Penjelasan Hadits Muslim No. 2987 tentang Larangan riya dan pamer dalam beramal

Ringkasan Jawaban Singkat

Hadits ini adalah peringatan keras dari Nabi ﷺ tentang bahaya riya' (pamer amal) dan sum'ah (ingin didengar orang). Intinya, siapa yang beramal bukan karena Allah, tetapi untuk dilihat atau didengar manusia, maka Allah akan membongkar niat buruknya di hadapan makhluk pada hari kiamat. Ini adalah ancaman yang sangat serius bagi setiap muslim agar selalu mengikhlaskan amalnya hanya untuk Allah Ta'ala.

Rujukan Ulama & Dalil

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Kitab Az-Zuhd wa Ar-Raqa'iq, Bab "Man Asyraka fi 'Amalihi 'Amalan Ghairullah" (Bab Siapa yang Menyekutukan dalam Amalannya Selain Allah), no. 2987, dari sahabat Jundub bin 'Abdillah Al-'Alaqi radhiyallahu 'anhu.

Teks Hadits (dengan harakat):

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ، قَالَ: سَمِعْتُ جُنْدُبًا الْعَلَقِيَّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "مَنْ يُسَمِّعْ يُسَمِّعِ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يُرَائِي يُرَائِي اللَّهُ بِهِ".

Makna Ringkas: Barangsiapa beramal dengan niat agar didengar orang lain (sum'ah), maka Allah akan memperdengarkan keburukan niatnya kepada makhluk-Nya pada hari kiamat. Dan barangsiapa beramal dengan niat agar dilihat orang lain (riya'), maka Allah akan memperlihatkan keburukan niatnya tersebut kepada makhluk-Nya.

Dalil dari Al-Qur'an yang relevan:

Firman Allah Ta'ala:

فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

"Maka celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat riya'." (QS. Al-Ma'un [107]: 4-6)

Ayat ini dengan tegas mengaitkan riya' dengan kebinasaan, meskipun dilakukan dalam ibadah shalat.

Penjelasan Rinci

Para ulama menjelaskan bahwa hadits ini mengandung dua istilah penting:

  1. Sum'ah (مَنْ يُسَمِّعْ): Yaitu seseorang beramal ibadah dengan niat agar amalnya didengar, dipuji, atau membuat dirinya terkenal karena ibadahnya. Contohnya, memperindah suara bacaan Al-Qur'an agar didengar dan dipuji orang lain, atau memperbanyak dzikir di hadapan orang lain agar dianggap ahli ibadah.
  2. Riya' (مَنْ يُرَائِي): Yaitu seseorang beramal ibadah dengan niat agar amalnya dilihat orang lain, sehingga ia dipuji, dihormati, atau dianggap baik. Ini adalah syirik kecil yang paling dikhawatirkan Nabi ﷺ menimpa umatnya.

Bagaimana Ulama Memahami Hadits Ini:

  • Imam An-Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menjelaskan bahwa makna "يُسَمِّعِ اللَّهُ بِهِ" (Allah akan memperdengarkan) dan "يُرَائِي اللَّهُ بِهِ" (Allah akan memperlihatkan) adalah bahwa Allah akan membongkar niat buruk pelakunya di hadapan manusia pada hari kiamat, lalu Dia akan menghinakannya. Ini adalah balasan yang setimpal (mukafa'ah), karena ia dahulu di dunia ingin dilihat dan didengar manusia, maka di akhirat Allah akan memperlihatkan dan memperdengarkan keburukan niatnya kepada seluruh makhluk sebagai bentuk kehinaan.
  • Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari (saat menjelaskan hadits serupa dalam Shahih Bukhari) menukil perkataan para ulama bahwa hukuman ini bisa juga terjadi di dunia, yaitu Allah akan membuka aib orang tersebut dan membuatnya terhina di hadapan manusia, sebagai balasan atas kesombongan dan keinginannya untuk dipuji.
  • Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam Syarah Riyadhush Shalihin menjelaskan bahwa riya' dan sum'ah adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Keduanya dapat menghapus pahala amal. Beliau mencontohkan, orang yang shalat dengan khusyuk ketika dilihat orang, lalu bermalas-malasan ketika sendirian, maka ini adalah tanda riya'. Amal seperti ini tertolak dan tidak bernilai di sisi Allah.
  • Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa'di dalam tafsirnya menjelaskan bahwa riya' adalah motivator yang merusak amal. Amal yang bercampur riya' bagaikan makanan yang bercampur racun. Ia mungkin terlihat baik di mata manusia, tetapi di sisi Allah ia adalah amal yang rusak dan tidak diterima.

