Penjelasan Hadits Muslim No. 2997 tentang Kisah Bani Israil yang berubah menjadi tikus

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini mengabarkan tentang hilangnya satu umat dari Bani Israil yang tidak diketahui nasibnya. Nabi ﷺ menyangka bahwa mereka telah diubah (dimusnahkan wujudnya) menjadi tikus, dengan indikasi bahwa tikus tidak mau meminum susu unta tetapi meminum susu kambing. Ini adalah salah satu bentuk mukjizat dan tanda kekuasaan Allah dalam mengubah makhluk-Nya sebagai hukuman. Namun, perlu dipahami bahwa peristiwa metamorfosis (masikh) ini hanya terjadi pada umat terdahulu dan tidak terjadi pada umat Nabi Muhammad ﷺ.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits Riwayat Muslim:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab az-Zuhd wa ar-Raqa'iq, Bab "Firratu al-Fa'r wa annahu Miskh" (Bab Tentang Tikus dan Bahwa Ia adalah Metamorfosis), no. 2997, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Dalil Al-Qur'an tentang Masikh (Metamorfosis):

Allah ﷻ berfirman:

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِينَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِي السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُونُوا قِرَدَةً خَاسِئِينَ

"Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melanggar (perintah) di antara kamu pada hari Sabtu, lalu Kami katakan kepada mereka: 'Jadilah kamu kera yang hina.'"

(QS. Al-Baqarah [2]: 65)

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah mengubah sebagian Bani Israil menjadi kera sebagai hukuman atas pelanggaran mereka. Ini menjadi dasar bahwa peristiwa masikh (perubahan bentuk) benar terjadi di kalangan umat terdahulu.

Penjelasan Ulama:

  • Imam an-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bolehnya menetapkan sesuatu berdasarkan dugaan kuat (ghalabatuzh zhann) dalam perkara dunia, dan bahwa Nabi ﷺ menyampaikan sangkaannya tentang tikus sebagai umat Bani Israil yang diubah.
  • Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari membahas hadits serupa dan menjelaskan bahwa para ulama berbeda pendapat tentang apakah tikus itu berasal dari Bani Israil yang diubah atau bukan, namun yang terkuat adalah apa yang disabdakan Nabi ﷺ sebagai dugaan beliau yang didukung oleh tanda-tanda yang disebutkan.

Penjelasan Rinci

Makna Hadits

Dalam hadits ini, Nabi ﷺ mengabarkan bahwa ada satu kelompok dari Bani Israil yang "hilang" — tidak diketahui ke mana mereka pergi atau apa yang terjadi pada mereka. Kemudian beliau menyampaikan dugaan kuatnya bahwa kelompok tersebut telah diubah menjadi tikus.

Tanda yang disebutkan Nabi ﷺ adalah:

  1. Tikus tidak mau meminum susu unta
  2. Tikus mau meminum susu kambing

Ini menunjukkan bahwa tikus tersebut memiliki "kebiasaan" yang tidak lazim bagi hewan biasa — ia menghindari susu unta yang merupakan hewan yang dimiliki oleh orang Arab, tetapi meminum susu kambing. Ini menjadi petunjuk bahwa tikus tersebut bukan sekadar hewan biasa, melainkan makhluk yang pernah menjadi manusia dari Bani Israil.

Kisah Abu Hurairah dan Ka'b al-Ahbar

Bagian menarik dari hadits ini adalah ketika Abu Hurairah menceritakan hadits ini kepada Ka'b al-Ahbar (seorang ulama Yahudi yang masuk Islam). Ka'b bertanya berulang kali: "Apakah engkau benar-benar mendengarnya dari Rasulullah ﷺ?" Abu Hurairah menjawab: "Ya." Kemudian Abu Hurairah berkata: "Apakah aku membaca Taurat?" — maksudnya, "Apakah aku menukil ini dari Taurat sehingga engkau meragukannya? Aku mendengarnya langsung dari Nabi ﷺ."

Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa Ka'b al-Ahbar bertanya demikian karena ia mengetahui dari Taurat bahwa umat yang diubah itu adalah suatu kelompok tertentu, dan ia ingin memastikan bahwa informasi Nabi ﷺ sesuai dengan apa yang ia ketahui. Namun, jawaban Abu Hurairah menegaskan bahwa sumber berita ini adalah wahyu dari Allah melalui lisan Nabi-Nya, bukan dari kitab-kitab terdahulu.

