Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 392 tentang Takbir dalam setiap gerakan shalat

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ bertakbir pada setiap gerakan naik dan turun dalam shalat, kecuali saat bangkit dari rukuk, di mana beliau mengucapkan "Sami'allahu liman hamidah". Ini adalah sunnah yang jelas dan dipraktikkan oleh para sahabat, termasuk Abu Hurairah, dan menjadi ijma' (kesepakatan) ulama bahwa takbir dalam shalat dilakukan pada setiap perpindahan gerakan, bukan hanya takbiratul ihram di awal.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks Arab hadits yang Anda berikan sudah lengkap dan benar. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat, Bab "Penegasan Takbir dalam Setiap Rukuk dan I'tidal dalam Shalat Kecuali I'tidal dari Rukuk yang Mengatakan 'Sami'a Allahu Liman Hamidah'", nomor 392.

Dalil Al-Qur'an yang Relevan:

Allah ﷻ berfirman:

وَحَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

"Peliharalah semua shalat dan shalat wustha (shalat Ashar). Dan berdirilah karena Allah (dalam shalat) dengan khusyuk."

(QS. Al-Baqarah [2]: 238)

Ayat ini menunjukkan perintah menjaga shalat dengan sempurna, termasuk mengikuti tata cara shalat Nabi ﷺ secara detail, di antaranya adalah takbir pada setiap gerakan.

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (Al-Minhaj) menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan disunnahkannya takbir pada setiap turun dan bangun dalam shalat, dan ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. Beliau juga menukil bahwa Imam Malik, Imam Asy-Syafi'i, dan Imam Ahmad berpendapat demikian.

Penjelasan Rinci

Hadits ini diriwayatkan dari jalur Imam Malik dari Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Abu Salamah bin Abdurrahman, bahwa Abu Hurairah pernah menjadi imam shalat bagi mereka. Setiap kali beliau turun (rukuk atau sujud) dan bangkit (dari rukuk atau sujud), beliau bertakbir. Setelah selesai shalat, beliau bersumpah: "Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling mirip shalatnya dengan Rasulullah ﷺ di antara kalian."

Makna dan Pemahaman Ulama:

  1. Imam An-Nawawi (w. 676 H) dalam Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim menjelaskan: Hadits ini adalah dalil bahwa takbir disyariatkan pada setiap gerakan turun dan naik dalam shalat. Beliau menegaskan bahwa ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi'in, dan imam-imam mazhab.
  2. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani (w. 852 H) dalam Fathul Bari ketika membahas hadits-hadits tentang takbir dalam shalat menjelaskan bahwa tidak ada perselisihan di kalangan ulama tentang disyariatkannya takbir pada setiap perpindahan gerakan, kecuali dalam masalah mengangkat tangan (raf'ul yadain) yang merupakan pembahasan terpisah.
  3. Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (w. 1421 H) dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa hikmah takbir pada setiap gerakan adalah untuk mengagungkan Allah ﷻ pada setiap keadaan, dan ini menunjukkan bahwa shalat adalah ibadah yang penuh dengan pengagungan kepada Allah.
  4. Syaikh Abdul Aziz bin Baz (w. 1420 H) dalam Majmu' Fatawa menegaskan bahwa takbir pada setiap turun dan bangun adalah sunnah yang tetap dari Nabi ﷺ, dan tidak ada seorang pun dari ulama yang mengingkarinya.

Praktik Nabi ﷺ:

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah, beliau menggambarkan shalat Nabi ﷺ: "Beliau bertakbir ketika berdiri, bertakbir ketika rukuk, kemudian mengucapkan 'Sami'allahu liman hamidah' ketika bangkit dari rukuk, dan bertakbir ketika sujud, dan bertakbir ketika bangkit dari sujud."

Pengecualian:

Yang dimaksud dengan "kecuali i'tidal dari rukuk" dalam judul bab Imam Muslim adalah: ketika bangkit dari rukuk, imam dan makmum mengucapkan "Sami'allahu liman hamidah" (semoga Allah mendengar orang yang memuji-Nya), bukan bertakbir. Adapun setelah sempurna berdiri tegak (i'tidal), barulah bertakbir untuk turun sujud.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu adalah salah satu sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits tentang tata cara shalat Nabi ﷺ. Beliau tinggal bersama Nabi ﷺ di Shuffah (serambi Masjid Nabawi) selama beberapa tahun, sehingga beliau menyaksikan langsung dan menghafal detail ibadah beliau.

Suatu hari, ketika Abu Hurairah menjadi imam, beliau mempraktikkan shalat persis seperti yang beliau lihat dari Rasulullah ﷺ. Setelah selesai, beliau bersumpah dengan jujur bahwa shalatnya adalah yang paling mirip dengan shalat Nabi ﷺ. Ini menunjukkan kepercayaan diri seorang sahabat yang memiliki ilmu dan pengamatan langsung, serta keinginan untuk menjaga sunnah Nabi ﷺ dengan tepat.

Hikmah dari kisah ini: Kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk meniru shalat Nabi ﷺ dalam setiap detailnya, karena shalat adalah tiang agama dan amalan pertama yang akan dihisab pada hari kiamat.

Kesimpulan Praktis

  1. Bertakbir pada setiap gerakan shalat: Takbir dilakukan saat turun rukuk, bangkit dari rukuk (setelah i'tidal sempurna), turun sujud, bangkit dari sujud, dan saat berdiri dari tasyahud awal.
  2. Mengucapkan "Sami'allahu liman hamidah" saat bangkit dari rukuk, baik sebagai imam, makmum, maupun shalat sendirian.
  3. Menjaga kekhusyukan dengan memahami makna takbir, yaitu mengagungkan Allah ﷻ dalam setiap keadaan.
  4. Meneladani para sahabat yang sangat perhatian terhadap detail ibadah Nabi ﷺ.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi