Ringkasan Jawaban Singkat
Hadits ini memperingatkan bahwa siapa yang beramal saleh dengan niat agar dipuji manusia (sum'ah) atau pamer (riya'), maka Allah akan membalasnya dengan memperlihatkan hakikat amalnya dan menyingkap keburukan niatnya. Amal yang tidak ikhlas tidak akan diterima dan tidak bernilai di sisi Allah. Ikhlas adalah syarat utama diterimanya amal, sebagaimana ditegaskan oleh para ulama Ahlus Sunnah.
Rujukan Ulama & Dalil
Dalil Al-Qur'an:
QS. Al-Bayyinah [98]: 5
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Terjemahan: "Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan agar mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus."
QS. Al-Kahfi [18]: 110
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
Terjemahan: "Katakanlah: Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya."
Dalil Hadits:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, Kitab az-Zuhd war-Raqa'iq, Bab Man Asyraka fi 'Amalihi Ghaira Allah. Sanadnya: Umar bin Hafsh bin Ghiyats → ayahnya (Hafsh bin Ghiyats) → Ismail bin Sumai' → Muslim al-Bathin → Sa'id bin Jubair → Ibnu Abbas رضي الله عنهما.
Hadits senada juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya dan Imam al-Bukhari secara makna, namun redaksi ini khusus riwayat Imam Muslim.
Penjelasan Rinci
Makna hadits secara bahasa dan istilah:
Kata "سَمَّعَ" (samma'a) berasal dari akar kata yang berarti "mendengar." Dalam konteks hadits ini, maknanya adalah seseorang beramal lalu menyiarkan amalnya kepada orang lain agar didengar dan dipuji. Ini disebut sum'ah (mencari popularitas melalui pendengaran orang).
Kata "رَاءَى" (raa'aa) berasal dari "رُؤْيَة" (melihat). Maknanya adalah seseorang beramal agar dilihat orang lain dan dipuji secara visual. Ini disebut riya' (pamer).
Sabda Nabi ﷺ "سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ" berarti: Allah akan memperdengarkan dan menyingkap hakikat amalnya, sehingga keburukan niatnya tampak. Dan "رَاءَى اللَّهُ بِهِ" berarti: Allah akan memperlihatkan dan menyingkap aibnya di hadapan makhluk.
Pemahaman para ulama dalam daftar:
Imam an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan bahwa hadits ini mengandung ancaman keras bagi orang yang beramal untuk selain Allah. Beliau menyatakan: "Maknanya adalah siapa yang beramal dengan niat agar manusia mendengarnya dan memujinya, maka Allah akan memperdengarkan keburukannya dan menyingkap niat rusaknya di akhirat, sehingga ia menjadi hina di hadapan makhluk."
Ibnu Hajar al-Asqalani dalam Fathul Bari ketika membahas hadits serupa menyebutkan bahwa amal yang tercampur riya' terbagi menjadi beberapa tingkatan: (1) riya' murni yang membatalkan amal seluruhnya, (2) riya' yang menjadi bagian dari niat namun bukan tujuan utama, dan (3) riya' yang muncul setelah amal selesai tanpa disengaja. Tingkatan pertama dan kedua merusak amal, sedangkan yang ketiga tidak membatalkan selama tidak dipertahankan.
Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa siapa yang menjadikan amalnya untuk manusia, maka Allah akan menyerahkan urusannya kepada manusia tersebut, dan ia tidak mendapatkan pahala dari Allah. Beliau juga menukil perkataan Sufyan ats-Tsauri (ulama dalam daftar): "Tidak ada sesuatu yang lebih berat bagiku untuk kuperbaiki daripada niatku, karena niat itu selalu berubah-ubah."
