Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan adab mulia ketika mendengar adzan: (1) mengulang lafaz adzan seperti yang diucapkan muadzin, (2) bershalawat kepada Nabi ﷺ, dan (3) memohonkan al-Wasilah (kedudukan tertinggi di surga) untuk beliau. Barangsiapa melakukan hal ini, ia akan mendapatkan balasan shalawat dari Allah sepuluh kali lipat dan berhak mendapatkan syafaat Nabi ﷺ di hari kiamat. Ini adalah kemurahan Allah yang sangat besar bagi umat Islam.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Shalat, Bab "Disunnahkan Mengucapkan Seperti yang Diucapkan Muadzin bagi yang Mendengarnya, Kemudian Bershalawat kepada Nabi dan Memohon kepada Allah untuk Wasilah" (no. 384), dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhu.
Dalil dari Al-Qur'an tentang perintah bershalawat kepada Nabi ﷺ:
QS. Al-Ahzab [33]: 56
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya."
Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur'an al-'Azhim menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah dari Allah kepada hamba-Nya untuk bershalawat dan memberi salam kepada Nabi ﷺ, sebagai bentuk penghormatan dan pengagungan kepada beliau.
Penjelasan Rinci
Para ulama dari kalangan Ahlus Sunnah menjelaskan kandungan hadits ini secara terperinci:
Pertama: Mengulang lafaz adzan. Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa mayoritas ulama (jumhur) berpendapat: barangsiapa mendengar adzan, disunnahkan baginya untuk mengucapkan seperti yang diucapkan muadzin, kecuali pada lafaz "Hayya 'alash shalah" dan "Hayya 'alal falah" — maka pendengar mengucapkan "La haula wala quwwata illa billah" (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). Ini berdasarkan hadits lain dari Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan Imam Muslim juga. Adapun pada adzan Subuh, ketika muadzin mengucapkan "Ash-shalatu khairum minan naum", pendengar mengucapkan seperti itu pula.
Kedua: Bershalawat kepada Nabi ﷺ. Setelah mengulang adzan, disunnahkan bershalawat kepada Nabi ﷺ. Imam Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fath al-Bari menjelaskan hikmahnya: karena adzan adalah panggilan untuk shalat yang merupakan ibadah paling agung, maka Allah mensyariatkan agar setelahnya kita bershalawat kepada Nabi ﷺ sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan atas risalah beliau. Balasannya sangat besar: satu shalawat dibalas sepuluh shalawat dari Allah.
Ketiga: Memohonkan al-Wasilah. Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha'if al-Ma'arif menjelaskan bahwa al-Wasilah adalah kedudukan tertinggi di surga yang khusus diberikan kepada Nabi ﷺ. Ini sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Imam Muslim dari Abdullah bin Amr bin al-Ash bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Apabila kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti yang diucapkannya, kemudian bershalawatlah kepadaku... kemudian mohonkanlah untukku al-Wasilah, karena ia adalah satu kedudukan di surga yang tidak layak kecuali bagi seorang hamba dari hamba-hamba Allah, dan aku berharap akulah hamba tersebut."
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa doa memohonkan wasilah ini adalah doa yang agung, karena dengan mendoakan Nabi ﷺ mendapatkan kedudukan tertinggi, seorang muslim menunjukkan kecintaannya kepada beliau dan pengakuannya atas keutamaan beliau. Dan balasannya disebutkan dalam hadits: "Barangsiapa memohonkan untukku al-Wasilah, maka halal baginya syafaatku." Maksudnya, ia berhak mendapatkan syafaat Nabi ﷺ di hari kiamat.
Perbedaan pendapat tentang lafaz doa wasilah: Sebagian ulama menganjurkan lafaz doa yang masyhur: "Allahumma Rabba hadzihid da'watit tammah, wash shalatil qa'imah, ati Muhammadan al-wasilata wal fadhilah, wab'atshu maqamam mahmudan alladzi wa'ad tah" (Ya Allah, Rabb pemilik seruan yang sempurna ini dan shalat yang akan didirikan, berikanlah kepada Muhammad al-Wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah beliau pada maqam terpuji yang telah Engkau janjikan). Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits ini dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu. Namun perlu dicatat bahwa doa ini diucapkan setelah mengulang adzan dan bershalawat, bukan sebagai ganti dari keduanya.
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Amr bin al-Ash radhiyallahu 'anhu — beliau adalah perawi hadits ini sendiri. Beliau dikenal sebagai sahabat yang sangat tekun beribadah dan banyak meriwayatkan hadits. Suatu ketika, beliau mendengar Nabi ﷺ bersabda tentang keutamaan orang yang memohonkan wasilah, maka sejak saat itu beliau sangat bersemangat mengamalkannya setiap kali mendengar adzan.
Al-Hasan al-Bashri — ulama tabi'in yang terkenal zuhud — sering kali menangis ketika menyebutkan syafaat Nabi ﷺ di hari kiamat. Beliau berkata: "Wahai manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mendapatkan syafaat Nabi ﷺ kecuali dengan mengikuti sunnahnya dan mencintainya dengan benar. Dan di antara tanda cinta kepada beliau adalah bershalawat kepadanya dan memohonkan wasilah untuknya setiap kali mendengar adzan."
Hikmah dari kisah ini: amalan yang tampak sederhana — mengulang adzan, bershalawat, dan memohonkan wasilah — ternyata memiliki balasan yang sangat besar, yaitu jaminan syafaat Nabi ﷺ di hari kiamat. Ini menunjukkan betapa Allah dan Rasul-Nya sangat mencintai umat ini dengan memberikan jalan mudah menuju kebahagiaan abadi.
Kesimpulan Praktis
- Segera ulangi lafaz adzan ketika mendengarnya, kecuali pada "Hayya 'alash shalah" dan "Hayya 'alal falah" maka ucapkan "La haula wala quwwata illa billah".
- Setelah selesai mengulang adzan, bershalawatlah kepada Nabi ﷺ — minimal dengan "Allahumma shalli 'ala Muhammad".
- Kemudian panjatkan doa al-Wasilah untuk Nabi ﷺ, misalnya dengan lafaz yang diajarkan dalam hadits riwayat al-Bukhari dari Jabir.
- Yakini balasannya: satu shalawat dibalas sepuluh, dan memohonkan wasilah menjadi sebab mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat.
- Amalkan dengan ikhlas dan penuh cinta kepada Nabi ﷺ, bukan sekadar rutinitas tanpa penghayatan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.