Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu hadits yang sangat agung dan mencakup seluruh ajaran Islam. Nabi ﷺ memberikan jawaban yang sangat ringkas namun mendalam kepada Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi: "Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqamahlah." Ini adalah wasiat yang menggabungkan antara akidah (keyakinan dalam hati) dan amal (perbuatan yang konsisten). Iman adalah fondasi, dan istiqamah adalah bukti nyata dari keimanan tersebut dalam seluruh aspek kehidupan.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Al-Iman, Bab "Mengumpulkan Ciri-Ciri Islam", nomor 38. Juga diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Ibnu Majah.
Ayat Al-Qur'an yang Terkait:
Allah ﷻ berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ
"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah', kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata): 'Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu'." (QS. Fussilat [41]: 30)
Ayat ini disebutkan oleh banyak ulama, di antaranya Imam Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur'an Al-'Azhim dan Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam Taisir Al-Karim Ar-Rahman, sebagai penjelas makna istiqamah yang diperintahkan dalam hadits ini.
Hadits Terkait:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
"قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ"
"Katakanlah: 'Aku beriman kepada Allah', kemudian beristiqamahlah." (HR. Muslim)
Penjelasan Rinci
Hadits ini adalah salah satu jawami'ul kalim (ucapan ringkas yang mencakup makna luas) dari Nabi ﷺ. Beliau memberikan wasiat yang sangat padat namun lengkap kepada seorang sahabat yang meminta nasihat yang bisa menjadi pegangan hidupnya selamanya.
1. Makna "Katakanlah: Aku beriman kepada Allah"
Para ulama menjelaskan bahwa perintah "qul" (katakanlah) di sini bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi mencakup pembenaran dalam hati, pengakuan dengan lisan, dan konsekuensi amal dengan anggota badan. Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa iman adalah membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan. Iman kepada Allah mencakup iman kepada keberadaan-Nya, rububiyah-Nya (kekuasaan-Nya), uluhiyah-Nya (hak-Nya untuk disembah), serta asma' dan sifat-sifat-Nya.
2. Makna "Kemudian beristiqamahlah"
Kata tsumma (kemudian) di sini menunjukkan urutan dan konsekuensi. Setelah beriman, maka konsekuensinya adalah istiqamah. Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya Jami' Al-'Ulum wal Hikam menjelaskan bahwa istiqamah adalah menempuh jalan yang lurus (agama Islam) tanpa menyimpang ke kanan atau ke kiri. Ini mencakup istiqamah dalam:
- Hati: Yaitu konsisten dalam keyakinan tauhid dan membersihkan hati dari syirik, riya', dan penyakit hati lainnya.
- Lisan: Yaitu konsisten dalam perkataan yang jujur dan baik, serta menjauhi dusta, ghibah, dan perkataan sia-sia.
- Amal perbuatan: Yaitu konsisten dalam menjalankan ibadah wajib dan sunnah, serta menjauhi segala yang diharamkan.
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menukil perkataan para ulama salaf tentang makna istiqamah dalam ayat di atas. Di antaranya, Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu menafsirkan istiqamah sebagai "tidak berbuat syirik kepada Allah sedikit pun." Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu menafsirkannya sebagai "tetap di atas perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya." Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu menafsirkannya sebagai "mengikhlaskan amal kepada Allah." Sedangkan Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: "Mereka adalah orang-orang yang beristiqamah di atas perintah Allah, mengerjakan ketaatan kepada-Nya, dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya."
3. Hubungan Iman dan Istiqamah
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Al-Arba'in An-Nawawiyah menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa istiqamah adalah buah dari iman. Iman yang benar akan melahirkan istiqamah dalam amal. Sebaliknya, istiqamah yang hakiki hanya bisa lahir dari iman yang kokoh. Keduanya saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.
4. Pelajaran Penting dari Hadits Ini
- Kesempurnaan nasihat Nabi ﷺ: Beliau tidak menjawab dengan panjang lebar, tetapi memberikan jawaban yang mencakup seluruh agama. Ini menunjukkan kefasihan dan kebijaksanaan beliau.
- Prioritas dalam beragama: Iman adalah fondasi, dan istiqamah adalah bangunan di atasnya. Keduanya harus berjalan beriringan.
- Istiqamah adalah perkara yang berat: Karena ia menuntut kesabaran dan konsistensi dalam ketaatan sepanjang hidup. Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam Madarijus Salikin menyebutkan bahwa istiqamah adalah "berdiri di hadapan Allah dengan jujur dan konsisten di atas jalan yang lurus."
Story Telling
Ada kisah yang sangat masyhur tentang istiqamahnya para salaf. Diriwayatkan bahwa Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi — yang bertanya kepada Nabi ﷺ dalam hadits ini — adalah seorang sahabat yang kemudian dikenal dengan keistiqamahannya. Beliau memegang teguh wasiat Nabi ﷺ ini sepanjang hidupnya.
Kisah lain yang lebih terkenal adalah tentang Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah. Beliau adalah seorang tabi'in yang sangat terkenal dengan kezuhudan dan keistiqamahannya. Suatu hari, seorang laki-laki berkata kepadanya, "Wahai Abu Sa'id, aku sering sakit." Al-Hasan berkata, "Beristiqamahlah di atas perintah Allah, niscaya Allah akan menjagamu." Kemudian beliau membacakan ayat: "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah Allah', kemudian mereka tetap istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka..." (QS. Fussilat: 30). Ini menunjukkan bahwa istiqamah adalah kunci ketenangan dan pertolongan Allah.
Kesimpulan Praktis
- Perbaharui iman setiap saat: Iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Maka, perbanyaklah amal shalih dan jauhi dosa agar iman tetap kokoh.
- Jadikan istiqamah sebagai tujuan hidup: Bukan hanya sekadar beramal, tetapi beramal secara konsisten dan berkelanjutan. Amal yang sedikit tetapi istiqamah lebih baik daripada amal yang banyak tetapi tidak berkelanjutan.
- Mulai dari hal-hal kecil: Istiqamah tidak harus dimulai dengan amal yang besar. Mulailah dengan menjaga shalat lima waktu, menjaga lisan dari perkataan sia-sia, dan konsisten dalam ketaatan sehari-hari.
- Minta pertolongan Allah: Istiqamah adalah karunia Allah. Maka, perbanyaklah doa: "Ya Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu." Sebagaimana doa yang diajarkan Nabi ﷺ: "يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.