Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini mengajarkan kita untuk sangat berhati-hati dalam memuji orang lain. Pujian yang berlebihan (al-mad-h) dan menyanjung (ithra') dapat menjadi fitnah bagi yang dipuji, karena bisa menimbulkan ujub (bangga diri), kesombongan, dan membuatnya lalai dari aib-aibnya sendiri. Rasulullah ﷺ mengibaratkan pujian berlebihan itu seperti memotong punggung seseorang, karena bisa menjadi sebab kehancurannya.
Rujukan Ulama & Dalil
Hadits Riwayat Muslim:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq, Bab An-Nahyu 'an al-Mad-hi idza kana fihi ifrath (Larangan Memuji Jika Berlebihan), no. 3001, dari sahabat Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu.
Dalil Pendukung dari Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman:
وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu tidak akan sampai setinggi gunung."
(QS. Al-Isra' [17]: 37)
Ayat ini menunjukkan larangan kesombongan, yang merupakan salah satu akibat buruk dari pujian yang berlebihan.
Penjelasan Ulama:
- Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim (18/124) menjelaskan bahwa makna "memotong punggung" adalah kiasan bagi orang yang dipuji secara berlebihan, karena pujian itu bisa menjadi sebab kehancurannya, sebagaimana orang yang punggungnya dipotong akan hancur dan binasa. Beliau juga menukil kesepakatan ulama tentang bolehnya memuji seseorang jika tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah, dan orang yang dipuji memang dikenal memiliki keutamaan yang disebutkan.
- Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (10/472) saat mensyarah hadits-hadits terkait dalam Shahih Al-Bukhari menjelaskan bahwa pujian yang terpuji adalah pujian yang jujur dan tidak berlebihan, serta tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah bagi yang dipuji.
Penjelasan Rinci
Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung beberapa pelajaran penting:
1. Larangan Memuji Secara Berlebihan (Al-Ifrath fi Al-Mad-hi)
Yang dilarang dalam hadits ini adalah pujian yang berlebihan dan mengandung kebohongan atau melebihi kadar sebenarnya. Adapun memuji seseorang karena kebaikan yang memang ada padanya, dengan tujuan mendorongnya berbuat baik atau meneladankannya, maka hal ini diperbolehkan selama tidak berlebihan.
2. Makna "Memotong Punggung"
Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa ungkapan ini adalah kiasan. Maksudnya, pujian yang berlebihan dapat menghancurkan orang yang dipuji, baik secara agama maupun dunia. Secara agama, bisa menimbulkan ujub dan kesombongan. Secara dunia, bisa membuatnya terlena dan tidak lagi berusaha memperbaiki diri.
3. Kapan Memuji Diperbolehkan?
Para ulama membolehkan memuji dalam beberapa kondisi:
- Ketika seseorang dipuji karena kebaikan yang memang nyata ada padanya
- Jika pujian itu dapat memberikan manfaat, seperti menyemangati dalam kebaikan
- Jika tidak dikhawatirkan menimbulkan fitnah bagi yang dipuji
4. Sikap Orang yang Dipuji
Jika seseorang dipuji dengan pujian yang berlebihan, hendaknya ia bersikap tawadhu' (rendah hati) dan tidak merasa bangga. Ia juga dianjurkan untuk berdoa sebagaimana yang diajarkan Nabi ﷺ, dan mengingatkan orang yang memujinya agar tidak berlebihan.
5. Kisah Sahabat yang Menguatkan
Dalam riwayat lain yang shahih, ketika ada seseorang memuji sahabat lain di hadapan Nabi ﷺ, beliau bersabda:
وَيْحَكَ قَطَعْتَ عُنُقَ صَاحِبِكَ - يَقُولُهُ مِرَارًا - إِنْ كَانَ أَحَدُكُمْ مَادِحًا لَا مَحَالَةَ فَلْيَقُلْ: أَحْسِبُ فُلَانًا وَاللَّهُ حَسِيبُهُ وَلَا أُزَكِّي عَلَى اللَّهِ أَحَدًا
"Celaka engkau, sungguh engkau telah memotong leher sahabatmu" - beliau mengulanginya beberapa kali - "Jika salah seorang dari kalian harus memuji, maka ucapkanlah: 'Aku mengira fulan begini dan begitu - dan Allah yang menilai dia - dan aku tidak mensucikan seorang pun atas nama Allah'."
(HR. Al-Bukhari no. 6062, dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu)
Story Telling
Diriwayatkan dari sahabat Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu, ada seorang laki-laki yang disebut-sebut keutamaannya di hadapan Nabi ﷺ. Lalu ada orang lain yang memujinya secara berlebihan. Maka Nabi ﷺ bersabda dengan nada mengingatkan:
"Celaka engkau, sungguh engkau telah memotong leher sahabatmu." Beliau mengulanginya beberapa kali.
Kemudian beliau memberikan bimbingan yang sangat indah: jika memang harus memuji, ucapkanlah dengan kalimat yang tidak berlebihan, seperti "aku mengira dia begini dan begitu", dan serahkan penilaian yang sebenarnya kepada Allah, karena kita tidak bisa memastikan keadaan hati seseorang.
Kisah ini menunjukkan betapa besar perhatian Nabi ﷺ terhadap keselamatan hati umatnya. Beliau tidak ingin seorang muslim binasa karena pujian yang dilontarkan orang lain kepadanya.
Kesimpulan Praktis
- Hindari memuji secara berlebihan karena dapat menjadi fitnah bagi yang dipuji.
- Jika ingin memuji, pujilah dengan jujur, tidak berlebihan, dan tidak mengandung kebohongan.
- Jika dipuji, jangan merasa bangga dan sombong, tetapi bersikaplah tawadhu' dan ingatlah bahwa Allah lebih mengetahui hakikat diri kita.
- Niatkan pujian untuk kebaikan, seperti mendorong seseorang untuk istiqamah dalam kebaikan, bukan karena kepentingan duniawi.
- Jika dipuji dengan pujian berlebihan, ingatkan dengan lembut orang yang memuji agar tidak berlebihan.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.