Penjelasan AI

Penjelasan Hadits Muslim No. 36 tentang Malu adalah bagian dari iman

Lihat teks hadits

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengajarkan bahwa sifat malu (al-haya') adalah bagian dari iman seorang muslim. Malu bukanlah kelemahan, melainkan akhlak mulia yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan buruk dan melakukan kebaikan. Hadits ini juga menunjukkan bahwa sifat malu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dalam Islam, bahkan disebut sebagai cabang iman.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Teks hadits yang disampaikan dalam pertanyaan adalah riwayat dari Sufyan bin 'Uyainah, dari Az-Zuhri, dari Salim, dari ayahnya (Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma), bahwa Nabi ﷺ mendengar seseorang yang menasihati saudaranya tentang sifat malu, maka beliau bersabda:

"الْحَيَاءُ مِنَ الإِيمَانِ"

Artinya: "Malu adalah bagian dari iman." (HR. Muslim, Kitab Iman, Bab Penjelasan Jumlah Cabang Iman, no. 36)

Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:

Allah Ta'ala berfirman:

فَلَمَّا جَاءَهُۥ مُوسَىٰ بِٱلْبَيِّنَٰتِ قَالَ مَا هَٰذَآ إِلَّا سِحْرٌ مُّفْتَرًى وَمَآ أَتَىٰ بِهِۦ مِنْ ءَابَآئِنَا ٱلْأَوَّلِينَ

"Maka tatkala Musa datang kepada mereka dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami, mereka berkata: 'Ini adalah sihir yang dibuat-buat. Dan kami tidak pernah mendengar hal ini dari nenek moyang kami dahulu.'" (QS. Al-Qashash [28]: 36)

Ayat ini menunjukkan bahwa orang-orang yang tidak memiliki rasa malu akan dengan mudah mengingkari kebenaran dan melakukan kezaliman. Sifat malu menghalangi seseorang dari perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji.

Kaitan dengan Ulama:

Imam An-Nawawi rahimahullah dalam kitab Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan keutamaan sifat malu dan bahwa ia termasuk cabang iman. Beliau menukil perkataan para ulama bahwa malu adalah akhlak yang mendorong pelakunya untuk meninggalkan hal-hal yang buruk dan menjaga diri dari hal-hal yang tercela.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan makna hadits ini dengan beberapa penjelasan penting:

1. Makna Malu (Al-Haya')

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitabnya Madarijus Salikin menjelaskan bahwa malu adalah sifat yang mendorong seseorang untuk menjauhi perbuatan buruk dan menjaga kehormatan dirinya. Malu adalah akhlak mulia yang lahir dari kesadaran bahwa Allah Ta'ala senantiasa mengawasi hamba-Nya.

2. Malu sebagai Cabang Iman

Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda:

"الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ"

"Iman memiliki lebih dari tujuh puluh cabang. Yang paling utama adalah ucapan La ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang iman." (HR. Muslim)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa malu termasuk cabang iman karena ia mendorong seseorang untuk melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Orang yang memiliki rasa malu kepada Allah akan menjaga dirinya dari perbuatan dosa.

3. Malu Bukanlah Kelemahan

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan bahwa malu yang terpuji adalah malu yang mendorong seseorang kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan. Adapun malu yang tercela adalah malu yang menghalangi seseorang dari menuntut ilmu atau melakukan kewajiban.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata bahwa malu yang terpuji adalah yang sesuai dengan syariat, yaitu malu yang mendorong seseorang untuk melakukan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.

4. Kisah dalam Hadits

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Nabi ﷺ mendengar seseorang menasihati saudaranya yang terlalu pemalu hingga dianggap sebagai kelemahan. Maka Nabi ﷺ membantah anggapan tersebut dengan bersabda bahwa malu adalah bagian dari iman. Ini menunjukkan bahwa malu bukanlah aib, melainkan kemuliaan.

Story Telling

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ"

"Malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan." (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain, disebutkan bahwa Nabi ﷺ lebih pemalu daripada gadis yang dipingit. Jika beliau melihat sesuatu yang tidak disukai, maka hal itu dapat diketahui dari raut wajahnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Kisah ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ adalah teladan terbaik dalam sifat malu. Beliau memiliki rasa malu yang sangat tinggi, namun hal itu tidak menghalangi beliau untuk menegakkan kebenaran dan menyampaikan risalah.

Imam Al-Awza'i rahimahullah berkata: "Dahulu dikatakan bahwa malu adalah bagian dari iman, dan orang yang tidak memiliki rasa malu, maka ia tidak memiliki iman yang sempurna."

Kesimpulan Praktis

  1. Menjaga sifat malu dalam segala keadaan, baik kepada Allah maupun kepada sesama manusia.
  2. Malu kepada Allah dengan cara meninggalkan maksiat dan menjalankan perintah-Nya.
  3. Malu kepada sesama manusia dengan tidak melakukan perbuatan yang dapat menyakiti atau merendahkan orang lain.
  4. Tidak menganggap malu sebagai kelemahan, karena malu yang sesuai syariat adalah kemuliaan.
  5. Meneladani Nabi ﷺ yang merupakan manusia paling pemalu, namun tetap tegas dalam kebenaran.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.