Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menjelaskan bahwa setan sangat membenci adzan. Begitu mendengar panggilan shalat, ia langsung lari menjauh sejauh jarak Rauha (sekitar 36 mil dari Madinah) agar tidak mendengar suara adzan. Ini menunjukkan keutamaan besar adzan dan kelemahan setan di hadapan syiar Islam. Bagi kita, ini adalah dorongan untuk menghidupkan adzan dan menjawabnya dengan penuh perhatian.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim bin al-Hajjaj dalam Shahih Muslim (no. 388), dari sahabat Jabir bin Abdullah رضي الله عنه, melalui jalur Abu Sufyan (Tharif bin Syihab) dan Sulaiman (al-A'masy).
Teks hadits (sebagaimana disebutkan):
إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ النِّدَاءَ بِالصَّلَاةِ ذَهَبَ حَتَّى يَكُونَ مَكَانَ الرَّوْحَاءِ
Terjemahan: "Sesungguhnya setan, apabila mendengar panggilan shalat (adzan), ia pergi hingga berada di tempat Rauha."
Keterangan Rauha: هِيَ مِنَ الْمَدِينَةِ سِتَّةٌ وَثَلَاثُونَ مِيلًا — "Ia berjarak tiga puluh enam mil dari Madinah."
Dalil Al-Qur'an yang berkaitan dengan godaan setan dan peringatannya:
إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا ۚ إِنَّمَا يَدْعُو حِزْبَهُ لِيَكُونُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيرِ
(QS. Fathir [35]: 6)
Terjemahan: "Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya setan-setan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala."
Penjelasan Rinci
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan setan benar-benar lari dan menjauh ketika mendengar adzan. Para ulama (seperti yang dinukil an-Nawawi) berbeda pendapat: sebagian memahami "pergi" secara hakiki (setan benar-benar berpindah tempat), sebagian lain memahaminya sebagai bentuk keengganan dan larinya setan dari mendengar adzan karena kebenciannya. Pendapat yang lebih kuat — sebagaimana ditegaskan an-Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari — adalah bahwa zahir hadits menunjukkan setan benar-benar lari menjauh, dan ini tidak mustahil bagi kekuasaan Allah.
Ibnu Hajar juga menambahkan hikmah: adzan mengandung tauhid, pengagungan Allah, dan seruan kepada shalat berjamaah — semua itu adalah hal yang paling dibenci setan. Karena itu ia lari agar tidak mendengarnya. Jarak Rauha (36 mil) menunjukkan betapa besar kebencian dan ketakutan setan terhadap adzan.
Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menegaskan bahwa setan adalah musuh nyata yang selalu berusaha menyesatkan; maka syiar-syiar Islam seperti adzan menjadi benteng yang mengusirnya. Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Zad al-Ma'ad menyebut adzan sebagai salah satu sebab yang mengusir setan dan mendatangkan malaikat, serta menjadikan hati hadir dalam shalat.
Hadits ini juga mengajarkan adab: ketika mendengar adzan, kita dianjurkan menjawabnya dan tidak sibuk dengan hal lain, karena adzan adalah seruan agung yang bahkan setan pun takut mendengarnya.
Story Telling
Dikisahkan bahwa suatu ketika Nabi ﷺ bersama para sahabat, dan beliau menyebutkan tentang setan yang lari ketika mendengar adzan. Jabir bin Abdullah رضي الله عنه — sahabat yang meriwayatkan hadits ini — mendengar langsung sabda Nabi ﷺ dan meriwayatkannya kepada kaum muslimin. Sulaiman al-A'masy (perawi setelah Abu Sufyan) penasaran dan bertanya tentang makna "Rauha", lalu dijawab bahwa itu tempat berjarak 36 mil dari Madinah. Kisah ini menunjukkan semangat para perawi dalam memahami hadits secara rinci, dan betapa para sahabat memperhatikan detail sabda Nabi ﷺ. (Sumber: Shahih Muslim dan Syarh an-Nawawi.)
Kesimpulan Praktis
- Adzan adalah syiar agung yang membuat setan lari menjauh; maka jangan meremehkannya.
- Ketika mendengar adzan, jawablah dengan baik dan tinggalkan kesibukan sejenak.
- Jadikan adzan sebagai pengingat untuk segera shalat dan menjauhi godaan setan.
- Yakinlah bahwa setan adalah musuh nyata; perkuat diri dengan dzikir, adzan, dan shalat.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.