Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 434 tentang Rasulullah dapat melihat makmum di belakangnya

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah perintah langsung dari Nabi ﷺ kepada umatnya untuk menyempurnakan dan merapatkan barisan shalat berjamaah. Ini menunjukkan betapa pentingnya shalat berjamaah yang tertib, karena kerapian barisan adalah bagian dari kesempurnaan shalat. Nabi ﷺ memberitahukan mukjizatnya bahwa beliau dapat melihat para sahabat yang berada di belakangnya, sebagai dorongan agar mereka bersungguh-sungguh dalam melaksanakan perintah ini.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits (dengan harakat):

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ، عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ - وَهُوَ ابْنُ صُهَيْبٍ - عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "أَتِمُّوا الصُّفُوفَ فَإِنِّي أَرَاكُمْ خَلْفَ ظَهْرِي"

Makna: "Sempurnakanlah barisan, karena sesungguhnya aku melihat kalian di belakang punggungku." (HR. Muslim, no. 434)

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-Hajj [22]: 78 tentang perintah untuk beribadah dengan sempurna:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

"Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan."

Ayat ini menunjukkan bahwa perintah-perintah Allah dalam agama, termasuk shalat, adalah untuk kebaikan hamba-Nya dan tidak memberatkan di luar kemampuan.

Kaitan dengan Ulama:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah perintah untuk meluruskan dan merapatkan barisan shalat. Beliau menyebutkan bahwa yang dimaksud "menyempurnakan" adalah meluruskan barisan, merapatkan, dan mengisi celah-celah yang kosong.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari (saat mensyarah hadits serupa dalam Shahih Bukhari) menjelaskan bahwa perintah ini menunjukkan wajibnya meluruskan barisan, dan ini adalah pendapat jumhur ulama.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

1. Perintah Menyempurnakan Barisan

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "أَتِمُّوا الصُّفُوفَ" (sempurnakanlah barisan) mencakup beberapa hal:

  • Meluruskan barisan agar tidak bengkok
  • Merapatkan antara satu orang dengan yang lain
  • Mengisi celah-celah yang kosong dalam barisan
  • Menyamakan posisi bahu dan kaki

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa menyempurnakan barisan adalah bagian dari menyempurnakan shalat, dan ini menunjukkan bahwa shalat berjamaah yang rapi akan lebih sempurna pahalanya.

2. Mukjizat Nabi ﷺ Melihat ke Belakang

Frasa "فَإِنِّي أَرَاكُمْ خَلْفَ ظَهْرِي" (karena aku melihat kalian di belakang punggungku) menunjukkan mukjizat khusus yang Allah berikan kepada Nabi ﷺ. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dari Anas bin Malik bahwa Nabi ﷺ dapat melihat para sahabat di belakangnya seperti melihat di depannya.

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa ini adalah kekhususan Nabi ﷺ yang tidak dimiliki oleh manusia biasa. Tujuannya adalah untuk menegaskan bahwa perintah ini benar-benar diawasi langsung oleh Nabi ﷺ, sehingga para sahabat lebih bersungguh-sungguh dalam melaksanakannya.

3. Hukum Meluruskan Barisan

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum meluruskan barisan:

  • Pendapat yang lebih kuat (menurut Syaikh al-Albani dan Syaikh Ibnu Baz): Hukumnya wajib, berdasarkan perintah langsung Nabi ﷺ dalam hadits ini dan hadits-hadits lainnya yang semakna.
  • Pendapat sebagian ulama: Hukumnya sunnah mu'akkadah (sangat dianjurkan).

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan bahwa meluruskan barisan termasuk kesempurnaan shalat berjamaah, dan imam hendaknya memerintahkan makmum untuk meluruskan dan merapatkan barisan sebelum memulai shalat.

4. Hikmah di Balik Perintah Ini

Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa keteraturan dalam ibadah mencerminkan keteraturan hati dan ketaatan seorang hamba. Barisan yang rapi menunjukkan persatuan dan kebersamaan umat Islam dalam beribadah kepada Allah.

Story Telling

Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, beliau berkata:

"Pada zaman Nabi ﷺ, kami benar-benar berusaha merapatkan barisan shalat. Sampai-sampai bahu kami bersentuhan dengan bahu saudara kami, dan kaki kami bersentuhan dengan kaki saudara kami. Jika ada yang tidak bisa merapatkan bahunya, maka ia akan terlihat jelas di antara barisan."

Dalam riwayat lain, Anas berkata: "Dahulu salah seorang dari kami menempelkan bahunya ke bahu sahabatnya, dan kakinya ke kaki sahabatnya, jika ia tidak melakukannya, maka ia akan berpaling."

Kisah ini menunjukkan betapa seriusnya para sahabat dalam melaksanakan perintah Nabi ﷺ untuk menyempurnakan barisan. Mereka tidak menganggap remeh perintah ini, karena mereka memahami bahwa ketaatan kepada Rasulullah ﷺ adalah bagian dari ketaatan kepada Allah.

Kesimpulan Praktis

  1. Luruskan dan rapatkan barisan ketika shalat berjamaah, baik sebagai imam maupun makmum.
  2. Isi celah-celah kosong dalam barisan, jangan biarkan ada lubang yang bisa dimasuki setan.
  3. Sejajarkan bahu dan kaki dengan orang di samping kita, tanpa berlebihan atau menyakiti.
  4. Imam hendaknya mengingatkan makmum untuk meluruskan barisan sebelum memulai shalat.
  5. Jadikan kerapian barisan sebagai cermin ketertiban hati dan kekhusyukan dalam beribadah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Komunitas

Follow @haditsindonesia

Penjelasannya membantu? Yuk follow kami di media sosial — hadits pilihan setiap hari.