Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan cara bershalawat kepada Nabi ﷺ yang diajarkan langsung oleh beliau, yaitu shalawat Ibrahimiyah: "Allahumma shalli 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kama shallaita 'ala ali Ibrahim, wa barik 'ala Muhammad wa 'ala ali Muhammad kama barakta 'ala ali Ibrahim fil 'alamin, innaka hamidun majid." Shalawat ini dibaca setelah tasyahhud dalam shalat, dan hukumnya termasuk hal yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah) menurut jumhur ulama. Salam ditutup dengan cara yang sudah diajarkan Nabi ﷺ dalam tasyahhud.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
QS. Al-Ahzab [33]: 56
Terjemahan: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan."
Hadits Terkait
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat, Bab Shalat kepada Nabi setelah Tasyahhud, nomor 405. Perawi sahabat: Abu Mas'ud Al-Anshari رضي الله عنه.
Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam An-Nasa'i dengan lafaz yang berdekatan, dan menjadi dalil utama dalam bab shalawat dalam shalat.
Kaitan dengan Ulama
- Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah dalil utama cara shalawat yang diajarkan Nabi ﷺ, dan beliau menegaskan bahwa lafaz inilah yang paling utama dibaca dalam shalat.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menyebutkan bahwa lafaz shalawat Ibrahimiyah adalah lafaz yang paling shahih dan paling banyak dipilih para ulama.
- Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Jala'ul Afham menegaskan bahwa shalawat kepada Nabi ﷺ setelah tasyahhud adalah bagian yang sangat ditekankan, dan lafaz yang paling afdhal adalah yang diajarkan Nabi ﷺ sendiri dalam hadits ini.
Penjelasan Rinci
Konteks Hadits
Para sahabat sedang duduk di majelis Sa'd bin 'Ubadah رضي الله عنه. Rasulullah ﷺ datang, lalu Basyir bin Sa'd رضي الله عنه bertanya: "Allah telah memerintahkan kami untuk bershalawat kepadamu, wahai Rasulullah. Bagaimana caranya kami bershalawat kepadamu?"
Pertanyaan ini muncul sebagai respons terhadap ayat QS. Al-Ahzab [33]: 56 yang memerintahkan orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi ﷺ. Para sahabat memahami perintahnya, tetapi belum mengetahui tata caranya.
Diamnya Nabi ﷺ
Perawi berkata: "Rasulullah ﷺ diam, sehingga kami berharap beliau tidak ditanya." Diamnya Nabi ﷺ di sini menunjukkan bahwa beliau sedang menunggu wahyu, karena cara shalawat adalah perkara ibadah yang harus berdasarkan tuntunan, bukan akal. Ini juga menunjukkan adab para sahabat yang merasa cemas jika pertanyaan mereka memberatkan Nabi ﷺ.
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa diamnya Nabi ﷺ dalam momen seperti ini adalah tanda bahwa beliau menunggu wahyu turun, dan ini menunjukkan bahwa tata cara shalawat adalah perkara tauqifiyyah (harus berdasarkan dalil, tidak boleh dibuat-buat).
Lafaz Shalawat yang Diajarkan
Nabi ﷺ kemudian mengajarkan:
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ
Makna ringkas:
- "Ya Allah, berikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada keluarga Ibrahim."
- "Berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim di seluruh alam."
- "Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung."
Makna "Shalawat" dan "Barakah"
- Shalawat dari Allah berarti pujian dan rahmat; dari malaikat berarti doa dan istighfar; dari manusia berarti doa kepada Allah agar memuji dan merahmati Nabi ﷺ.
- Barakah berarti kebaikan yang terus bertambah dan langgeng.
Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa penyebutan "ali Ibrahim" menunjukkan keutamaan keluarga Nabi ﷺ dan keluarga Ibrahim عليه السلام, dan bahwa doa ini mencakup kebaikan dunia dan akhirat.
Hukum Shalawat dalam Shalat
Para ulama dari daftar yang disebutkan berbeda pendapat:
- Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal: Shalawat kepada Nabi ﷺ setelah tasyahhud akhir adalah rukun shalat, tidak sah shalat tanpa itu. Dalilnya adalah perintah dalam hadits ini dan hadits "Shallu kama ra'aitumuni ushalli" (shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat).
- Imam Abu Hanifah dan Imam Malik: Shalawat setelah tasyahhud adalah sunnah muakkadah, bukan rukun. Shalat tetap sah tanpa itu, tetapi meninggalkannya secara sengaja adalah makruh.
Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu' dan Ibnu Qayyim dalam Jala'ul Afham menguatkan pendapat yang menyatakan shalawat adalah bagian yang sangat ditekankan, dan pendapat Syafi'i-Ahmadi adalah yang paling kuat dari sisi dalil, karena perintahnya sangat jelas dan Nabi ﷺ mengajarkannya secara khusus ketika ditanya.
Salam
Nabi ﷺ menutup dengan: "وَالسَّلَامُ كَمَا قَدْ عَلِمْتُمْ" — "Dan salam sebagaimana yang telah kalian ketahui." Ini menunjukkan bahwa cara salam sudah diajarkan Nabi ﷺ dalam tasyahhud, yaitu:
السَّلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa kalimat ini menunjukkan bahwa salam dalam tasyahhud sudah cukup diketahui para sahabat, sehingga Nabi ﷺ tidak perlu mengulanginya.
Story Telling
Diceritakan bahwa Abu Mas'ud Al-Anshari رضي الله عنه — seorang sahabat dari kaum Anshar — menghadiri majelis Sa'd bin 'Ubadah. Ketika Nabi ﷺ datang, suasana majelis menjadi tenang dan penuh adab. Basyir bin Sa'd رضي الله عنه memberanikan diri bertanya tentang cara shalawat, karena ayat Al-Ahzab 56 baru saja turun dan membuat para sahabat rindu untuk melaksanakannya dengan benar.
Ketika Nabi ﷺ diam, para sahabat merasa gelisah. Mereka khawatir pertanyaan itu memberatkan beliau, atau mungkin ada sesuatu yang tidak pantas. Namun kemudian Nabi ﷺ tersenyum dan mengajarkan lafaz yang indah — sebuah doa yang menggabungkan pujian kepada Allah, shalawat kepada Nabi ﷺ, dan keberkahan untuk keluarga beliau, sebagaimana keluarga Ibrahim عليه السلام.
Imam An-Nawawi menyebutkan bahwa momen ini menunjukkan betapa para sahabat sangat antusias dalam beribadah, dan betapa Nabi ﷺ sangat penyayang dalam mengajarkan. (Sumber: Syarh Shahih Muslim)
Kesimpulan Praktis
- Bacalah shalawat Ibrahimiyah setelah tasyahhud dalam shalat, karena itulah lafaz yang diajarkan Nabi ﷺ secara langsung.
- Jangan membuat lafaz shalawat sendiri yang tidak berdasarkan dalil, karena ibadah shalat bersifat tauqifiyyah.
- Perbanyak shalawat di luar shalat juga, karena perintah QS. Al-Ahzab 56 mencakup semua waktu.
- Ajarkan kepada keluarga lafaz shalawat ini, karena mencakup doa untuk keluarga Nabi ﷺ dan keluarga kita sendiri.
- Ikuti pendapat yang paling kuat — yaitu shalawat setelah tasyahhud adalah bagian yang sangat ditekankan, dan menurut Syafi'i-Ahmadi termasuk rukun yang tidak boleh ditinggalkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.