berpendapat bahwa bacaan shalat Zhuhur dan Ashar boleh dipanjangkan selama tidak memberatkan makmum. Sedangkan Imam asy-Syafi'i menekankan keseimbangan antara panjang bacaan dan kekhusyukan. Namun kesimpulan yang paling kuat berdasarkan dalil adalah: dua rakaat pertama lebih panjang dari dua rakaat terakhir, dan ini berlaku untuk shalat Zhuhur dan Ashar.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Abu Sa'id al-Khudri رضي الله عنه — salah satu sahabat yang banyak meriwayatkan hadits — memperhatikan dengan cermat bagaimana Nabi ﷺ shalat. Ia dan para sahabat lain menghitung dan menaksir lama berdirinya Nabi ﷺ, bukan untuk mengkritik, tetapi untuk meniru dan mengamalkan sunnah dengan tepat. Ini menunjukkan adab para sahabat dalam menuntut ilmu: mereka tidak hanya mendengar, tetapi memperhatikan, mencatat, dan mengamalkan.

Al-Hasan al-Bashri (wafat 110 H) pernah berkata bahwa shalat adalah cerminan hati seseorang. Jika seseorang memanjangkan bacaannya dengan tartil dan khusyuk, itu tanda hatinya hadir. Sebaliknya, jika tergesa-gesa, itu tanda hatinya lalai.

Kesimpulan Praktis

  1. Panjangkan bacaan di dua rakaat pertama shalat Zhuhur dan Ashar, dan ringankan di dua rakaat terakhir.
  2. Bacaan shalat Zhuhur dan Ashar dilakukan dengan suara pelan (sirriyah), tetapi tetap tartil dan jelas.
  3. Perhatikan dan amalkan sunnah Nabi ﷺ dalam shalat, termasuk panjang bacaan, karena shalat adalah ibadah yang paling utama.
  4. Jangan memberatkan makmum dengan bacaan yang terlalu panjang, tetapi juga jangan terlalu pendek sehingga mengurangi kekhusyukan.
  5. Tadabburi ayat yang dibaca, karena tujuan membaca Al-Qur'an dalam shalat adalah merenungi maknanya dan mendekatkan diri kepada Allah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?