Pelajaran tentang Masikh (Perubahan Bentuk)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa masikh (perubahan bentuk manusia menjadi hewan) benar terjadi pada umat-umat terdahulu sebagai hukuman dari Allah. Namun, beliau menegaskan bahwa hal ini tidak terjadi pada umat Nabi Muhammad ﷺ, karena Allah telah menjamin keutuhan umat ini dari masikh secara umum berdasarkan hadits-hadits shahih.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa perubahan bentuk yang terjadi pada Bani Israil adalah hukuman yang nyata, bukan sekadar perumpamaan. Allah mengubah mereka menjadi kera dan babi sebagai bentuk azab yang kekal hingga hari kiamat.

Perbedaan Pendapat Ulama

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang apakah tikus benar-benar berasal dari Bani Israil yang diubah:

  1. Pendapat yang membenarkan — berdasarkan zhahir hadits, Nabi ﷺ menyangka demikian dan ini adalah dugaan yang kuat dari seorang yang mendapat wahyu. Ini didukung oleh Imam an-Nawawi dan mayoritas ulama.
  2. Pendapat yang tidak memastikan — sebagian ulama mengatakan bahwa Nabi ﷺ hanya menyampaikan dugaan ("لا أُرَاهَا إِلاَّ الْفَأْرَ" - "aku tidak menyangkanya kecuali tikus"), dan ini bukan kepastian. Namun, dugaan Nabi ﷺ dalam perkara seperti ini tetap memiliki nilai ilmiah yang tinggi.

Yang terkuat adalah pendapat pertama, karena Nabi ﷺ tidak berbicara dengan hawa nafsu, dan dugaan beliau yang didukung tanda-tanda yang jelas menunjukkan kebenaran informasi tersebut.

Story Telling

Diriwayatkan bahwa Imam Muhammad bin Sirin — yang meriwayatkan hadits ini dari Abu Hurairah — adalah seorang ulama tabi'in yang sangat berhati-hati dalam menyampaikan hadits. Beliau dikenal sebagai pribadi yang tidak mudah tertipu oleh perkataan yang tidak jelas sumbernya.

Suatu ketika, ada seseorang yang menceritakan hadits kepada Muhammad bin Sirin, lalu beliau bertanya: "Dari siapa engkau mendengar hadits ini?" Orang itu menjawab dari seseorang, lalu beliau terus menelusuri sanadnya hingga sampai kepada sahabat Nabi ﷺ. Beliau tidak menerima hadits kecuali yang sanadnya bersambung dan perawinya terpercaya.

Ini menunjukkan bahwa para ulama salaf sangat menjaga ilmu hadits. Mereka tidak menerima berita agama kecuali dengan sanad yang shahih, sebagaimana Abu Hurairah menegaskan bahwa ia mendengar langsung dari Rasulullah ﷺ, bukan dari Taurat atau sumber lainnya.

Hikmah dari kisah ini: kita harus menjaga sumber ilmu kita. Jangan mudah menerima perkataan agama tanpa mengetahui sumbernya. Sebagaimana Abu Hurairah menegaskan bahwa ilmunya berasal dari Nabi ﷺ, kita pun harus memastikan bahwa ilmu agama yang kita ambil berasal dari Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih dengan pemahaman para ulama.

Kesimpulan Praktis

  1. Meyakini kekuasaan Allah — Allah mampu mengubah makhluk-Nya dalam bentuk apa pun sebagai hukuman atau pelajaran. Ini memperkuat keimanan kita kepada kekuasaan Allah yang mutlak.
  2. Menjaga sumber ilmu — Sebagaimana Abu Hurairah menegaskan bahwa ia mendengar langsung dari Nabi ﷺ, kita pun harus memastikan sumber ilmu agama kita berasal dari Al-Qur'an dan hadits shahih.
  3. Tidak memastikan perkara ghaib tanpa dalil — Nabi ﷺ menyampaikan dengan redaksi dugaan ("لا أُرَاهَا" - aku tidak menyangkanya), mengajarkan kita untuk tidak memastikan perkara ghaib kecuali dengan dalil yang tegas.
  4. Menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat — Hadits ini tidak perlu diperdebatkan secara berlebihan karena intinya adalah pelajaran tentang kekuasaan Allah dan pentingnya menjaga sumber ilmu.
  5. Bersyukur menjadi umat Nabi Muhammad ﷺ — Umat ini tidak terkena masikh sebagai hukuman, karena Allah telah menjaga umat ini dari hal tersebut.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?