Ibn Qayyim al-Jawziyyah dalam Ighatsat al-Lahfan dan Madarij as-Salikin menjelaskan secara panjang bahwa riya' adalah syirik kecil (syirik ashghar) yang paling tersembunyi. Beliau membagi riya' menjadi beberapa jenis dan menegaskan bahwa obatnya adalah dengan memperbanyak mengingat bahwa hanya Allah yang memberi manfaat dan mudarat, serta merenungkan bahwa pujian manusia tidak akan menambah apa pun di sisi Allah.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di dalam tafsirnya Taisir al-Karim ar-Rahman ketika menafsirkan QS. Al-Kahfi [18]: 110 menjelaskan bahwa syarat diterimanya amal ada dua: (1) ikhlas karena Allah, dan (2) sesuai dengan sunnah Nabi ﷺ. Beliau menegaskan bahwa amal yang tidak ikhlas adalah amal yang sia-sia.
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam Syarh Riyadh ash-Shalihin menjelaskan bahwa hadits ini menunjukkan bahwa balasan itu sesuai dengan jenis amal. Siapa yang beramal untuk dilihat manusia, maka Allah akan memperlihatkan amalnya kepada manusia namun tanpa pahala. Bahkan di akhirat, amal tersebut akan dilemparkan ke wajahnya sebagai bentuk penghinaan.
Perbedaan pendapat di antara ulama daftar:
Sebagian ulama seperti Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar membedakan antara riya' yang membatalkan amal secara total dan riya' yang hanya mengurangi pahala. Sedangkan Ibn Rajab dan Ibn Qayyim lebih menekankan bahwa riya' dalam bentuk apa pun berbahaya dan harus segera diobati dengan taubat. Pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang membedakan tingkatan riya' sebagaimana dijelaskan Ibnu Hajar, karena didukung oleh dalil-dalil lain yang menunjukkan bahwa amal bisa batal atau berkurang pahalanya tergantung kadar riya'nya.
Story Telling
Diriwayatkan bahwa Fudail bin 'Iyadh (ulama dalam daftar) pernah berkata: "Meninggalkan amal karena manusia adalah riya', dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya."
Suatu ketika, seorang lelaki datang kepada Al-Hasan al-Bashri (ulama dalam daftar) dan berkata: "Wahai Abu Sa'id, aku beramal dan aku ingin agar orang lain mengetahui amalku." Al-Hasan al-Bashri menjawab: "Engkau ingin dipuji manusia, sedangkan Allah tidak menerima amal yang dicampuri keinginan untuk dipuji. Perbaikilah niatmu, karena sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali yang murni untuk-Nya."
Kisah ini disebutkan oleh Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jami' al-'Ulum wal-Hikam dan Ibn Qayyim dalam Madarij as-Salikin sebagai peringatan agar seorang hamba senantiasa membersihkan niatnya.
Kesimpulan Praktis
- Perbaiki niat sebelum beramal. Setiap amal saleh harus dimulai dengan niat ikhlas hanya untuk Allah, bukan untuk pujian manusia.
- Waspadai riya' yang tersembunyi. Riya' bisa masuk melalui keinginan agar orang lain tahu amal kita, ingin dipuji, atau ingin dianggap sebagai orang saleh.
- Jangan mencari popularitas melalui ibadah. Jika kita beramal lalu menyiarkannya agar dipuji, maka amal itu akan sia-sia dan Allah akan menyingkap keburukan kita.
- Perbanyak muhasabah (introspeksi). Tanyakan pada diri sendiri: "Untuk siapa aku melakukan ini?" Jika jawabannya bukan murni karena Allah, segera perbaiki.
- Berdoalah agar Allah menjaga keikhlasan. Di antara doa yang diajarkan adalah memohon agar Allah menjauhkan kita dari riya' dan sum'ah.
- Ingatlah bahwa pujian manusia tidak bermanfaat di akhirat. Yang bermanfaat hanyalah amal yang ikhlas dan sesuai sunnah Nabi ﷺ.
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengikuti petunjuk Al-Qur'an, sunnah Nabi ﷺ, dan pemahaman para ulama Ahlus Sunnah.