Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini adalah salah satu dalil terbesar tentang wajibnya memuliakan para Sahabat Nabi ﷺ dan haramnya mencela mereka. Aisyah radhiyallahu 'anha mengingatkan bahwa Allah memerintahkan kita untuk mendoakan ampunan bagi para sahabat, namun sebagian orang justru menyalahgunakan perintah tersebut dengan mencaci mereka. Ini menunjukkan bahwa mencela sahabat adalah perbuatan yang sangat tercela dan menyelisihi Al-Qur'an.
Rujukan Ulama & Dalil
1. Dalil dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
"Dan orang-orang yang datang setelah mereka (Muhajirin dan Anshar) berdoa: 'Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tempatkan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.'" (QS. Al-Hasyr [59]: 10)
Ayat ini adalah dalil bahwa Allah memerintahkan generasi setelah sahabat untuk mendoakan ampunan bagi mereka. Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menunjukkan keutamaan para sahabat dan bahwa orang-orang yang datang setelah mereka diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi mereka serta tidak memiliki kedengkian di hati terhadap mereka.
2. Hadits terkait:
Hadits yang sedang kita bahas diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari Hisyam bin 'Urwah dari ayahnya ('Urwah bin Az-Zubair) bahwa Aisyah radhiyallahu 'anha berkata.
Juga terdapat hadits serupa dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا أَدْرَكَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
"Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya salah seorang dari kalian berinfak emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan mencapai (pahala) satu mud (sekitar 0,6 kg) atau setengah mud infak salah seorang dari mereka." (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Penjelasan Rinci
Para ulama Ahlus Sunnah menjadikan hadits ini sebagai salah satu dalil tentang kedudukan para sahabat dan larangan mencela mereka. Mari kita pahami beberapa poin penting:
1. Makna perkataan Aisyah radhiyallahu 'anha:
Aisyah berkata: "Umiru an yastaghfiru li ashhabil an-Nabiyyi ﷺ" — artinya: "Mereka (umat Islam) diperintahkan untuk memohonkan ampunan bagi para sahabat Nabi ﷺ." Ini merujuk kepada firman Allah dalam QS. Al-Hasyr ayat 10 di atas. Kemudian beliau berkata: "fa sabbuhum" — "tetapi mereka justru mencaci mereka." Maksudnya, sebagian orang yang mengaku muslim justru melakukan kebalikan dari perintah Allah. Mereka tidak mendoakan kebaikan, tetapi malah mencela dan mencaci para sahabat.
2. Kedudukan para sahabat menurut Ahlus Sunnah:
Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata tentang hukum mencela sahabat: "Tidak halal bagi seseorang untuk menyebutkan sesuatu yang buruk tentang mereka, dan siapa yang mencela salah seorang sahabat Nabi ﷺ, maka dia telah menyelisihi Allah dan Rasul-Nya."
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah menjelaskan bahwa mencela para sahabat termasuk perbuatan yang diharamkan, dan pelakunya berhak mendapat hukuman. Beliau menegaskan bahwa para sahabat adalah sebaik-baik generasi umat ini, dan Allah telah meridhai mereka serta mereka meridhai Allah.
3. Mengapa mencela sahabat sangat berbahaya?
Karena para sahabat adalah perantara sampainya Al-Qur'an dan Sunnah kepada kita. Mereka adalah generasi yang menyaksikan turunnya wahyu dan mengambil langsung dari Rasulullah ﷺ. Jika kita meragukan atau mencela mereka, maka otomatis kita meragukan sumber agama kita sendiri. Imam Malik rahimahullah berkata: "Barangsiapa mencela para sahabat, maka tidak ada bagian baginya dalam Islam."
4. Sikap yang benar terhadap para sahabat:
Imam Al-Bukhari rahimahullah meriwayatkan dalam Shahih-nya bahwa para ulama salaf biasa mendoakan kebaikan bagi para sahabat dalam setiap kesempatan. Ini adalah pengamalan langsung dari perintah Allah dalam QS. Al-Hasyr ayat 10.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa suatu hari Hisyam bin 'Urwah — yang meriwayatkan hadits ini dari ayahnya — berada di majelis bersama para ulama. Tiba-tiba ada seseorang yang mulai berbicara buruk tentang para sahabat. Hisyam bin 'Urwah langsung menegurnya dan berkata: "Aku mendengar ayahku ('Urwah bin Az-Zubair) menceritakan dari bibiku (Aisyah radhiyallahu 'anha) bahwa beliau berkata: 'Mereka diperintahkan untuk memohonkan ampun bagi para sahabat Nabi ﷺ, tetapi mereka justru mencaci mereka.'" Maka orang itu terdiam dan tidak mampu menjawab.
Kisah ini menunjukkan bagaimana para ulama salaf sangat menjaga lisan mereka dari mencela para sahabat, dan mereka mengingatkan siapa saja yang berani melakukannya.
Kesimpulan Praktis
- Wajib mencintai dan memuliakan semua sahabat Nabi ﷺ tanpa kecuali, karena mereka adalah generasi terbaik umat ini.
- Haram mencela atau merendahkan para sahabat, karena hal ini menyelisihi perintah Allah dan Rasul-Nya.
- Biasakan mendoakan ampunan bagi para sahabat, sebagaimana diajarkan dalam QS. Al-Hasyr ayat 10.
- Jangan ikut-ikutan membicarakan perselisihan yang terjadi di antara sahabat, karena itu bukan urusan kita dan bisa menjerumuskan kita pada perbuatan haram.
- Ambil pelajaran dari para sahabat dalam hal keimanan, pengorbanan, dan kecintaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.