Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa muslim yang paling utama adalah yang paling tidak menyakiti muslim lainnya, baik lewat ucapan (lisan) maupun perbuatan (tangan). Intinya, keislaman yang baik itu terlihat dari sikap menjaga lisan dan tidak menzalimi orang lain. Ini bukan sekadar teori, tetapi bukti nyata keimanan seseorang.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, Bab Penjelasan tentang Keutamaan Islam dan Mana di Antara Perkara-perkaranya yang Paling Utama, dari sahabat Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma.
Teks hadits:
إِنَّ رَجُلاً سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ أَىُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ قَالَ " مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ "
Terjemahan: "Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ, 'Siapa di antara kaum Muslimin yang terbaik?' Beliau bersabda: 'Orang yang selamat dari lisan dan tangannya kaum Muslimin.'"
Dalil Al-Qur'an yang relevan:
QS. Al-Hujurat [49]: 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Terjemahan: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena bisa jadi mereka lebih baik dari mereka. Jangan pula wanita mengolok-olok wanita lain, karena bisa jadi mereka lebih baik. Janganlah kamu saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."
Hadits ini juga dikuatkan oleh hadits lain dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, di mana Nabi ﷺ ditanya, "Islam seperti apa yang paling utama?" Beliau menjawab, "Yang selamat dari lisan dan tangannya kaum Muslimin." (HR. Bukhari dan Muslim)
Penjelasan Rinci
Hadits ini mengandung makna yang sangat dalam tentang hakikat keislaman yang benar. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa pertanyaan sahabat tentang "siapa muslim yang terbaik" menunjukkan keinginan mereka untuk mengetahui amal yang paling utama. Nabi ﷺ menjawab dengan menyebutkan perkara yang berkaitan dengan hak sesama muslim, bukan hanya ibadah ritual semata.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa makna "selamat dari lisan dan tangan" mencakup:
- Menjaga lisan dari ghibah, namimah (adu domba), mencela, menghina, dan ucapan menyakitkan lainnya.
- Menjaga tangan dari memukul, mencuri, merusak harta, atau perbuatan zalim lainnya.
Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-Ulum wa al-Hikam menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa keselamatan orang lain dari gangguan kita adalah bagian dari kesempurnaan iman. Beliau juga menyebutkan bahwa lisan dan tangan disebutkan secara khusus karena keduanya adalah alat utama seseorang melakukan kezaliman.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam kitab tafsirnya menjelaskan bahwa ayat Al-Hujurat [49]: 11 di atas melarang segala bentuk penghinaan, baik melalui ucapan maupun perbuatan. Beliau menekankan bahwa seorang mukmin sejati adalah yang hatinya bersih dari kebencian dan lisannya terjaga dari menyakiti.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini bukan berarti seorang muslim boleh menyakiti non-muslim. Justru, Islam mengajarkan keadilan dan kasih sayang kepada semua manusia. Namun, hadits ini menyebut "kaum Muslimin" karena sesama muslim memiliki hak yang lebih besar untuk dilindungi.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:
- Sebagian ulama seperti Imam Ahmad bin Hanbal memandang bahwa hadits ini menunjukkan bahwa meninggalkan gangguan terhadap muslim lain adalah kewajiban, bukan sekadar keutamaan.
- Imam asy-Syafi'i menekankan bahwa hadits ini mencakup semua bentuk gangguan, baik yang kecil maupun besar.
- Pendapat yang paling kuat adalah yang dikemukakan oleh Ibnu Hajar dan An-Nawawi: bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan yang agung bagi orang yang menjaga lisan dan tangannya, dan ini adalah tanda kesempurnaan iman.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiyallahu 'anhuma, perawi hadits ini, adalah seorang sahabat yang sangat menjaga lisannya. Beliau pernah berkata, "Demi Allah, aku tidak pernah mencela seseorang pun sejak aku masuk Islam." Ini menunjukkan bagaimana beliau mengamalkan hadits yang beliau riwayatkan sendiri.
Dalam kisah lain, seorang laki-laki datang kepada Al-Hasan al-Bashri rahimahullah dan bertanya, "Wahai Imam, bagaimana cara menjaga lisan?" Beliau menjawab, "Ketahuilah bahwa lisanmu adalah bagian dari dirimu. Jika engkau tidak menjaganya, ia akan menjatuhkanmu ke dalam neraka." Nasihat ini sejalan dengan hadits Nabi ﷺ yang mengingatkan bahwa lisan bisa menjadi penyebab seseorang masuk neraka.
Kesimpulan Praktis
- Jagalah lisan dari ghibah, namimah, mencela, dan ucapan yang menyakitkan.
- Jauhilah perbuatan zalim dengan tangan, seperti memukul, mencuri, atau merusak harta orang lain.
- Sadarilah bahwa keselamatan orang lain dari gangguan kita adalah tanda keimanan yang benar.
- Latihlah diri untuk selalu berkata baik atau diam, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)
- Ingatlah bahwa muslim yang terbaik adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain, bukan yang paling banyak ibadah ritualnya tetapi menyakiti sesama.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.