Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan bahwa iman itu tidak tunggal, melainkan terdiri dari banyak cabang—lebih dari tujuh puluh—dan salah satu cabang yang paling penting adalah al-haya' (rasa malu). Ini menunjukkan bahwa setiap amal saleh, akhlak mulia, dan keyakinan hati adalah bagian dari iman, dan malu adalah sifat yang sangat dicintai Allah karena mencegah seorang mukmin dari perbuatan buruk.
Rujukan Ulama & Dalil
Dalil Hadits:
Teks Arab lengkap dengan harakat:
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ شُعْبَةً، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ».
Terjemahan: “Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Muslim, no. 35; diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Penjelasan Ulama dari Daftar:
- Imam an-Nawawi (w. 676 H) dalam Syarh Shahih Muslim (2/84) menegaskan bahwa “bidh’un wa sab’una” artinya “lebih dari tujuh puluh sampai delapan puluh”, dan beliau mengutip riwayat lain dengan lafaz “tujuh puluh tiga cabang” (HR. Bukhari dalam riwayat lain).
- Ibnu Hajar al-‘Asqalani (w. 852 H) dalam Fath al-Bari (1/61-62) menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang bilangan pasti cabang iman, tetapi intinya iman mencakup keyakinan hati, perkataan lisan, dan amalan anggota badan. Beliau juga menukil perkataan Imam Ahmad bin Hanbal bahwa malu adalah sifat yang mendorong ketaatan dan menjauhkan maksiat.
- Ibnu Rajab al-Hanbali (w. 795 H) dalam Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam (1/179-180) menjelaskan bahwa malu termasuk cabang iman yang paling utama karena ia menghalangi seseorang dari perbuatan keji dan mencegahnya dari melanggar batasan Allah.
Penjelasan Rinci
1. Makna “Iman Memiliki Lebih dari Tujuh Puluh Cabang”
Hadits ini menunjukkan bahwa hakikat iman bukan sekadar pengakuan dalam hati, melainkan terdiri dari banyak bagian. Imam al-Bukhari (w. 256 H) dalam kitabnya al-Jami’ ash-Shahih (Kitab al-Iman) membagi cabang-cabang iman menjadi tiga kategori besar:
- Amalan hati (keyakinan, niat, cinta, takut, tawakal, dll.)
- Amalan lisan (membaca Al-Qur’an, dzikir, berdoa, amar ma’ruf nahi munkar, dll.)
- Amalan anggota badan (shalat, puasa, haji, sedekah, berbuat baik kepada tetangga, dll.)
Ibnu Katsir (w. 774 H) dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (1/35) ketika menafsirkan QS. Al-Baqarah [2]: 285 menegaskan bahwa iman adalah membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan. Hadits ini menjadi dalil bahwa setiap amal saleh adalah bagian dari iman, bukan sekadar tanda iman.
Qatadah bin Di’amah (w. 117 H) berkata: “Iman itu memiliki cabang-cabang; barangsiapa meninggalkan satu cabang, maka ia telah mengurangi keimanannya.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, dan dinukil oleh Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari).
2. Kedudukan Malu sebagai Cabang Iman
Al-Hasan al-Bashri (w. 110 H) berkata: “Malu adalah bagian dari iman, dan malu itu ada dua: malu kepada Allah dan malu kepada manusia. Malu kepada Allah adalah engkau menjaga diri dari perbuatan yang dibenci-Nya, dan malu kepada manusia adalah engkau menjaga diri dari perkataan dan perbuatan yang buruk di hadapan mereka.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman).
Imam al-Bukhari (w. 256 H) dalam kitab al-Adab al-Mufrad (no. 597) meriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya malu itu tidak mendatangkan kebaikan.” Dalam riwayat lain, beliau bersabda: “Malu itu seluruhnya baik.” Para ulama mengkompromikan dua hadits ini dengan penjelasan bahwa malu yang menghalangi dari ketaatan atau mencegah dari menuntut ilmu adalah buruk, sedangkan malu yang mencegah dari maksiat dan mendorong kebaikan adalah baik.
Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Sallam (w. 224 H) berkata: “Malu adalah sifat yang mendorong seseorang untuk meninggalkan segala yang buruk dan menjaga kehormatan. Karena itu, ia termasuk cabang iman, sebab iman mendorong kepada akhlak mulia.”
3. Perbedaan Pendapat Mengenai Jumlah Pasti Cabang Iman
Ibnu Hajar menjelaskan bahwa dalam riwayat lain (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah) disebutkan “tujuh puluh tiga cabang”, sementara dalam riwayat lain “tujuh puluh tujuh cabang”. Namun, beliau menegaskan bahwa perbedaan ini tidak bertentangan, karena semua riwayat menunjukkan jumlah yang banyak, bukan angka pasti yang harus dihitung. Imam an-Nawawi berkata: “Yang dimaksud adalah menunjukkan banyaknya amalan yang dinamakan iman, dan malu adalah salah satu yang paling penting di antaranya.”
Story Telling
Kisah dari Salaf – Tentang Malu yang Mencegah Maksiat
Diriwayatkan dari Sa’id bin al-Musayyib (w. 94 H), salah seorang tabi’in besar, bahwa ada seorang lelaki yang hendak mencuri di malam hari. Ketika ia memasuki rumah seseorang, ia mendengar tuan rumah berdoa: “Ya Allah, aku malu kepada-Mu jika aku melanggar batasan-Mu dalam kegelapan malam ini.” Lelaki itu pun berhenti dan berkata: “Ia malu kepada Allah, sedangkan aku tidak malu?” Akhirnya ia bertobat dan tidak jadi mencuri.
Kisah ini menunjukkan bahwa rasa malu kepada Allah menjadi penghalang terbesar dari perbuatan dosa. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Malu adalah sebagian dari iman.” Maka, seorang mukmin yang benar-benar beriman akan memiliki rasa malu yang kuat kepada Allah, sehingga ia menjaga dirinya dari segala larangan-Nya. (Sumber kisah ini disebutkan oleh Ibnu Qayyim al-Jawziyyah dalam Madarij as-Salikin 2/267, beliau meriwayatkannya dari jalur Sa’id bin al-Musayyib).
Kesimpulan Praktis
- Menyadari bahwa iman itu bertingkat-tingkat: Setiap amal saleh, baik hati, lisan, maupun anggota badan, adalah bagian dari iman. Semakin banyak cabang yang diamalkan, semakin sempurna keimanan seseorang.
- Menumbuhkan rasa malu kepada Allah: Rasa mali ini akan mencegah kita dari berbuat maksiat, baik di tempat sepi maupun ramai, karena kita yakin Allah Maha Melihat.
- Menghidupkan amal-amal cabang iman: Seperti memperbanyak dzikir, qiyamul lail, sedekah, menjenguk orang sakit, menyebarkan salam, dan lain-lain.
- Menghindari malu yang tercela: Jangan sampai malu menghalangi kita dari menuntut ilmu, bertanya tentang agama, atau menegakkan amar ma’ruf nahi munkar ketika diperlukan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur’an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.