Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa sebaik-baik atau paling utamanya seorang Muslim adalah ketika orang lain (terutama sesama Muslim) merasa aman dari gangguan lisan dan tangannya. Ini menunjukkan bahwa Islam bukan hanya soal ritual, tetapi juga akhlak mulia yang menjaga kehormatan dan keselamatan orang lain. Inti dari keutamaan ini adalah meninggalkan segala bentuk gangguan, baik berupa ucapan yang menyakitkan maupun perbuatan yang merugikan.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Hujurat [49]: 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok). Dan janganlah perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab al-Iman, Bab Bayan Fadl al-Islam wa Ayyu Umurihi Afdhal, no. 42. Perawinya adalah Abu Musa al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan ulama:
Imam an-Nawawi rahimahullah dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa kesempurnaan Islam seseorang diukur dari sejauh mana ia tidak mengganggu orang lain. Beliau menukil pemahaman para ulama salaf bahwa menjaga lisan dan tangan dari menyakiti Muslimin adalah tanda utama keimanan dan akhlak mulia.
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah jawaban langsung dari Nabi ﷺ ketika sahabat Abu Musa al-Asy'ari bertanya tentang "Islam yang paling utama" (أَىُّ الإِسْلاَمِ أَفْضَلُ). Maksud pertanyaan ini adalah: amalan atau sifat apa yang paling utama dalam Islam? Atau, siapakah Muslim yang paling baik?
Nabi ﷺ menjawab: "مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ" — "Yaitu orang yang kaum Muslimin selamat dari (gangguan) lisan dan tangannya."
Makna "lisan" mencakup segala ucapan yang bisa menyakiti, seperti:
- Ghibah (menggunjing)
- Namimah (adu domba)
- Dusta
- Cacian, makian, dan hinaan
- Ucapan yang memicu permusuhan
Makna "tangan" mencakup segala perbuatan fisik yang merugikan, seperti:
- Memukul, menampar, atau melukai
- Mencuri, merampas, atau merusak harta
- Segala bentuk kekerasan dan kezaliman
Penjelasan ulama dari daftar:
- Imam an-Nawawi rahimahullah (dalam Syarh Shahih Muslim) mengatakan bahwa hadits ini adalah dalil bahwa menahan diri dari menyakiti orang lain adalah amalan yang sangat utama, bahkan lebih utama dari amalan sunnah lainnya jika dibandingkan dengan amalan yang mengandung gangguan.
- Ibnu Hajar al-Asqalani rahimahullah (dalam Fath al-Bari) ketika menjelaskan hadits serupa di Shahih al-Bukhari menegaskan bahwa keselamatan kaum Muslimin dari gangguan adalah tolok ukur keislaman yang paripurna. Beliau menyebut bahwa ini adalah puncak akhlak Islami.
- Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini mengajarkan bahwa seorang Muslim sejati adalah yang amanah dan tidak membahayakan orang lain. Beliau menekankan bahwa lisan dan tangan adalah dua anggota tubuh yang paling sering menjadi sumber dosa dan permusuhan.
Perbedaan pendapat di antara ulama: Tidak ada perbedaan signifikan dalam memahami hadits ini. Semua ulama sepakat bahwa maknanya adalah larangan mengganggu Muslimin dengan ucapan dan perbuatan. Hanya saja, sebagian ulama menekankan bahwa keutamaan ini bersifat umum (mencakup semua Muslim), sementara yang lain menambahkan bahwa keutamaan ini juga berlaku untuk non-Muslim yang tidak memerangi (dalam konteks menjaga keamanan dan perdamaian). Namun, inti hadits tetap pada menjaga keselamatan sesama Muslim.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
> "Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Kisah ini mengingatkan kita pada seorang salaf, Al-Hasan al-Bashri rahimahullah, yang sangat menjaga lisannya. Beliau berkata: "Seorang mukmin itu sedikit bicaranya, banyak amalnya. Adapun orang munafik, banyak bicaranya, sedikit amalnya." (Riwayat Abu Nu'aim dalam al-Hilyah)
Hikmahnya: Menjaga lisan adalah tanda keimanan yang kokoh. Jika kita tidak bisa berkata baik, diam adalah pilihan yang lebih selamat. Begitu pula tangan, jangan sampai digunakan untuk menyakiti, tetapi untuk membantu dan memberi manfaat.
Kesimpulan Praktis
- Jaga lisan: Hindari ghibah, namimah, dusta, dan ucapan kasar. Biasakan berkata baik atau diam.
- Jaga tangan: Jangan memukul, merusak, mencuri, atau menyakiti fisik orang lain. Gunakan tangan untuk berbuat baik.
- Jadilah Muslim yang amanah: Jadikan dirimu sebagai pribadi yang membuat orang lain merasa aman dan nyaman.
- Evaluasi diri: Setiap hari, tanyakan pada diri sendiri: "Apakah hari ini ada orang yang tersakiti oleh lisanku atau tanganku?" Jika ada, segera bertaubat dan minta maaf.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.