Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah hadits Abu Mahdzurah radhiyallahu 'anhu yang diriwayatkan Imam Muslim, berisi pengajaran langsung Nabi ﷺ tentang lafazh adzan. Di dalamnya terdapat pengulangan takbir dua kali, syahadat dua kali (dan diulang lagi), serta hayya 'alash shalah dan hayya 'alal falah masing-masing dua kali. Hadits ini menjadi dalil utama tentang sifat (bentuk) adzan dan menunjukkan bahwa adzan adalah ibadah yang tidak boleh dikarang sendiri, melainkan harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an yang berkaitan dengan seruan shalat:
QS. Al-Ma'idah [5]: 58
﴿وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُونَ﴾
Terjemahan: "Dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk shalat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu karena mereka adalah kaum yang tidak mengerti."
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab Shalat, Bab Sifat Adzan, dari sahabat Abu Mahdzurah radhiyallahu 'anhu. Imam An-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini adalah salah satu pokok dalam bab lafazh adzan, dan para ulama menjadikannya rujukan dalam menetapkan jumlah pengulangan kalimat adzan.
Penjelasan Rinci
1. Kedudukan hadits ini dalam fiqih adzan
Imam An-Nawawi rahimahullah dalam Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim menerangkan bahwa hadits Abu Mahdzurah ini termasuk hadits pokok tentang sifat adzan. Para ulama berbeda pendapat dalam beberapa rincian, namun hadits ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ mengajarkan langsung lafazh adzan kepada Abu Mahdzurah, sehingga adzan bersifat tauqifiyyah (harus mengikuti dalil, tidak boleh dibuat-buat).
2. Rincian lafazh dalam hadits ini
Berdasarkan hadits ini:
- Takbir ("Allahu Akbar") — dua kali
- Syahadat tauhid ("Asyhadu an laa ilaha illallah") — dua kali, lalu diulang lagi dua kali
- Syahadat risalah ("Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah") — dua kali, lalu diulang lagi dua kali
- Hayya 'alash shalah — dua kali
- Hayya 'alal falah — dua kali
- Ditutup dengan takbir dan tahlil ("Laa ilaha illallah") menurut riwayat Ishaq
3. Bagaimana ulama memahami pengulangan syahadat
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa pengulangan syahadat dalam adzan ini dipahami sebagai bagian dari sifat adzan yang diajarkan Nabi ﷺ. Sebagian ulama memahaminya sebagai tarji' (mengulang syahadat dengan suara rendah lalu mengangkat suara), sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat lain tentang adzan Abu Mahdzurah. Ini menunjukkan keluasan dan keindahan syariat, di mana adzan menegaskan dua kalimat syahadat yang merupakan inti agama.
4. Perbedaan pendapat ulama dalam daftar
Di antara ulama yang tercantum:
- Imam Asy-Syafi'i dan Imam Ahmad bin Hanbal berpegang pada hadits Abu Mahdzurah ini dalam menetapkan lafazh adzan, termasuk pengulangan syahadat.
- Imam Abu Hanifah memiliki rincian berbeda dalam jumlah pengulangan sebagian kalimat, namun tetap menjadikan adzan sebagai ibadah tauqifiyyah.
- Imam Malik bin Anas juga menetapkan adzan berdasarkan riwayat yang shahih, dengan rincian yang beliau rajihkan.
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari dan Ibn Rajab al-Hanbali dalam kitabnya menegaskan bahwa perbedaan ini adalah perbedaan tanawwu' (variasi) dalam riwayat, bukan pertentangan yang membatalkan. Yang terpenting adalah mengikuti salah satu riwayat shahih yang diajarkan Nabi ﷺ.
5. Hikmah pengulangan
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Zadul Ma'ad menjelaskan bahwa adzan disusun dengan pengulangan agar maknanya meresap ke dalam hati pendengar. Kalimat tauhid dan risalah diulang-ulang karena keduanya adalah pondasi agama. Seruan "hayya 'alash shalah" dan "hayya 'alal falah" diulang agar manusia bergegas menuju shalat dan keberuntungan, meninggalkan kesibukan dunia.
Story Telling
Dikisahkan bahwa Abu Mahdzurah radhiyallahu 'anhu — seorang pemuda dari Bani Jumah — pada awalnya ikut mengejek dan menirukan adzan Nabi ﷺ bersama kawan-kawannya. Ketika Nabi ﷺ mendengar suaranya yang lantang dan indah, beliau memanggilnya, mengusap kepalanya, dan mengajarinya adzan secara langsung. Sejak saat itu, Abu Mahdzurah menjadi muadzin di Masjidil Haram dan mengajarkan adzan kepada generasi setelahnya.
Imam An-Nawawi menyebutkan kisah ini dalam Syarh Shahih Muslim sebagai pelajaran bahwa hidayah bisa datang kepada siapa saja, bahkan kepada orang yang awalnya mengejek. Nabi ﷺ tidak menghardik, tetapi justru mendidik dan mengangkatnya menjadi muadzin. Inilah akhlak Nabi ﷺ: lembut, memaafkan, dan melihat potensi kebaikan pada setiap orang.
Kesimpulan Praktis
- Adzan adalah ibadah tauqifiyyah — lafazhnya harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, tidak boleh dikurangi atau ditambah sesuka hati.
- Hafalkan dan pahami lafazh adzan sesuai riwayat shahih, termasuk pengulangan syahadat sebagaimana dalam hadits Abu Mahdzurah.
- Saat mendengar adzan, jawablah dengan kalimat yang sama (kecuali pada "hayya 'alash shalah" dan "hayya 'alal falah", dijawab dengan "laa haula wa laa quwwata illa billah"), lalu berdoa setelahnya.
- Teladani akhlak Nabi ﷺ dalam mendidik: lembut, tidak menghakimi, dan mengarahkan dengan kasih sayang.
- Hormati perbedaan riwayat di antara madzhab dalam rincian lafazh adzan, karena semuanya bersumber dari riwayat shahih dan merupakan tanawwu' yang dibolehkan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.