Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini menceritakan bagaimana Bani Israil diperintahkan Allah untuk masuk ke pintu (Baitul Maqdis) dengan sujud dan mengucapkan "حِطَّةٌ" (memohon ampunan), namun mereka mengubah perintah itu: masuk dengan merangkak di atas pantat mereka dan mengganti ucapan menjadi "حَبَّةٌ فِي شَعَرَةٍ" (biji di rambut). Ini pelajaran tentang bahaya mengubah perintah agama dan meremehkan perintah Allah.
Rujukan Ulama & Dalil
Ayat Al-Qur'an terkait:
QS. Al-Baqarah [2]: 58
وَإِذْ قُلْنَا ادْخُلُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ فَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ رَغَدًا وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا وَقُولُوا حِطَّةٌ نَغْفِرْ لَكُمْ خَطَايَاكُمْ ۚ وَسَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ
Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman: 'Masuklah ke negeri ini, maka makanlah dari (hasil bumi)-nya dengan leluasa di mana saja kamu suka, dan masuklah ke pintu itu dengan sujud, serta ucapkanlah: حِطَّةٌ (ampunilah dosa kami), niscaya Kami ampuni dosa-dosamu. Dan Kami akan menambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik."
QS. Al-A'raf [7]: 161
وَإِذْ قِيلَ لَهُمُ اسْكُنُوا هَٰذِهِ الْقَرْيَةَ وَكُلُوا مِنْهَا حَيْثُ شِئْتُمْ وَقُولُوا حِطَّةٌ وَادْخُلُوا الْبَابَ سُجَّدًا نَغْفِرْ لَكُمْ خَطِيئَاتِكُمْ ۚ سَنَزِيدُ الْمُحْسِنِينَ
Terjemahan: "Dan (ingatlah) ketika dikatakan kepada mereka: 'Diamlah (tinggallah) di negeri ini dan makanlah dari (hasil bumi)-nya di mana saja kamu suka, dan ucapkanlah: حِطَّةٌ (ampunilah dosa kami), serta masuklah ke pintu itu dengan sujud, niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu. Dan Kami akan menambah (pahala) kepada orang-orang yang berbuat baik.'"
Hadits terkait:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Tafsir, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, melalui jalur Hammam bin Munabbih. Hadits ini juga terdapat dalam Shahih Al-Bukhari dengan makna serupa.
Kaitan dengan ulama:
- Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Bani Israil diperintahkan masuk dengan sujud sebagai bentuk kerendahan hati kepada Allah, dan mengucapkan "حِطَّةٌ" yang berarti memohon penghapusan dosa.
- Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa mereka mengubah perintah dengan mengganti kata dan perbuatan, yang menunjukkan sifat pembangkangan mereka.
- Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bagaimana Bani Israil menentang perintah Allah dengan mengubah ucapan dan perbuatan yang diperintahkan.
Penjelasan Rinci
Makna umum hadits:
Hadits ini menggambarkan peristiwa ketika Allah memerintahkan Bani Israil untuk masuk ke Baitul Maqdis (atau negeri yang dimaksud) setelah mereka keluar dari padang gurun. Perintahnya ada tiga:
- Masuk ke pintu dengan sujud (sebagai bentuk tunduk kepada Allah)
- Mengucapkan "حِطَّةٌ" yang berarti "ampunilah dosa kami" atau "hapuskanlah dosa kami"
- Makan dari hasil bumi dengan leluasa
Namun Bani Israil mengubah perintah tersebut:
- Mereka masuk dengan merangkak di atas pantat mereka (يَزْحَفُونَ عَلَى أَسْتَاهِهِمْ) — bukan sujud seperti yang diperintahkan
- Mereka mengganti ucapan "حِطَّةٌ" menjadi "حَبَّةٌ فِي شَعَرَةٍ" (biji di rambut) — sebuah ejekan dan penghinaan terhadap perintah Allah
Bagaimana ulama memahami hadits ini:
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perbuatan mereka ini adalah bentuk penentangan dan penghinaan terhadap perintah Allah. Mereka tidak hanya mengubah ucapan, tetapi juga mengubah perbuatan. Ini menunjukkan sifat keras kepala dan kesombongan Bani Israil.