Perbedaan Tingkatan Riya':

Para ulama membagi riya' menjadi dua tingkatan:

  1. Riya' Syirik Akbar: Yaitu riya' dalam pokok keimanan, seperti orang yang beramal untuk dipuji manusia dalam perkara yang seharusnya murni untuk Allah, dan ini bisa mengeluarkan pelakunya dari Islam jika ia menjadikan manusia sebagai satu-satunya tujuan.
  2. Riya' Syirik Asghar: Yaitu riya' yang menimpa amal-amal ibadah kaum muslimin, seperti memperbagus shalat karena ada orang lain. Ini tidak mengeluarkan dari Islam, tetapi menghapus pahala amal yang terkena riya' tersebut. Inilah yang dimaksud dalam hadits ini.

Story Telling

Diriwayatkan dari sahabat yang mulia, Jundub bin 'Abdillah Al-'Alaqi radhiyallahu 'anhu (perawi hadits ini), bahwa ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:

"Barangsiapa ingin dipublikasikan (amalnya), maka Allah akan mempublikasikan (kehinaannya)."

Para ulama menyebutkan bahwa di antara bentuk balasan di dunia adalah Allah membuka aib orang yang beramal karena riya'. Kisah tentang orang-orang yang amalnya sia-sia karena riya' banyak disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits. Salah satunya adalah kisah tentang orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat, yaitu seorang yang berilmu, seorang yang dermawan, dan seorang yang mati syahid. Mereka semua akan diseret ke neraka karena amal mereka tidak ikhlas karena Allah, melainkan untuk mencari popularitas dan pujian manusia. Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Muslim dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu.

Kisah ini menunjukkan bahwa amal yang besar sekalipun, seperti berperang di jalan Allah, menuntut ilmu, dan bersedekah, akan menjadi sia-sia dan membawa pelakunya ke neraka jika diniatkan untuk riya' dan sum'ah. Na'udzu billah min dzalik.

Kesimpulan Praktis

  1. Ikhlas adalah syarat diterimanya amal. Setiap amal ibadah harus murni hanya karena Allah Ta'ala, bukan karena ingin dilihat atau didengar manusia.
  2. Jauhilah riya' dan sum'ah. Keduanya adalah racun yang dapat membinasakan pahala amal kita.
  3. Periksa niat kita sebelum beramal. Sebelum shalat, sedekah, mengaji, atau berdakwah, luruskan niat bahwa semua itu hanyalah untuk mengharap ridha Allah.
  4. Sembunyikan amal kebaikan. Sebagaimana kita berusaha menutupi dosa, kita juga dianjurkan untuk menyembunyikan amal kebaikan agar terhindar dari riya', kecuali jika ada maslahat yang lebih besar seperti menjadi teladan.
  5. Berdoalah selalu untuk keikhlasan. Mohonlah kepada Allah agar dijauhkan dari penyakit riya' dan sum'ah, karena ini adalah penyakit hati yang halus.

Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.

Gratis untuk semua

Yuk, ikut jaga penjelasan AI tetap gratis

Donasi Anda membantu layanan ini terus tersedia untuk siapa saja.

Donasi

Gimana penjelasannya?