Penjelasan Hadits Muslim No. 404 tentang Bacaan tasyahhud dan adab dalam shalat

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan adab dan tata cara shalat berjamaah, terutama bacaan tasyahhud yang benar. Abu Musa Al-Asy'ari mengoreksi seseorang yang menambahkan kalimat "shalat itu ditegakkan dengan kebaikan dan zakat" di dalam tasyahhud, karena bacaan shalat harus mengikuti apa yang diajarkan Nabi ﷺ. Nabi ﷺ mengajarkan bahwa tasyahhud dimulai dengan "التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ..." dan seterusnya.

Rujukan Ulama & Dalil

Ayat Al-Qur'an yang relevan:

QS. Al-A'raf [7]: 204

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Terjemahan: "Dan apabila dibacakan Al-Qur'an, maka dengarkanlah dan diamlah, agar kamu mendapat rahmat."

Hadits terkait:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat, Bab Tasyahhud, dari sahabat Hattan bin Abdullah Al-Raqasyi dari Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.

Kaitan dengan ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil disyariatkannya tasyahhud dengan lafazh yang diajarkan Nabi ﷺ dan larangan menambah-nambah bacaan dalam shalat tanpa dalil.
  • Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menegaskan bahwa bacaan shalat bersifat tauqifi (harus mengikuti contoh Nabi ﷺ), tidak boleh direkayasa sendiri.
  • Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam Zaad al-Ma'ad menyebutkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan tasyahhud secara lengkap dan konsisten.

Penjelasan Rinci

Hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:

Pertama: Shalat bersifat tauqifi (mengikuti contoh Nabi ﷺ).

Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu mengoreksi seorang yang menambahkan kalimat "shalat ditegakkan dengan kebaikan dan zakat" di dalam tasyahhud. Ini menunjukkan bahwa bacaan dalam shalat tidak boleh ditambah-tambah atau dikurangi, karena shalat adalah ibadah yang telah dicontohkan Nabi ﷺ secara rinci. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa ucapan tersebut sebenarnya baik maknanya, tetapi tidak pada tempatnya di dalam tasyahhud.

Kedua: Adab mengoreksi kesalahan.

Abu Musa tidak langsung menuduh atau menghardik, tetapi bertanya dengan lembut: "Siapa yang mengucapkan kalimat ini?" Beliau mengulang pertanyaan karena ingin memastikan, bukan untuk mempermalukan. Ini mengajarkan adab dalam menasihati, sebagaimana dijelaskan Imam an-Nawawi dalam Riyadh ash-Shalihin.

Ketiga: Kejujuran Hattan.

Hattan berkata: "Aku tidak mengucapkannya, dan aku takut engkau marah kepadaku." Ini menunjukkan sikap tawadhu dan kejujuran seorang tabi'in. Atha' bin Abi Rabah dan Qatadah bin Di'amah menyebutkan bahwa sikap ini adalah contoh adab terhadap guru dan pemimpin.

Keempat: Ajaran Nabi ﷺ tentang shalat berjamaah.

Nabi ﷺ mengajarkan:

  • Merapikan shaf (barisan) sebelum shalat.
  • Mengikuti imam: takbir, ruku, sujud, dan bangkit.
  • Mengucapkan "Amin" setelah imam membaca Al-Fatihah.
  • Mengucapkan "Rabbana lakal hamd" setelah imam membaca "Sami'allahu liman hamidah."
  • Tasyahhud dimulai dengan "التَّحِيَّاتُ الطَّيِّبَاتُ الصَّلَوَاتُ لِلَّهِ..."

Kelima: Perbedaan pendapat ulama tentang lafazh tasyahhud.

Imam asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa tasyahhud yang paling utama adalah yang diajarkan dalam hadits ini (riwayat Ibnu Mas'ud dan Abu Musa). Imam Abu Hanifah dan Imam Malik juga memiliki riwayat lain, namun semuanya sepakat bahwa tasyahhud adalah bagian wajib dalam shalat. Yang paling kuat menurut dalil adalah lafazh yang diajarkan Nabi ﷺ secara langsung, sebagaimana ditegaskan Ibnu Hajar dan an-Nawawi.

Story Telling

Dikisahkan bahwa Hattan bin Abdullah Al-Raqasyi, seorang tabi'in yang dikenal jujur, suatu hari shalat di belakang Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu. Ketika duduk tasyahhud, seseorang di antara jamaah mengucapkan kalimat yang tidak diajarkan Nabi ﷺ. Setelah shalat, Abu Musa bertanya dengan lembut, dan Hattan merasa takut jika beliau mengira dirinya yang mengucapkannya. Akhirnya seorang laki-laki mengaku: "Aku yang mengucapkannya, dan aku hanya bermaksud baik."

Abu Musa lalu menjelaskan bahwa Rasulullah ﷺ pernah berkhutbah kepada mereka dan mengajarkan shalat secara lengkap, termasuk bacaan tasyahhud. Kisah ini menunjukkan bagaimana para sahabat dan tabi'in sangat menjaga kemurnian ibadah, dan bagaimana mereka mengoreksi dengan penuh adab. Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wa al-Hikam menyebutkan bahwa kisah ini adalah contoh salafus shalih dalam menjaga sunnah dan menjauhi bid'ah dalam ibadah.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikuti bacaan shalat sesuai contoh Nabi ﷺ, terutama tasyahhud, tanpa menambah atau mengurangi.
  2. Koreksi kesalahan dengan lembut dan penuh adab, tidak menghakimi atau mempermalukan.
  3. Jaga kekhusyukan dan ketertiban shaf dalam shalat berjamaah.
  4. Ucapkan "Amin" setelah imam membaca Al-Fatihah, dan "Rabbana lakal hamd" setelah imam membaca "Sami'allahu liman hamidah."
  5. Belajar ilmu shalat dari sumber yang terpercaya, yaitu Al-Qur'an, hadits shahih, dan penjelasan ulama Ahlus Sunnah.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan ini tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?