Shahih Muslim · Kitab Shalat · No. 417

Bab Larangan Mendahului Imam dalam Takbir dan Lainnya

Shahih

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ حَيْوَةَ، أَنَّ أَبَا يُونُسَ، مَوْلَى أَبِي هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ ‏"‏ إِنَّمَا جُعِلَ الإِمَامُ لِيُؤْتَمَّ بِهِ فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا وَإِذَا رَكَعَ فَارْكَعُوا وَإِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ ‏.‏ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ ‏.‏ وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعُونَ ‏"‏ ‏.‏

Abu Huraira melaporkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Imam diangkat untuk diikuti. Maka bacalah takbir ketika ia membacanya, dan rukuklah ketika ia rukuk, dan ketika ia mengucapkan: 'Allah mendengarkan orang yang memuji-Nya,' katakanlah: 'Ya Allah, Tuhan kami, bagi-Mu segala puji.' Dan ketika ia shalat berdiri, maka shalatlah kalian dalam keadaan berdiri. Dan ketika ia shalat duduk, maka semuanya harus shalat dalam keadaan duduk."