Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan keutamaan besar umat Islam dan kesempurnaan agama mereka. Ketika seorang Yahudi mendengar ayat terakhir yang turun, ia iri dan berkata bahwa jika ayat itu turun kepada mereka, mereka akan menjadikan hari turunnya sebagai hari raya. Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu menjawab dengan tegas bahwa beliau mengetahui persis waktu dan tempat turunnya ayat tersebut, yaitu pada hari Arafah ketika Rasulullah ﷺ sedang wukuf di Arafah. Ini menunjukkan bahwa kesempurnaan agama Islam adalah nikmat terbesar yang Allah berikan kepada umat ini.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman dalam QS. Al-Ma'idah [5]: 3:
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
"Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agamamu."
Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari Tariq bin Syihab radhiyallahu 'anhu. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ayat ini turun pada hari Jumat di Arafah, sebagaimana disebutkan dalam Shahih al-Bukhari dari Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.
Kaitan dengan Ulama:
Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini adalah ayat terakhir yang turun secara utuh, dan turunnya di hari Arafah pada Haji Wada'. Syaikh Abdurrahman as-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa kesempurnaan agama ini mencakup kesempurnaan aqidah, syariat, dan akhlak.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan beberapa pelajaran penting dari hadits ini:
1. Keutamaan Ayat Ini dan Waktu Turunnya
Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menyebutkan bahwa ayat ini turun pada hari Jumat, bertepatan dengan hari Arafah, di tahun Haji Wada' (10 Hijriah). Ini adalah puncak kesempurnaan Islam, di mana Allah mengabarkan bahwa agama-Nya telah sempurna dan nikmat-Nya telah lengkap.
2. Sikap Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu
Umar radhiyallahu 'anhu menjawab orang Yahudi itu dengan penuh keyakinan dan kebanggaan. Beliau tidak hanya tahu bahwa ayat itu turun di Arafah, tetapi juga tahu hari dan tempat persisnya Rasulullah ﷺ saat itu. Ini menunjukkan perhatian besar para sahabat terhadap wahyu dan kecintaan mereka kepada Rasulullah ﷺ.
3. Pelajaran dari Perkataan Orang Yahudi
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa perkataan orang Yahudi itu sebenarnya mengandung pengakuan akan keagungan ayat ini. Namun mereka tidak mendapat hidayah untuk menerimanya. Ini mengingatkan kita akan pentingnya bersyukur atas nikmat Islam yang sempurna ini.
4. Makna Kesempurnaan Agama
Imam as-Sa'di rahimahullah menjelaskan bahwa kesempurnaan agama Islam mencakup:
- Sempurnanya aqidah yang bersih dari syirik
- Sempurnanya ibadah yang sesuai tuntunan Nabi ﷺ
- Sempurnanya muamalah yang adil dan penuh rahmat
- Sempurnanya akhlak yang mulia
Story Telling
Diriwayatkan bahwa ketika ayat ini turun, sebagian sahabat menangis. Mereka khawatir karena ayat ini mengisyaratkan bahwa tugas Rasulullah ﷺ telah selesai dan ajal beliau sudah dekat. Benarlah dugaan mereka, tidak lama setelah itu Rasulullah ﷺ wafat.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menyebutkan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang ayat terakhir yang turun. Ada yang mengatakan ayat ini, ada yang mengatakan ayat tentang riba, dan ada pendapat lainnya. Namun yang masyhur, ayat ini adalah ayat terakhir yang turun secara utuh, dan setelahnya turun beberapa ayat yang menjelaskan hukum-hukum tertentu.
Kesimpulan Praktis
- Bersyukurlah atas nikmat Islam - Kita harus menyadari bahwa Islam adalah nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita.
- Pelajari dan amalkan agama ini dengan sempurna - Karena Allah telah menyempurnakannya, kita wajib menerimanya secara utuh tanpa mengurangi atau menambah.
- Bangga dengan identitas keislaman - Sebagaimana Umar radhiyallahu 'anhu bangga dengan ayat ini, kita pun harus bangga dengan agama kita.
- Meneladani perhatian sahabat terhadap wahyu - Mereka sangat memperhatikan setiap ayat yang turun, hendaknya kita pun demikian dalam mempelajari Al-Qur'an.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.