Ibnu Hajar al-Asqalani menambahkan bahwa dalam riwayat lain disebutkan mereka masuk dengan cara yang aneh dan mengucapkan kata-kata yang tidak diperintahkan. Ini adalah bentuk istihza' (ejekan) terhadap agama Allah.
Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa hadits ini menjadi dalil tentang haramnya mengubah-ubah syariat Allah, baik dalam ucapan maupun perbuatan. Dan bahwa siapa yang mengubah perintah Allah dengan sengaja, maka dia berhak mendapat hukuman.
Pelajaran penting:
- Bahaya mengubah agama: Bani Israil mengubah perintah Allah dengan mengganti kata dan perbuatan. Ini menunjukkan bahwa mengubah syariat adalah dosa besar.
- Kesombongan adalah penyebab: Mereka tidak mau sujud karena sombong, padahal sujud adalah bentuk ketundukan kepada Allah.
- Ejekan terhadap agama: Mengganti "حِطَّةٌ" dengan "حَبَّةٌ فِي شَعَرَةٍ" adalah bentuk ejekan. Ini menunjukkan hati yang sudah rusak.
- Allah Maha Melihat: Meskipun mereka mengubah perintah, Allah tetap mengetahui dan mencatat perbuatan mereka.
Perbedaan pendapat di antara ulama:
Sebagian ulama seperti Ibnu Katsir dan Ibnu Hajar menyebutkan bahwa peristiwa ini terjadi ketika Bani Israil diperintahkan masuk ke Baitul Maqdis. Sedangkan Imam an-Nawawi menyebutkan bahwa ini adalah salah satu bentuk penyimpangan Bani Israil yang Allah abadikan dalam Al-Qur'an sebagai pelajaran bagi umat Islam.
Pendapat yang paling kuat adalah bahwa peristiwa ini nyata terjadi dan Allah mengabadikannya dalam Al-Qur'an sebagai peringatan agar umat Islam tidak mengikuti jejak Bani Israil dalam mengubah dan meremehkan perintah Allah.
Story Telling
Dikisahkan bahwa setelah Bani Israil keluar dari padang gurun selama 40 tahun, Allah memerintahkan mereka untuk masuk ke Baitul Maqdis. Perintahnya jelas: masuk dengan sujud dan ucapkan "حِطَّةٌ" (ampunilah dosa kami).
Namun, ketika mereka sampai di pintu, mereka tidak mau sujud. Sebaliknya, mereka masuk dengan cara yang aneh — merangkak di atas pantat mereka — sebagai bentuk kesombongan dan penentangan. Dan mereka mengganti ucapan yang diperintahkan dengan kata-kata ejekan: "حَبَّةٌ فِي شَعَرَةٍ" (biji di rambut).
Ibnu Katsir menyebutkan dalam tafsirnya bahwa perbuatan ini adalah bentuk penentangan yang nyata terhadap perintah Allah. Mereka diperintahkan untuk tunduk, tetapi mereka justru sombong. Mereka diperintahkan untuk memohon ampun, tetapi mereka justru mengejek.
Hikmah: Kisah ini mengajarkan kita bahwa mengubah perintah Allah, baik dengan ucapan maupun perbuatan, adalah dosa besar. Dan bahwa kesombongan adalah pintu masuk kepada kemurkaan Allah. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Al-A'raf [7]: 161, mereka diperintahkan untuk masuk dengan sujud dan mengucapkan "حِطَّةٌ", tetapi mereka mengubahnya.
Kesimpulan Praktis
- Jangan mengubah perintah Allah: Baik dalam ucapan maupun perbuatan, kita harus mengikuti apa yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya tanpa menambah atau mengurangi.
- Jauhi kesombongan: Sujud adalah bentuk ketundukan. Jangan sombong untuk sujud kepada Allah, karena kesombongan adalah sifat Iblis.
- Jangan mengejek agama: Mengganti ucapan yang diperintahkan dengan ejekan adalah dosa besar. Jagalah lisan dari mengejek syariat Allah.
- Bertaubatlah dengan sungguh-sungguh: Bani Israil diperintahkan mengucapkan "حِطَّةٌ" (ampunilah dosa kami), tetapi mereka mengejek. Kita harus benar-benar memohon ampun kepada Allah dengan tulus.
- Pelajari sejarah umat terdahulu: Kisah Bani Israil dalam Al-Qur'an adalah pelajaran berharga agar kita tidak mengulangi kesalahan mereka.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.